Rabu, 02 April 2014

Rempeyek Kacang Bisnis Rumahan Menjanjikan

Peyek Kacang Beromzet 300 Juta



Pengusaha punya tujuan sendiri untuk menjadi pengusaha. Beberapa berpendapat tentang ini dan itu, tetapi itu kembali ke diri mereka masing- masing. Jangan remehkan usaha kecil karena dari sanalah semua bermula. Kustinah (37), baginya usaha yang dijalani hanyalah usaha sampingan. Dari usaha rempeyek, ia bisa meraup omzet Rp.300 juta per- bulan. Bukan bisnis sampingan lagi. Pasar produk buatannya ada di Yogyakarta, namun menjalar hingga Jakarta dan Bekasi.

Bisnis rempeyek kala itu masih jadi bisnis sampingan bagi seorang Sutinah. Ia tidak akan pernah menyangka, bisnis pembuatan cemilah yang renyah itu bisa berkembang pesat seperti ini. Dari bisnis rumahan seperti ini omzet mencapai ratusan juta adalah sangat fantastis. Di kampung asalnya, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Kustinah memproduksi rempeyek bersama tetangga- tetangganya. Tak hanya bisa mencukupi kebutuhan sehari- hari, dari bisnis sampingan ini, ia juga bisa membeli kendaraan bermotor bahkan mobil.

Bisnis sampingan


Kustinah dulunya hanya ibu rumah tangga biasa. Sedangkan suaminya bekerja sebagai penggali sumur. Tapi usaha sang suami bersifat pasang surut, artinya kadang- kadang ada atau tidak ada. Dia pun segera mencari cara sendiri mendapatkan penghasilan tambahan. Kustinah akhirnya bekerja sebagai penggoreng rempeyek di salah satu produsen rempeyek di kampungnya, Palma- du. Setelah cukup mendapatkan pengetahuan tentang menggoreng rempeyek; ia memutuskan membuka usaha sampingan sendiri.

Ia mengerjakan bisnis satu ini bermodal coba- coba. Kini, Sutinah berhasil menjual 5.000 rempeyek tiap hari seharga Rp.2.700 per- bungkus. Setiap bungkus berisi delapan rempeyek. Untuk memproduksi rempeyek- rempeyek itu, ia membutuhkan pasokan 550 kg kacang tanah dan 175 kg tepung beras. "Bahan baku saya dapat dari pasar Beringharjo," katanya. Selain rempeyek kacang tanah, dia juga membuat rempeyek kedelai hitam dan kedelai putih. Untuk rempeyek kedelai, harga sebungkus jadi Rp 2.400. "Paling laris rempeyek kacang tanah," ujarnya.

Kustinah lalu memberi produknya merek sendiri sama dengan nama suaminya, Santoso. Dia menjual produk olahannya ke pasar Yogyakarta, lalu tembuh sampai pasar tradisional di Temanggung, Jawa Tengah, dan akhirnya sampai ke Jakarta dan Bekasi. Dari semua pasar rempeyek Santoso, di kota Temanggung lah yang paling besar permintaannya. 

Tiap hari, dia bisa mengirim setidaknya 2.500 bungkus rempeyek ke agen yang datang dan membayar langsung. Sedangkan untuk pasar Jakarta, dia mengirim 1.000 bungkus rempeyek per hari atau 7.000 bungkus per minggu. Jika dia menerima pembayaran langsung dari agen untuk yang di Temanggung, untuk yang di Jakarta, rempeyek itu akan dibayar setelah produk olahannya itu sampai. Karena Kustinah haru ikut menanggung biaya pengiriman jadilah harga pasarnya naik jadi Rp.3.400 per- bungkus.

Ibu satu ini dikenal sebagai juragan rempeyek karena paling sukses di Desa Palemadu, Bantul. Dia memiliki 10 tungku penggorengan dan 35 pekerja. Tak hanya kaum perempuan yang bekerja di dapur milinya, ia juga mempekerjakan pria untuk memasak rempeyek. "Laki atau perempuan sama saja," katanya. 

Agar memastikan kualitas ia sendiri ikut terlibat dalam proses produksi. Selain membeli bahan baku, dia juga mengawasi penggorengan. Permintaan membludak, membuat jumlah jam kerja selama delapan jam sehari tidak sanggup memenuhi permintaan. Karena itu, sejak tahun lalu -Kustinah mengalihkan sebagian produksi ke tetangga. Namun, agar produk yang dihasilkan sama, campuran daun bawang dan kacang tetap diracik sendiri oleh Kustinah.

sumber: kisahsukses.info, kontan.co.id

Artikel Terbaru Kami