Kamis, 22 Mei 2014

Sekolah Elit Global Mandiri Cibubur Ibu Rumah Tangga


Biografi Rifa Ariani


Rifa Ariani bisa dibilang nekat tapi cerdas mengamati peluang usaha. Sejak tahun 2003, ia nekat membangun bangunan megah nan mewah dengan biaya 8 miliar rupiah. Usahanya itu tak sia- sia, setelah 8 tahun berjalan, sekolah elitnya diburu oleh para orang tua siswa. Mereka tak kurang dari 1200 siswa belajar di sekolah yang memang mengusung wawasan internasional ini.

Bagaimana caranya?

Perlu diketahui Rifa bukanlah seorang pengusaha sukses sebelumnya. Ia pernah bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Demi keutuhan rumah tangga, Rifa rela keluar dari pekerjaan mapan sebagai pns, memilih menjadi ibu rumah tangga. Namun lama kelamaan rasa gundah dan bosan itu datang menyelimuti hari seorang Rifa Ariani. Dia ingin melakukan sesuatu. Kegiatan lain selain menjadi ibu rumah tangga biasa, dan akhirnya memutuskan berwiraswasta.

Membangun sekolah


Perjalanan karirnya dibilang sudah sangat mapan. Dia telah cukup lama menduduki posisi sebagai auditor pajak, 13 tahun tepatnya, bahkan perempuan kelahiran Bogor 10 Mei 1967 ini sempat ditempatkan di daerah Bandung. Namun sang suami,  Suheriyatmono, agak keberatan saat dirinya dimutasi ke luar kota, dan menginginkan Rifa untuk menjadikan keluarga-nya sebagai propritas utama. Jadilah ia seorang ibu rumah tangga biasa.

Hingga perasaan bosan itu muncul dan keinginan berwiraswasta menjadi solusi baginya. Dia resmi mengakhiri kariernya sebagai auditor pajak di 2003. Tahun 2003, beberapa bulan menjadi ibur rumah tangga, sebuah developer memberikan tawaran untuk membuka sekolah di kawasan elit yang mereka kembangkan. "Dengan modal nekat tawaran itupun saya terima karena saya lihat kedepannya prospeknya bagus," ujarnya, modal nekat.

Putri pasangan Prof. H. Buchari Rahman dan Farida ini tetap melaju terus walau harus dibantu berhutang ke bank. Kisah yang bermula saat Rifa dan suaminya yang membeli rumah di Legenda Wisata Cibubur. Saat itu, dia bersusah payah mencari sekolah bagi M Ghulam Ghazali, Naufal Ariq Muhamad dan Rishad Rizky Muhamad, yang ketika itu masih SD, TK, dan playgroup. Dari ide membangun sekolah untuk anak- anaknya para developer disana ternyata ikut mendukunga jadilah semangatnya semakin berapi- api. Rifa

Ariani awalnya tak pernah bermimpi jika suatu saat kelak dirinya memiliki sekolah dan perguruan tinggi di kawasan perumahan elite.

"Dengan berbagai pertimbangan, saya putuskan mendirikan sekolah umum. Saya pun memiliki gagasan yang mantap untuk mendirikan sekolah nasional plus. Dalam menggeluti bisnis pendidikan ini saya banyak mengecap pahit dan manisnya, termasuk dikritik orang tua, hingga susahnya membayar gaji guru. Bahkan, pernah menggadai rumahnya untuk membayar gaji guru karena jumlah muridnya kala itu masih sedikit," kenang anak rektor di salah satu perguruan tinggi swasta dan guru besar di Universitas Sriwijaya Palembang.

Kayakinan dan optimisme itu begitu kuat dalam diri Rifa Ariani. Tak tangung-tanggung, untuk membangun dua bangunan sekolah empat lantai nan megah, ia telah menghabiskan dana sekitar 8 miliar. Sebuah angka yang sangat fantastis. "Bisnis di dunia pendidikan memang tidak seperti bisnis lainnya. Di bisnsi ini, investasi memang harus dilakukan diawal, untuk tujuan jangka panjang. Hasilnya baru akan terasa setelah bertahun-tahun," papar ibu tiga anak ini.

Modal miliaran belum berhenti berjuang. Mungkin bagi kita akan sedikit belebihan jika melihat angka itu masih harus ditambah hal- hal lain. Dia dihadapakan pada perjuangan mencari siswa yang mau belajar. Di tahun pertaman, sekolah buatannya baru memiliki 180 siswa dari TK dan SD. Baru setelah delapan tahun, sekolah yang bernama Global Mandiri memiliki 1200 siswa. Membutuhkan waktu cukup lama untuk menjadi sukses, dan semua harus dimulai dari nol berapapun modal bisnisnya.

"Memang sih, awalnya saya agak pesimis, takut gagal. Tapi saya teru kuatkan tekad dan tetap optimis bahwa saya pasti bisa. Yang terpenting kerjakan saja. Tidak ada kamus gagal. Secara intens saya lakukan promosi dibantu developer. Selain itu, yang membuat saya optimis, yang namanya uang sekolah itu tidak ada turunnya pasti setiap tahun naik terus," jelas Rifa, bersemangat.

