Senin, 19 Mei 2014

Perjalanan Hidup Bob Sadino Pengusaha Nyentrik


Bob Sadino (lahir 9 Maret 1933), atau akrab dipanggil Om Bob, adalah seorang pengusaha asal Indonesia yang sukses di bidang pangan dan peternakan. Ia dikenal sebagai pemilik jaringan bisnis Kemfood dan Kemchick. Apa yang menjadi berbeda, meski seorang pengusaha besar, Om Bob memiliki ciri khas selalu memakai kemeja lengan pendek dan celana pendek. Dia terlahir dari keluarga mapan, anak bungsu dari lima bersaudara.

Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan karena saudara yang lain sudah dianggap. Tak lama Bob muda langsung menggunakan seluruh warisannya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanan itu, dia singgah di Belanda dan memilih menetap selama 9 tahun. Disana ia bekerja di Djakarta Lylod di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman.

Ketika tinggal di Belanda dia bertemu pasangan hidupnya hingga sekarang, Soelami Soejoed.

Bisnis pertama


Hingga di tahun 1967, Bob dan keluarga baru kembali ke Indonesia. Ia membawa serta dua Mercedes miliknya, buatan tahun 1960-an, salah satunya ia jual. Dari uang tersebut terbelilah sebidang tanah di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, sementara sisinya ia simpan. Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara mandiri. Apa bisnis pertamanya?

Mudah, yang pertama ia lakukan setelah keluar dari perusahaan adalah menyewakan mobil Mercedesnya. Dia sendiri sang sopir. Namun sayang, sebuah kecelakaan membuat mobilnya rusak parah. Om Bob harus rela bekerja kembali. Dia tak mempunyai uang untuk perbaikan sang mobil kesayangan, hingga akhirnya, ia terpaksa menjadi kuli bangunan. Gajinya ketika itu hanya Rp.100. Ia pun sempat mengalami depresi akibat tekanan hidup yang dialaminya.

Suatu hari, seorang teman menyarankan untuk memelihara ayam untuk melawan depresi. Bob tertarik. Untuk menenangkan pikiran, Bob mulai serius mengurus pemberian 50 ekor ayam ras dari kenalannya, Sri Mulyono Herlambang. Dari sini Bob menanjak dengan bisnis ayam petelurnya: Ia berhasil menjadi pemilik tunggal Kem Chicks dan pengusaha perladangan sayur sistem hidroponik beberapa tahun kemudian. Lalu ada Kem Food, pabrik pengolahan daging di Pulogadung, dan sebuah "warung" shaslik di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta.

Catatan awal 1985 menunjukkan, rata-rata per bulan perusahaan Bob menjual 40 sampai 50 ton daging segar, 60 sampai 70 ton daging olahan, dan 100 ton sayuran segar. Ketika berternak itulah semangat kewirausahaan lahir. Dimulai sekedar memperhatikan kehidupan ayam- ayam peliharaan, ia mendapatkan ilham. Bob sadar ayam saja bisa berjuang hidup, tentu manusia juga harus. Sebagai peternak ayam, ia dan istrinya menjual beberapa kilogram telor ayam.

Dalam satu setengah tahun mereka telah memiliki pelanggan. Mereka bahkan memiliki pelanggan orang asing berkat kemampuan berbahasa mereka. Keduanya memang tinggal di kawasan Kemang, Jakarta, dimana banyak orang asing. Tak jarang pasangan tersebut dimaki pelanggan, babu orang asing sekalipun. Namun mereka mengaca pada diri sendiri, memperbaiki pelayanan bisnisnya. Perubahan drastis pun terjadi pada diri Bob Sadino, dari pribadi feodal menjadi pelayan baik.

Setelah itu, lama kelamaan Bob yang berambut perak, menjadi pemilik tunggal dari super market (pasar swalayan) Kem Chicks. Ia akan selalu tampil sederhana dengan kemeja lengan pendek dan celana pendek. Bisnis pasar swalayan ini bertumbuh pesat lalu berkembang merambah bisnis lain. Ia merambah bisnis seperti agribisnis, khususnya holtikutura, mengelola kebun-kebun sayur mayur untuk konsumsi orang asing yang tinggal di Indonesia. Karena itu ia juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah.

Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Ia dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang. Bagainya di saat melakukan sesuatu, pikiran seseorang akan berkembang, rencana itu tidak harus selalu baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang adalah pengembangan dari pengalaman.

Kelemahan banyak orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. "Yang paling penting tindakan," kata Bob.

Anak guru


Kembali ke tahun 1976, setelah bertahun-tahun di Eropa, Bob, anak bungsu dari lima bersaudara, hanya punya satu tekad untuk jadi mandiri. Ayahnya, Sadino, pria Solo yang jadi guru kepala di SMP dan SMA Tanjungkarang, meninggal dunia ketika Bob berusia 19. Modal yang ia bawa dari Eropa hanya dua sedan Mercedes buatan tahun 1960-an. Satu ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Ketika itu, kawasan Kemang masih sepi, hanya terhampar sawah dan kebun.

Sedangkan mobil satunya lagi ditaksikan, Bob sendiri sopirnya. Suatu kali, mobil itu disewakan tapi bukan uang yang kembali, tetapi berita kecelakaan yang menghancurkan mobilnya. "Hati saya ikut hancur," kata Bob. Kehilangan sumber penghasilan satu- satunya lantas menjadikannya seorang kuli bangunan. Padahal, kalau ia mau, istrinya memiliki berpengalaman sebagai sekretaris di luar negeri, bisa menyelamatkan keadaan. Tetapi, Bob bersikeras, "Sayalah kepala keluarga. Saya yang harus mencari nafkah."

Untuk menenangkan pikiran dikala depresi diterimalah pemberian 50 ekor ayam ras dari kenalannya, Sri Mulyono Herlambang. Dari ayam ras itu Bob menanjak menjadi peternak: Ia sukses menjadi pemilik tunggal Kem Chicks dan pengusaha perladangan sayur sistem hidroponik. Ada juga Kem Food, pabrik pengolahan daging di Pulogadung, dan sebuah "warung" shaslik di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta. Tahun 1985, rata- rata per- bulan perusahaan Bob menjual 40- 50 ton daging segar, 60- 70 ton daging olahan, dan 100 ton sayuran segar.

"Saya hidup dari fantasi," kata Bob menggambarkan keberhasilan usahanya. Ayah dua anak ini lalu memberi contoh satu hasil fantasinya, bisa menjual kangkung Rp 1.000 per kilogram. "Di mana pun tidak ada orang jual kangkung dengan harga segitu," kata Bob.

Om Bob begitu panggilan akrab bagi anak buahnya, yang tidak mau bergerak di luar bisnis makanan. Baginya, bidang yang ditekuninya sekarang tidak ada habis-habisnya. Karena itu ia tak ingin berkhayal yang macam-macam. Haji yang berpenampilan nyentrik ini, penggemar berat musik klasik dan jazz. Saat-saat yang paling indah baginya, ketika shalat bersama istri dan dua anaknya.

Artikel Terbaru Kami