Senin, 26 Mei 2014

Es Krim Ragusa Bisnis Kabaikan Berbalas Kebaikan


Profil Hj. Sias Mawarni


Hampir 80 tahun sudah Ragusa membuka bisnis es krimnya. Bukan perkara mudah, mempertahankan bisnis ini seperti melihat getirnya Indonesia. Hj. Sias Mawarni menjadi sosok yang paling penting disini. Dari tangan dinginnya lahir berbagai kelembutan es krim aneka rasa. Sudah hampir 8 dekade Ragusa meski berkonsep sederhana tapi rasa selalu juara. "Konsisten menjaga harga, inovasi produk dan maintain Sumber Daya Manusianya (SDM) adalah kunci dari kesuksan Es Krim Ragusa," ungkap Sias Mawarni.

Acungan jempol untuk Sias karena diusia senjanya masih tetap bersemangat. Wanita yang fasih berbahasa Mandarin ini seseorang yang tak pernah kehabisan energi untuk mencari hal yang baru bahkan sampai ke luar negeri. Belum lama ini, Sias baru saja berkeliling ke Yunani, Shanghai, Hawaii, Amerika Serikat, Kanada, Jepang, Korea dan Hongkong. Tentu saja travelingnya ini bukan sekedar bertamasya, melainkan update pengetahuannya dalam berbisnis.

 "Saya memang banyak belajar dari luar negeri," papar Sias.

Bisnis es krim



Sejak 1972, ia secara resmi menjadi pewaris tahta kejayaan es krim khas Italia, Ragusa. Dimulai dari satu tempat, Sias sukses berekspansi hingga mencapai 22 cabang berbeda di berbagai sudut Jakarta. Maski pasca kerusuhan menyisaan 4 cabang, dirinya tak berhenti. Dia tetap bergeming mempertahankan yang masih ada hingga mampu membiayai 100 anak asuh. Budi pekerti yang baik menjadi modal seorang Sias Mawarni.

Wanita kelahiran Jakarta yang kini berusia 70 tahun, karena kebaikan dalam dirinya itu, pemilik es krim khas Italia,Vizenzo Ragusa, menghibahkan usaha yang dibangun sejak jaman Belanda tahun 1932 kepada Sias. " Di tahun 1972, Mr. Ragusa menghibahkan usaha es krim Ragusa kepada saya dan beliau kembali ke Italia," ucap Sias. Berapa beruntung dirinya dan oleh karena itu pula ia tetap mencoba istiqomah. Baginya berbuat baik kepada orang lain akan berbuah kebaikan.

Tahun ke tahun, es krim Ragusa yang berpusat di Jl. Veteran No 1 Jakarta Pusat pun terus berkembang mengikuti perubahan jaman. Dalam perjalanannya, bahkan Sias bisa mendirikan 22 cabang tanpa pinjaman modal. "Untuk membuka satu cabang, modalnya cukup besar. Dan modal itu saya dapatkan dari hasil penjualan es krim sebelumnya, saat itu barangkali masa-masa kejayaan saya." ungkapnya. Dikatakannya saat itu, omset satu cabang per bulannya saja mencapai 50 juta.

Dan, inilah yang dibuktikan Sias, sebuah realita bisnis tanpa modal. "Modalnya cukup dengan sikap baik kita kepada orang lain. Dan itu yang selalu menjadi prinsip hidup saya. Jika kita berbuat baik pada orang maka orang pun akan baikin kita. Inilah yang terjadi pada saya, saya bisa berbisnis karena diberi hibah, gratis," lanjutnya.

Dampak kerusuhan 1998


Namun musibah tak bisa ditolak. Disaat bisnisnya melejit tinggi dengan 22 cabang di penjuru Jakarta, satu kejadian merubah segalanya. Kerusuhan 1998 telah membuat bisnis es krimnya hancur lebur dan babak belur. Spontan, Sias pun dirundung duka dan rugi besar karena hal itu semua. Tapi dia tak patah semangat, pasca kerusuhan itu ia pun melanjutkan 'puing-puing' bisnisnya yang masih tersisa. Dari empat cabang itu dia mencoba menulis ulang sejarah.