Bisnis sekolah internasional


Bisnis yang dibangun Rifa hanya dalam lima tahun mampu berkembang pesat. Dan di tahun 2005, Sekolah Global Mandiri sudah menemui titik terang. Wanita yang selalu berpenampilan sederhana ini pun sudah tidak mendanai operasional sekolah dari kantongnya pribadi lagi. Kini, sekolahnya sudah semakin maju dan telah dikenal, murid-muridnya tidak hanya mereka yang tinggal di Cibubur, tetapi ada juga yang tinggal di Sunter, Bekasi, Ciputat, Bogor, dan Cibinong.

Memasuki tahun ke delapan, jumlah siswanya telah bertambah menjadi 1200 siswa yang terdiri dari TK, SD, SMP dan SMA. Dijelaskannya setiap tahunnya ada kenaikan siswa sekitar 500 orang. "Yua, karena ini bisnis sekolah, wajarlah jika hasilnya baru bisa dinikmati setelah melewati proses yang cukup panjang," ujarnya. Tak canggung perempuan kelahiran Bogor, 10 Mei 1967 ini pun mengatakan, jika keuntungan berbisnis di dunia pendidikan adalah hasil dari iuran siswa.

Di tahun 2009, iuran siswa disekolah yang dikelolanya sekitar 1,5 juta rupiah per bulan. "Tahun ini, ya sekitar 1,7 juta rupiah untuk SMP dan SMA, sedangkan untuk TK lebih murah sekitar 1,2 juta. Selain itu juga ada uang bangunan kisarannya 24 juta hingga 30 juta," imbuhnya. Untuk proses belajar mengajar ia dibantu oleh 200 guru dan 80 karyawan. Tak hanya berhenti di satu sekolahan, Rifa juga bergerak cepat mengekpansi bisnisnya. Ia sibuk mengakuisisi sekolah- sekolah lain di berbagai penjuru Indonesia dibawah bendera Global Mandiri.

Di dalam menyusun kurikulum, Rifa dibantu para praktisi dan konsultan pendidikan dari Loula Maretta. Kurikulum di sekolahnya merupakan hasil integrasi kurikulum nasional dan kurikulum Cambridge. Metode pengajaran yang digunakan adalah fun active learning dipadukan dengan go green yang menerapkan 4 R, yakni replant, reduce, recycle, dan reuse. Metode tersebut menekankan peran aktif dan partisipasi siswa untuk berani menyampaikan pendapat dan tanggapannya terhadap berbagai materi pelajaran dan informasi yang ada.

Diakui wanita berperawakan mungil ini, dalam proses pendirian sekolah, ia  seorang diri menjadi manajer. Meski begitu ia tak pernah merasa kerepotan. "Justru kalau banyak owner, malah bikin repot," ungkapnya. Soal omset tak segan ia pun berujar, "Ya tinggal dihitung saja 1200 dikali 1,5 juta. Ya segitulah," ujarnya. Wajarlah disekolah yang dibangunnya berbiaya mahal, karena kurikulum yang ditawarkan adalah nasional plus diterapkanya pun berwawasan internasional, kolaborasi kurikulum pendidikan nasional dan Cambridge.

Franchise sekolah


Sukses sekolah Global Mandiri Cibubur, 6 tahun berlalu,  ia pun membuka satu cabang di kawasan Cakung. Bukan hanya itu, di 2001, Rifa telah mempersiapkan franchise sekolahnya yang senilai 2 miliar. "Mudah-mudahan ini bisa cepat terealisasi. Saat ini kami masih dalam proses penyempurnaan system computerized yang terintegrasi. Meski sebenarnya sudah banyak yang ingin membeli," papar lulusan Universitas Sriwijaya Palembang itu.

Dengan kurikulum terintegrasi, franchise bikinannya diyakini akan sukses dipasaran. Selama berbisnis bertahun- tahun, dalam menjalankan bisnisnya, Rifa selalu melakukan excellent service. "Itu kunci sukses di bisnis ini. Jika service nya bagus siswa pasti banyak. Salah satu service yang baik itu, misalnya, setiap kali ada masalah harus diselesaikan dengan cepat. Informasi dan pelayanan yang cepat pun menjadi salah satu service yang selalu kami kedepankan," imbuhnya.

"Dengan mendirikan SGM, saya bisa menjadi ibu rumah tangga sekaligus berbisnis dan memiliki waktu yang banyak dalam mengasuh anak," imbuhnya sambil tersenyum. Gaya kepemimpinan Rifa begitu terasa oleh seluruh karyawannya, bagaimana tidak dari hari ke hari ia  selalu berada di sekolah, terlibat langsung dalam setiap denyut kehidupan sekolahnya, dan sentuhan individualnya ada di setiap sudut sekolah yang fungsional tetapi bersih, hangat atmosfirnya, dengan guru yang jauh dari kesan seram, apalagi menghukum murid.

Website: globalmandiri.com

Sumber: Infomoneter.com

Artikel Terbaru Kami