Rabu, 28 Mei 2014

Sejarah Ayam Bakar Wong Solo Puspo Wardoyo


Profil Puspo Wardoyo


Puspo Wardoyo pernah menjajakan ayam goreng di pinggiran jalan. Memulai dari nol, hidupnya tak jauh dari berurusan dengan ayam, bahkan sejak masih kecil. Orang tuanya adalah penjaja ayam. Puspo kecil telah ikut membantu kedua orang tuanya, menyembelih ayam lalu menjualnya di pasar. Siang sampai malam, ia ikut membantu menjual makanan cepat saji seperti ayam goreng, ayam bakar, dan menu ayam lain. Dia menjual ayam- ayam itu di warung orang tuanya di dekat kampus UNS Solo.

Terinspirasi oleh cerita pedagang bakso yang sukses mengarungi hidup di Medan. Ketika itu pria kelahiran 30 November 1957 itu tengah merintis usaha warung lesehan di Solo selepas mengundurkan diri dari pegawai negeri sipil, suatu saat pedagang bakso asal Solo tersebut bertandang ke tempat Puspo. Pedagang bakso itu bercerita peluang usaha warung makan di Medan sangat bagus. Dalam sehari ia bisa meraup keuntungan bersih di akhir tahun 1990 itu sekitar Rp 300.000. 

Dari keuntungan berjualan bakso dengan gerobak sorong itulah teman Puspo ini bisa pulang menengok kampung halamannya di Solo setiap bulan. "Dengan uang, jarak antara Solo- Medan lebih dekat dibanding Solo- Semarang," kata Puspoyo menirukan ucapan temannya. Wajar saja jika dengan pesawat terbang waktu tempuh antara Medan- Solo berganti pesawat di Jakarta hanya membutuhkan waktu 1 jam. Sementara itu naik bus maka jarak antara Solo- Semarang ditempuh sekitar empat jam.

Cerita sukses itu begitu membenak di hatinya. Seorang penjual bakso yang bisa pulang kampung tiap bulan. Ditambah si penjual bakso ini menggunakan pesawat terbang sebagai alat transportasi. "Saya bertekad bulat akan merantau ke Medan," pikirnya. Untuk mewujudkan tujuannya itu, apa boleh buat, warung makan yang termasuk perintis warung lesehan di kota pusat kebudayaan Jawa itu dijualnya kepada seorang teman.

Merantau di Medan


Uang hasil penjualan yang tak seberapa itu ia manfaatkan untuk membeli tiket bus ke Jakarta. Kenapa memilih ke Jakarta, bukannya Medan. "Karena dengan uang yang saya miliki, bekal saya belum cukup untuk merantau ke Medan, " terangnya. Di tengah perjalanan, suatu hari Puspo membaca lowongan pekerjaan sebagai guru di sebuah perguruan bernama DR Wahidin di Bagan Siapiapi, Sumatera Utara. Apa boleh buat demi mewujudkan cita- citanya sampai di Meda, ia berusaha mengumpulkan modal.

Kali ini dia kembali menjadi guru. Ini seperti pekerjaannya dulu, kala itu, Puspo Wardoyo adalah pegawai negeri dimana ia menjadi staf pengajar mata pelajaran Pendidikan Seni di SMA Negeri Muntilan, Kabupaten Magelang. "Target saya cuma dua tahun menjadi guru lagi," katanya. Di sinilah anak pasangan Sugiman Suki ini ketemu dengan isteri pertamanya Rini Purwanti yang sama-sama menjadi tenaga pengajar di sekolah tersebut.

Dua tahun menjadi guru ia berhasil mengumpulkan tabungan senilai Rp 2.400.000. Dengan uang tak seberapa itu dijadikannya modal untuk menaklukan kota Medan. Keinginan untuk berusaha di kota Medan semakin tak terbendung. Uang tabungan itu sebagian Puspo gunakan untuk menyewa rumah dan membeli sebuah motor Vespa butut. Sisa Rp 700.000 digunakannya sebagai modal membangun warung kaki Lima di bilangan Polonia Medan.

Ia menyewa lahan 4x4 meter persegi seharga Rp.1.000 per- meter. Ada cerita menarik ketika bisnis ini baru saja berjalan. Di warung yang masih sederhana ini, suatu hari, seorang pegawainya mengalami kesulitan. Dia terlibat utang dengan rentenir. Puspo kala itu segera membantu sang pegawai melunasi hutang. Tak disangka si pegawai itu membalas kebaikan Puspo dengan cara yang unik. Ia membawa wartawan sebuah harian lokal Medan.

Si wartawan yang merupakan sahabat suami pegawai yang ditolong Puspo kemudian menuliskan profilnya. Sebuah artikel yang berisi profil Puspo Wardoyo berjudul Sarjana Buka Ayam Bakar Wong Solo.

Artikel itu membawa rezeki bagi warungnya. Esok hari setelah artikel dimuat di koran, banyak orang yang berbondong-bondong mendatangi warung ayam milik Puspo. Siapa sangka jika dari sebuah warung kecil ini kemudian melahirkan sebuah usaha jaringan rumah makan yang cukup kondang di seantero Medan. Impian untuk menaklukkan "jarak" Solo Medan lebih dekat dibanding Solo Semarang pun menjadi kenyataan melebih impian kecilnya untuk sekedar sukses.

