Jumat, 23 Mei 2014

Coffee Shop Bercitra Rasa Indonesia untuk Indonesia


Profil Irvan Helmi dan Muhammad Abgari


Keduanya bisa dibilang pebisnis konservatif jika berbicara modal usaha yang digeluti sekarang. Irvan Helmi dan Muhammad Abgari memulai bisnis sejak 2007 tapi baru punya enam outlate, empat di Jakarta dan dua di Bali. Bayangkan ketika pengusaha lain berlomba- lomba membangun franchise, mereka memilih tidak. Perlu diketahui hampir tiap minggunya menerima permintaan franchise Anomali Coffee. Bukan hanya dari dalam negeri, tapi juga dari di luar negeri seperti  Malaysia, Singapura, Rusia, dan China.

Alasan mereka bahwa mereka tidak yakin bisa mentransfer value dan misi yang mereka pegang, yaitu bagaimana mempromosikan dan menjaga kualitas kopi Indonesia. Passion mereka terhadap kopi, khususnya kopi khas Indonesia, sangat tinggi. Hal ini pula yang membuat keduanya berpikir berkali- kali untuk memulai sebuah franchise. Mereka tidak ingin bisnis kopi ini dikerjakan orang yang tak punya passion di bidang kopi. Mereka sangat konservatif.

Tak hanya soal cara berbisnis, seorang manajer di Anomali Coffee selain memiliki kemampuan manejerial yang bagus, tapi juga ada passion di kopi. Mereka sangat selektif untuk memilih seorang manejer di setiap outlatenya. Passion seolah menjadi kata wajib dalam bisnis kopi yang mereka jalankan. Bisnis kopi tidak boleh dikerjakan mereka yang tak ada rasa cinta terhadap kopi. Meski franchise menawarkan keuntungan yang menggiurkan, mereka tak lantas tergoda.

Coffee shop


Gambaran Coffee shop menurut Irvan Helmi adalah perjalanan mereka di tahun 2007. Kala itu masih belum banyak produsen dan coffee shop lokal yang menjual kopi premium. Kalau berbicara milik asing tentu nama besar mereka telah terdengar, tapi baginya, masih meragukan apa itu premium. Harganya memang premium, tapi dari segi produk, coffee shop asing diragukan apakah specialty coffee. Memang setiap produsen atau sebuah coffee shop memiliki standarnya masing- masing.

Irvan menambahkan specialty coffee bisa dilihat dari kualitas biji kopinya. Namun di Indonesia sendiri belum ada asosiasi atau lembaga mengeluarkan sertifikat specialty coffee ini. Biasanya klaim mengenai specialty coffee ini keluar dari masing-masing merek coffee shop atau penjual kopi. "Pada 2007 kami belum melihat coffee shop yang menjual specialty coffee. Asosiasi specialty coffee Indonesia baru terbentuk pada 2008. Setelah asosiasi ini terbentuk, anggota yang terbanyak adalah dari pihak penghasil green bean, bukan dari pihak coffee shop," terang Irvan lebih lanjut.

Pada 2009 itu juga Anomali mulai serius memasok biji kopi. Bahkan kompetitor yang sama-sama menjual espresso, membeli biji kopi dari mereka. Walau secara produk minuman kami berkompetisi, namun di balik itu sebenarnya adalah mitra. Anomali memasok mereka biji kopi, melatih mereka, dan bahkan memasok mereka mesinnya. Dari awal Anomali memang ingin menjual specialty coffee. Namun ketika awal buka, coffee shop mereka menemukan kesulitan untuk mencari green bean yang baik.

"Belum ada sepertinya yang seperti kami, kafe dengan roaster- nya," jelas Muhammad Abgari melalui wawancara khusus SWA.co. id.

Anomali Coffee seolah menjadi peliopor produsen sekaligus pemasok specialty coffee (biji kopi). Mereka bahkan kerap diundang berdiskusi tentang kopi Indonesia di Singapura. Dulu, kopi Indonesia masih dianggap kopi yang inferior di mana hampir seluruh kopi Indonesia yang diproduksi adalah robusta, sekitar 90% robusta dan sisanya Arabica, di mana Anomali hanya bermain di Arabica.

Menjadi pemimpin


Ada kabar yang menyebutkan bahwa Anomali menjadi leader dalam pasokan kopi. Bahkan, lanjut Abgari, beberapa hotel di luar negeri menggunakan kopi dari Anomali. Secara garis besar Anomali menjadi leader dalam memperkenalkan kopi khas Indonesia. Sebenarnya permintaan untuk kopi Indonesia sudah mulai bagus. Jadi, bagus tidaknya kopi bukannya hanya dari bijinya saja, namun juga dari tingkat kesegaran biji kopi itu sendiri.

Pembeli sudah paham bahwa salah satu kekuatan Anomali ialah Anomali memanggang kopi sendiri sehingga bisa dijamin tingkat kesegarannya. Saat ini tiap bulan Anomlai memanggang sekitar tigaton. Pada awal bisnis cuma 10 – 15 kg. Saat pertama kali outlate dibuka di Senopati, hanya ada 10 kursi. Mereka kehabisan dana untuk membangun lantai dua kafe karena membeli mesin roasting yang harganya hampir Rp 1 miliar.

"Saat ini kami memiliki dua mesin roasting dari Turki dan Swiss, salah satu merek mesin roasting-nya, Buhler dengan kapasitas maksimum 20 kg," lanjut Abgri.

Yang awalnya memanggang kopi untuk kebutuhan sendiri, berubah arah. Anomali yang kesulita menemukan biji kopi jadi di pasaran memilih memanggang sendiri. Ternyata orang- orang suka hasi panggangan mereka. Akhirnya mereka pun menjual kopi hasil panggangan mereka sebagai portfolio. Awalnya dimulai dari menjual kopi dari satu region saja, yaitu Toraja. Sekarang sudah ada tujuh region, hingga ada kopi luwak. Mengalir begitu saja. Namun dari awal Anomali tetap mengkhususkan untuk menjual specialty coffee Arabica.

Mereka menjual roasted coffee bean yang saat ini penjualannya mencapai tiga ton per bulan dari yang hanya 10 kg – 15 kg per bulan saat awal berdiri. Dari tiga ton biji kopi panggang tersebut, mereka juga memasok ke berbagai coffee shop lainnya. Walaupun penjualannya masih didominasi produk makanan minuman yang sebesar 70%, dibanding wholesales coffee bean yang hanya 30%, tapi pertumbuhan penjualan coffee bean secara ritel cukup tinggi.

Sumber: Swa.co.id

Artikel Terbaru Kami