Jumat, 30 Mei 2014

Biografi Muhadi Pemilik PO Dedi Jaya


Kisah Kondektur Jadi Miliarder


Nasib orang siapa tahu. Seperti roda berputar, besok bisa saja diatas, atau besok adalah waktunya kita di bawah. Ada awalnya menjadi seorang satpam lantas besok berubah menjadi kontraktor perumahan mewah seperti Fauzi Saleh. Atau seorang Houtman Zainal Arifin, seorang yang awalnya office boy menjadi vice- president Citibank. Ada pula yang awalnya cuma tukang sapu dan menjadi miliuner seperti Tri Sumarno. Semua bisa saja terjadi.

Dan, berikut adalah kisah seorang Muhadi, seorang kondektur yang jadi miliarder. Dimulai dari bisnis sepele seperti berjualan bambu hingga bisnis miliaran untuk ratusan bus.

Membangun bisnis nol


Muhadi lahir di Brebes, Jawa Tengah, pada bulan Maret 1961, ayahnya seorang petani desa yang tak tau baca tulis. Dia bukanlah anak yang menonjol di kelas. Hidupnya biasa- biasa saja, tidak sangat bodoh atau sangat pandai. Ia menyelesaikan pendidikan hingga setingkat SMP atau madrasah sanawiyah di sebuah pesantren di Cirebon. Selepas berhenti sekolah, hal pertama yang dilakukan Muhadi yaitu membantu sang bapak di sawah.

Dia juga menjajakan es keliling dari kampung ke kampung, lalu berjualan minyak keliling dan juga menjadi kondektur bus. Semua pekerjaan itu ia lakoni selama bertahun-tahun dan setulus hati tanpa berpikir neko- neko atau berharap lebih. Hidup sederhana. Ia bukan orang yang neko-neko, di setiap uang hasil keringatnya selalu disimpan untuk bekalnya di kemudian hari. Begitulah hari-hari yang dilalui Muhadi, penuh perjuangan dan bekerja keras.

Hingga suatu hari, di umur 19 tahun, Muhadi kemudia bertemu seorang wanita bernama Atik Sri Subekti yang dinikahinya pada tahun 1981. Dia nekat menikah meski masih 19 tahun. "Waktu itu umur saya baru 19 tahun, tapi saya nekat menikah," tuturnya mengenang. Setelah menikah Muhadi berfikir bahwa ia tak bisa selamanya bekerja serabutan seperti ini, selain hasilnya sedikit juga tak ada masa depannya. Dia lantas mulai berangan menjadi lebih baik, sesuatu yang tak pernah terpikirkan ketika bujangan.

Dari kerja serabutan ia mulai fokus berjualan bambu. Modal awalnya cukup 50 ribu hasil tabungannya saat itu. Berjualan bambu memberikan titik terang akan masa depannya. Bambunya begitu laris hingga sanggup meraup keuntungan berkali lipat dari biasanya. Sering pesanan dalam jumlah besar datang. Biasanya berasal dari pemborong bangunan. Jika sudah demikian ia bisa meraup untung hingga 7 kali dari biasanya. Sesuatu yang didasari rasa tanggung jawab atas keluarga kecilnya.

Bambu mungkin jalannya untuk meraih sukses sekarang. Tidak hanya mendapat laba berlipat namun dari sana, berjualan bambu, ia mulai memiliki banyak kenalan dengan pemborong dan bisa belajar tentang ilmu usaha bangunan. Dia pun berfikir untuk membuka toko bahan bangunan, para pemborong itu juga pasti membutuhkan material bangunan dan ia bisa menyuplainya juga. Sebuah toko bahan bangunan lalu didirikan bermodal keuntungan jualan bambu dan pinjaman bank.

Agaknya pilihan membangun toko bangunan adalah pilihan tepat. Terbukti beberapa bulan saja sudah laris manis bisnisnya. Keuntungan yang didapat pun berlipat-lipat. Selain itu toko bahan bangunan menjadi sumber modalnya yang utama dalam mendirikan bisnis lainnya kelak. Toko bahan bangunan menjadi mesin pencetak uang baginya. Terbukti tujuh tahun setelah itu Muhadi bisa membeli beberapa bus besar. Dari satu sukses ke sukses lainnya, Muhadi benar- benar pandai melihat kesempatan.

Bisnis bus


Ia mendirikan PO Deddy Jaya, entah dapat ide dari mana nama itu. Bus yang melayani  trayek dari Jakarta- Purwokerto, Jakarta- Tegal, dan Jakarta- Pemalang- Pekalongan. Tentunya penumpang asal Pantura, Tegal, Pekalongan, dan Purwokerto yang hendak ke Jakarta tentu sudah tak asing lagi dengan bus ini. Saat ini jumlah armada busnya mencapai ratusan unit. Setelah itu uang yang terkumpul tak lagi jutaan rupiah tapi sudah menembus angka miliaran rupiah. Tak lekas puas hati, Muhadi bergerak ke arah bisnis lain.

Usut punya usut nama Deddy Jaya diambil dari nama anaknya, Dedion Supriyono. Dan, nama ini kemudian resmi digunakan diberbagai kesampatan. Berbagai bisnis menggunakan nama Deddy Jaya hingga bisnisnya menjadi besar seperti sekarang. Dia lah Muhadi pemilik jaringan bisnis di bawah nama grup, Deddy Jaya Group. Ia yang selalu berfikir mencari trobosan baru tak berhenti berekspansi.

Muhadi selalu  mencari trobosan untuk rencana bisnis selanjutnya. Agaknya secara tak sadar, dirinya telah menerapkan konsep menaruh telur bukan di satu keranjang. Dua lalu menginvestasikan keuntungan usaha busnya dengan membuka toko emas dan menerjuni usaha perkayuan di Tegal. Di sisi lain karena memiliki usaha bambu, toko bangunan, usaha perkayuan dan kesemuanya masih berjalan, ide bisnis lain muncul. Ia ingin masuk ke dunia kontraktor.