Ini adalah sebuah sukses besar. Dari ibu kota Sumatera Utara ini nanti Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo (Wong Solo) melejit ke pentas bisnis nasional. Belakangan ini nama Wong Solo semakin berkibarkibar setelah berhasil menaklukkan Jakarta setelah sebelumnva "mengapung" dari daerah pinggiran. Dalam waktu relatif singkat kehadiran Wong Solo telah merengsek dan menanamkan tonggak- tonggak bisnisnya di pusat kota metropolis ini.

Ekspansinya pun semakin tak tertahankan dengan memasuki berbagai kota besar di penjuru Indonesia. Melalui sistem franchise atau waralaba, dengan mudah Ayam Bakar Wong Solo dijumpai. Fenomena Wong Solo mengundang decak kagum berbagai kalangan dari pejabat pemerintah, para pelaku bisnis hingga para pengamat. Hampir semua outletnya di Jakarta selalu sesak pengunjung, terutama di akhir pekan dan hari- hari libur.

Ayam Bakar Wong Solo


Skala usaha Wong Solo memang belum sekelas para konglomerat yang enteng menyebut angka aset, omset atau keuntungan per tahun yang triliunan rupiah. "usaha saya memang belum kelas triliunan seperti para konglomerat yang kaya utang itu," paparnya merendah. Kendati masih tergolong usaha menengah, namun bisa dibilang kinerja wong Solo sangat solid dan tak punya beban utang. Ia memiliki pondasi kuat untuk terus berkembang.

Untuk mewujudkan mimpinya, ayah sembilan anak dari empat orang istri ini telah melewati rute perjalanan yang berliku lengkap dengan segala tantangannya. Ada masa ketika diawal merintis usaha ketika masih Medan; ia nyaris patah semangat garagara selama berhari-hari tak pernah untung. Hanya berjualan dua atau tiga ekor ayam bakar dan nasi, terkadang dalam satu hari tak seekor pun yang laku terjual. Pernah pula seluruh dagangannya yang telah dimasak di rumah tumpah di tengah jalan karena jalanan licin sehabis hujan.

"Apa boleh buat, saya terpaksa pulang dan memasak lagi," katanya. Istrinya lah yang tak sabar melihat lambannya usaha milik Puspo bahkan sempat memberi tahu ayahnya agar memberitahu ayahnya agar mempengaruhi Puspo supaya tak berjualan ayam bakar lagi. "Mertua saya bilang, kapan kamu akan tobat," katanya menirukan ucapan sang mertua.

Pada awal perantauannya ke Medan, Puspo wardoyo, sama sekali tak menyangka jika usaha warung ayam bakar Wong Solo bisa berkembang sangat pesat. Maklum, rumah makan yang dibukanya saat itu hanyalah sebuah warung berukuran sekitar 3×4 meter di dekat bandara Polonia, Medan. Setahun pertama dia hanya mampu menjual 3 ekor ayam per hari yang dibagibagi menjadi beberapa potong. Harga jual per potongnya Rp 4.500 plus sepiring nasi.

Promosi dari mulut ke mulut membuat warungnya makin terkenal dan sangat efektif. Terlebih ketika seorang wartawan daerah membuat tulisan tentang Wong Solo', makin ramai warungnya. Kisah lain, pernah suatu hari dia kewaalahan memenuhi pesanan pelanggan. Di saat itu tiga ekor ayam jualannya habis, datang pembeli lain yang bersedia menunggu asalkan Puspo mau mencari ayam batu ke pasar. Dia segera saja memenuhi permintaan pelanggan tersebut dengan membeli tiga ekor ayam lagi.

Namun datang lagi pelanggan lain yang juga bersedia menunggu ia mencari ayam ke pasar lagi.

"Seharian itu, hingga larut malam saya pontang panting ke pasar untuk memenuhi permintaan konsumen yang terus berdatangan," kata Puspo mengenang.

Dua tahun telah berlalu dan seorang Puspo segara memperluas warung hingga layak disebut rumah makan. Jiwa seni Wardoyo nampak tergurat pada bentuk bangunan dan penampilannya yang memang cenderung nyleneh. Dalam bentuk bangunan, misalnya, Puspo tak segan- segan mengeluarkan uang cukup besar untuk membayar seorang arsitek guna mewujudkan imajinasinya terhadap suatu bentuk bangunan.

Perpaduan seni dan entrepreneurship juga tertuang dalam pendekatan terhadap konsumen. "Saya berusaha menghafal namanama semua pelanggan saya. Sehingga sewaktu mereka datang saya harus menyambut mereka dengan menyebut namanya," paparnya. Inilah yang disebutnya sebagai "menjadikan pelanggan sebagai saudara". Seiring dengan berkembangnya Wong Solo, Puspo Wardoyo akhirnya membuka kesempatan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk ikut menikmati nilai tambah Wong Solo melalui system waralaba.

Untuk waralaba tersebut, dia telah membuat standarisasi rasa dan gerai (outlet). Jika seseorang membeli waralaba Wong Solo di Jakarta, dipastikan akan sama rasa dan penataan gerainya dengan Wong Solo di pusatnya, Medan atau di tempat lain. Setelah sukses membesarkan Wong Solo, harapan Puspo Wardoyo selanjutnya, dengan sungguh- sungguh dia menyahut, " Ingin terus bekerja keras, kaya raya, banyak istri, dan masuk surga." Sebuah pernyataan kontroversi namun layak diucapkan seorang Puspo Wardoyo yang unik (nyeleneh).

Artikel Terbaru Kami