Jumat, 11 April 2014

Usaha Angkringan Itu Menguntungkan


Usaha angkringan mulai bermunculan saja tak cuma di daerah tertentu. Jika biasanya kita melihat bisnis- bisnis semacam ini sebagai khasnya Yogyakarta, itu salah. Makanan angkringan telah berkembang menjadi konsep layaknya warung makan Tegal yang tersohor. Masih bisakah diandalkan? Ya, bisnis semacam ini masih bisa ditekuni dan divariasi sesuai keinginan anda. Bisnis tetaplah bisnis, meski sama- sama warung tegal pastilah beda antara yang di Jakarta dan kota kecil Semarang.

Makanan angkringan telah masuk kota Tangerang dan telah banyak pengusahanya. Salah satu pengusahanya adalah pasangan Bapak Agus dan Ibu Juweni. "Mungkin karena dari sisi harga sangat terjangkau, itu yang kami jual, menyediakan makanan murah meriah, dengan kualitas tetep terjaga," ungkap mereka. Disamping murah, lapak jualannya memberikan suasana berbeda dibanding warung makan biasa. Warung angkringan yang berkonsep lesehan dimana hanya butuh tikar dan penerangan tradisional.

Sebagai catatan, meski angkringan kebanyakan berkonsep jajanan malam, ada juga yang dijual di siang hari. Kita tak bisa pungkiri keuntungan dari para pekerja kelaparan di siang hari. Sebuah grobak bisa jadi awal yang baik bagi anda yang berminat berbisnis angkringan.

Bisnis aneka rasa


Mereka para pembeli pastilah akan datang jika memang enak makanannya. Inilah yang membuat keduanya yakin bisnisnya berjalan awet. Dari semula satu lapak, pasangan ini akhirnya mendapatkan tawaran seorang kolega untuk bekerja sama. "kemudian kami merekrut tenaga masak dari kampung kami, sekaligus tenaga-tenaga penjualnya di masing-masing lapak sampai saat ini kami memiliki 20 lapak," imbuh pasangan dari Klaten, Jawa Tengah ini.

Bagi pasangan suami istri ini, sukses punya arti kedisiplinan menjadi faktor yang sangat berpengaruh dalam perkembangan bisnis mereka. Mereka juga meyakini soal disiplin mengelola keuangan. "kami punya prinsip yang kami pegang dari pesan orang tua kami, bahwa ketika memelihara ayam itu jangan dimakan induknya tapi makanlah telurnya," ungkapnya.

Arti ungkapan tersebut diatas, menurut mereka berdua, adalah bahwa dalam menjalankan usaha ini mereka telah berusaha sekuat tenaga. Mereka sekuat mungkin agar tidak menggunakan uang modal untuk kebutuhan konsumtif, tapi mereka gunakan untuk diputar kembali. Benar sekali, kebanyakan usaha baik baru atau lama gagal karena seenaknya sendiri menggunakan modal. Si pengusaha tak mampu memisahkan antara omzet yang didapat dengen keuntungan bersih. Ditambah lagi jika usaha belum jalan, tapi modal telah habis.

Ketika ditanya soal persaingan, dimana terdapat usaha sejenis, pasangan ini mengaku tidak takut. "Untuk persaingan, kami punya prinsip bahwa selama kami tidak menyerang dan bikin rusuh di usaha orang, Insya Alloh kami juga tidak akan diganggu," terangnya. "yang penting kami tetap bekerja keras menjaga kualitas serta rasa makanan yang kami tawarkan itu tadi, pembeli akan terus datang," imbuh pasangan ini.

Bisnis angkirangan membawa keduanya, Ibu Juweni dan Bapak Agus, saat ini tidak lagi menumpang hidup di rumah saudara. "Alhamdulillah saat ini kami telah memiliki aset berupa tanah, rumah, mobil untuk operasional usaha," mengenai pendapatan bersih per bulan dari usaha ini sambil malu-malu pasangan ini menyebutkan angka, rata-rata Rp 30 juta. Sebuah angka yang fantastis untuk usaha sederhana seperti angkringan.

Namun yang menjadi kebanggaan dan kebahagiaan batin bagi pasangan ini  adalah ada 35 orang karyawan yang hidup dari usaha ini. "kami sangat bahagia dan bangga secara batin bisa membantu menaikkan taraf perekonomian karyawan kami," tegas keduanya, inilah yang disebut kerja bukan soal jadi kaya.

Artikel Terbaru Kami