Ia kemudian melirik bisnis pusat perbelanjaan palagi di kotanya sendiri yaitu Tegal. Saat itu peluang tersebut masih sangat terbuka lebar karena tidak adanya mall besar di sana. "Saya ingin menjadi pelopor pengembang pribumi, daripada peluang itu diambil developer dari luar," ucapnya. Satu lagu impian seorang Muhadi menjadi kenyataan. Dia telah membangun sebuah mall di Tegal. Pada tahun 1998 ketika maraknya krismon atau krisis moneter, Mall Dedy Jaya pun akhirnya berdiri.

Muhadi juga membangun dua hotel berbintang, lokasinya ada di Tegal dan Brebes. Dia hanya berfikir sederhana bahwa jika ada turis entah itu domestik atau asing tentu membutuhkan penginapan yang berkelas. Saat itu di kedua daerah tersebut belum ada hotel yang berkelas yang ada cuman losmen – losmen kecil saja. Sehingga bisnis hotelnya hampir tak ada saingan. Di usianya yang masih 31 tahun, ia sudah menjadi pemilik grup bisnis beromset miliaran bahkan mungkin triliunan.

Sebab kegagalan


Ia juga pernah gagal bahkan hampir membuatnya berhenti dari segala bisnisnya. Ia pernah merasakan pahitnya rugi, pahitnya gagal dan hampir bangkrut. Salah satu bisnisnya yang gulung tikar adalah usaha bioskop Dedy Jaya di Tegal.  Awalnya usaha ini memang menuai untung yang besar namun kemudian marak VCD bajakan yang membuat orang enggan ke bioskop. Perlahan- lahan bioskopnya sepi dan akhirnya terpaksa melego bioskopnya.

Muhadi juga pernah menjajal bisnis kapal ikan. Di bisnis ini persaingannya sangat ketat dan butuh banyak modal. Sialnya waktu itu bisnisnya bertepatan dengan krismon tahun 98. Sebenarnya saat itu bisnisnya baru berkembang dan sedang butuh modal banyak namun karena krismon dan suku bunga naik terus membuat bank tak ada yang sanggup untuk mengucurkan modal besar. "Berat sekali waktu itu. Ternyata lebih mudah merintis ketimbang mempertahankan usaha yang sudah ada," kenang Muhadi.

Hampir saja bisnis kapal ikan ini juga menyeret bisnisnya yang lain untuk rugi. Akhirnya ia bisa menerima untuk menghentikan bisnis kapal ikannya agar tak berdampak pada bisnisnya yang lain.

Roda itu selalu berputar, begitu juga dengan nasib Muhadi kini. Kesuksesan demi kesuksesan yang telah ia dapatkan selama ini bukanlah didapatnya secara instan. Bukan mendapatkannya karena warisan. Muhadi sukses mendapakannya dari usaha keras dan doa. Muhadi, yang awalnya hanya seorang tamatan SMP, hanya seorang pedagang es dan minyak keliling dan hanya seorang kondektur bus. Kini ia telah menjelma menjadi seorang yang sukses bersama raksasa bisnisnya yang berpusat di Tegal Dedy Jaya Group.

Tak ada yang tak mungkin di dunia ini selama mau bermimpi besar dan berusaha keras mewujudkannya.

Rahasia sukses Muhadi


Kegigihan Muhadi untuk merubah nasibnya patut diacungi jempol. Bahkan jerih payahnya ini selain juga sukses menghasilakan uang juga telah membuatnya menerima berbagai penghargaan dan gelar. Dirumahnya, ada tiga almari yang penuh dengan berbagai piala dan piagam penghargaan kewirausahaan. Dan yang paling membanggakan adalah penghargaan upakarti dari Presiden sendiri. "Saya bangga, karena saya ini cuma orang desa," tuturnya merendah.

Apa moto hidup seorang Muhadi? Ialah "Masalah nasib urusan belakangan, yang penting kerja keras dulu," itulah yang mendasari dirinya untuk terus mencoba dan mencoba bisnis baru. Sebagai catatan walau ia sukses memiliki perusahaan bus dan juga menjadi kontraktor, usaha nya yang dulu tak pernah terpikirkan untuk ia tinggalkan. Muhadi masihlah penjual bambu dan pemilik toko bangunan karena dari dua usaha itulah yang menjadi dasar bisnisnya sekarang ini.

Dirinya tak menampik bahwa peran serta bank dalam mengucurkan pinjaman sangatlah penting. Namun juga perlu menjadi catatan bahwa bank tak mungkin mempercayakan uangnya jika kredibilitas seseorang itu tak bagus. Muhadi mengakui bahwa hutangnya di bank cukup besar, namun ia tak malu mengakui itu dan terus berjuang membangun bisnisnya dari nol. "Saya baru malu kalau tak bisa membayar," tegasnya.

Dia bukan lah tipe orang yang suka pamer dan bermewah-mewah dengan hasil yang telah dicapainya. Kantor pusatnya sangatlah sederhana, hanya ruangan sebesar 24 m2 yang menempel dengan rumahnya di daerah Jalan Raya Cimohong, Bulakamba, dari sanalah ia mengendalikan kerajaan bisnisnya. Dari seorang yang bekerja serabutan hingga jadi miliarder. Bukan hanya seorang pekerja keras namun dia memiliki tekat untuk menciptakan trobosan dalam berbisnis.

Muhadi bukan berbisnis untuk dirinya sendiri, tapi untuk mereka disekitarnya.

Artikel Terbaru Kami