"Tahun 1998, Etnis Tionghoa memang menjadi incaran. Semua cabang bisnis saya hangus terbakar. Kini hanya tersisa empat cabang," kenang ibu tiga anak yang banyak mendedikasikan diri di dunia pendidikan itu. Meski duka itu belum pulih namun hidup tetap harus dilanjutkan. Dengan hanya empat cabang, Sias sukses membuktikan es krim Italia miliknya masih sangat digemari dan tak lekang jaman.

Bahkan kini, ia banyak menyajikan varian rasa dalam es krimnya. Seperti vanilla, durian, coklat dan lain sebagainya. Yang menggoda, adapula spaghetti eskrim, coup de maison, tutti frutti, cassata sicialiana dan banana split. Tak heran jika kini penggemar eskrim Ragusa kaian bertambah. "Dalam sehari di satu cabang, ya diatas 100-an pengunjung, dari kalangan berbecak hingga bermobil, tua dan muda," aku wanita yang telah mempekerjakan lebih dari 50 karyawan ini.

Pernah berpikir waralaba Ragusa? Sempat terpikir dibenaknya untuk mengikuti jejak pengusaha lain. Ia kala itu melihat bagaimana bisnis berbasis waralaba atau franchise begitu maju. Sempat berpikir untuk membuat franchise untuk es krim legendaris miliknya, tapi urung. Sias mengaku dirinya masih trauma pasca kerusuhan 1998 yang membuatnya tepuruk. Tapi tak mau berkecil hati, ia telah menyiapkan es krim Ragusa agar selalu terdepan dan selalu ada yang baru.

"Saya masih trauma dengan kasus penjarahan pada tahun 1998 dimana pada tahun itu 17 gerainya habis akibat penjarahan. Terlebih lagi kondisi perekonomian Indonesia saat ini belum stabil, jadi saya takut hal tersebut terulang lagi. Mungkin ketika kondisi perekonomian sudah stabil Es krim Ragusa akan membuka franchise," jelas Sias.

Untuk mendekatkan diri kepada karyawan Sias punya trik khusus. Ia rela berbagi perjalanan ke luar negeri dengan karyawannya satu per- satu. Dari 30 karyawan itu, tiap ada kesempatan akan bergiliran menemani dirinya bertraveling. Selain dengan karyawan Sias juga sering bertraveling dengan kerabat dan suaminya. Satu hal ini menjadi hobi hingga kini. "Kedekatan kepada karyawan menurut saya merupakan faktor terpenting langgengnya sebuah usaha," jelas Sias.

Selain berbisnis, diusianya yang tak lagi muda ini, ia masih berperan di dunia pendidikan khususnya dunia tari. Tak jarang hasil dari bisnisnya ia gunakan untuk mendanai pendidikan yang dikelolanya. Disebutkannya,, saat ini ada sekitar 100 anak asuh yang menjadi asuhannya melalui sebuah yayasan yang didirikannya. "Selain bisnis, saya juga fokus di dunia pendidikan. Mengajar di perguruan tinggi untuk mata kuliah Bahasa Mandarin dan SMA untuk dunia tari," jelas magister lulusan STIE Supra, Jakarta ini.

Kecintaannya di dunia tari patut diacungi jempol. Karenanya, tak jarang ia berkeliling dunia untuk membawa misi kebudayaan Indonesia. Dalam catatan kiprahnya, setidaknya ia pernah mementaskan seni tarinya di beberapa negara seperti Beijing, Korea Selatan dan Singapura. "Melalui bisnis dan kegiatan seni yang saya lakukan, saya bermimpi bisa menyatukan potensi anak bangsa untuk pembangunan kesejahteraan rakyat Indonesia," ujar peraih medali emas Spring Festival Korea Selatan ini.

Artikel Terbaru Kami