Senin, 21 April 2014

Pengusaha Tanah Abang Sukses Bisnis Online


Biografi Edi S. Kurniawan


Di era digital, bisnis online berkembang pesat, seperti itu pula bisnis seorang Edi S. Kurniawan. Pengusaha pakaian 32 tahun asli Tanah Abang yang terkenal akan produk pakaian jadinya. Seorang pengusaha pakaian bayi yang menangkap pentingnya koneksi internet. Dalam dirinya terbesit pengharapan agar teman sesama pengusaha di kawasan Tanah Abang bisa seperti dirinya, memiliki koneksi internet.

Suatu siang saat Warta Kota menyambangi Alifia, toko super grosir pakaian anak dan perlengkapan bayi di Thamrin City, Jalan Kebonkacang Raya, Tanahabang, Jakarta Pusat. Masih tampak masih sepi. Di beberapa sudut toko ada kantung- kantung plastik berjejer tertumpuk rapi. Ada seorang pria terlihat tengah sibuk mengutak- atik laptopnya. Seorang tengah sibuk dengan komputer PC. Dan, ada dua orang lagi yang sibuk merapikan barang disana.

Dia lah Edi S. Kurniawan atau Pak Edi yang tengah sibuk bekerja dengan laptop warna merahnya. "Saya sengaja memilih lantai yang sepi. Sebab, 100% transaksi bisnis saya lewat internet. Disini lokasi enggak penting. Tempat sepi, sewanya lebih murah. Yang penting, masih ada bau-bau Tanah Abang," ujar Pak Edi, pemilik toko online www.grosirtanahabang.com, membuka percakapan dengan Warta Kota, belum lama ini.

Memang di era sekarang kita pembeli tak harus mengunjungi pembeli langsung ke tempatnya, cukup melalui koneksi internet. Meski bisnisnya dikerjakan secara online, tapi nama Tanah Abang masih jadi andalan. Ya, karena memang disinilah pusat dimana produk- produknya dipaketkan untuk dikirim. Tanah Abang memang jadi ikon tekstil Indonesia. Bahkan, Tanah Abang telah menjadi pusat perdagangan tekstil terbesar se Asia Tenggara.

Bagi ayah Randika Chandra Aryandi ini, Tanahabang mempunyai arti khusus. Mantan buruh pabrik di Tangerang ini mulai belajar bisnis dengan mengikuti program magang di toko-toko milik H. Alay, inspirasi berdirinya komunitas bisnis Tangan Di Atas (TDA) dan raja tekstil dan properti di Tanahabang. Berkat ilmu serta pengalaman magang membuatnya menjadi pedagang tekstil handal, pengusaha besar. Edi memang telah melewati masa sulitnya sebagai seorang pengusaha.

Dia telah sukses memasuki ranah bisnis eCommerce atau online melalui www.grosirtanahabang.com dan www.alifiababyshop.com. Saat ini, bisnis grosir pakaian anak dan perlengkapan bayi online milik mantan buruh pabrik di PT. Bando Indonesia itu tumbuh pesat diamana omsetnya mencapai rata- rata Rp. 100 juta per bulan.

Hutang usaha


Jalan menuju sukses selalu melalui proses jatuh bangun dulu. Pria kelahiran Lampung ini, telah berulang kali membangun bisnis, tapi semua berakhir dengan kegagalan. Edi pusing karena kegagalan itu meninggalkan banyak utang. Ia pun melakoni bisnis pulsa sampai buka toko fashion dan busana muslim serta usaha catering dan kantin. Semua dilakoni demi kata merubah nasib.

Bisnis-bisnis yang disebut terakhir modalnya diperoleh dari pinjaman bank maupun kantor. Karena gagal, utangnya sampai Rp. 50 juta. Sebagai buruh pabrik gaji per- bulan Rp.2, 7 juta per- bulan. Edi dan istrinya, Siti Aminah, terus memutar otak mencari solusi. Buruh teladan PT. Bando Indonesia (2005-2006) ini harus menyisihkan Rp. 2 juta untuk membayar cicilan hutang per bulan.

Dalam kondisi sulit dan kepepet itu, Edi beruntung mendapat info dari TDA terkait satu program magang di jaringan toko H. Alay di Tanahabang. Dia tertarik dengan program itu, karena kegagalan bisnisnya selama ini, antara lain adalah tak memiliki ilmu bisnis. Meski syarat mengikuti program magang itu berat tetap tak mematahkan semangatnya. Edi nekat mengambil kesempatan itu, apalagi ia mendapatkan dukungan dari sang istri. Untuk ikut magang itu, dia wajib bekerja enam hari seminggu selama tiga bulan nonstop.

Itu juga berarti tragedi. Edi harus keluar kerja dari PT. Bando Indonesia, Gajah Tunggal Group, Tangerang. Sebagai syarat tambahan yaitu ketika magang tersebut dirinya tak mendapatkan gaji, uang transport, bahkan untuk uang makan juga tidak. Sungguh berat prosesnya. Walaupun teman-temannya menyebut keputusannya mengundurkan diri sebagai tindakan gila, tapi tekad Edi untuk belajar bisnis tidak surut.

"Saya bersyukur, meski saya mengundurkan diri, tapi pihak manajemen masih memberi pesangon Rp. 55 juta sehingga saya bisa melunasi utang saya. Sisanya untuk modal saya. Dan, karena saya tidak bekerja lagi, istri saya bersedia bekerja kembali di pabrik tas. Itulah bentuk dukungan luar biasa dari istri saya," ujarnya.

Pak Edi keluar kerja tepatnya sekitar bulan maret 2007. "Sebab kalau diterusin kerja di pabrik, saya udah enggak semangat. Hampir semua gaji saya habis untuk bayar cicilan utang. Bayangkan, utang saya baru lunas sekitar 10 tahun. Makanya saya semangat pindah quadran," katanya.

Lulus magang


Sarjana hukum lulusan STHI Jakarta tahun 2003 itu yakin, di balik kesulitan hidupnya, pasti akan ada suatu kemudahan. Edi mulai merasakan manfaat positif, khususnya pada bulan ketiga magang itu. Saat itu, dia telah diberi kesempatan buka toko mukena sendiri dengan modal dari H. Alay Rp. 50 juta. Selanjutnya, setelah sukses lulus magang, Edi bekerja sama dengan H. Alay membuka toko pakaian anak dan perlengkapan bayi di Blok F 3 Tanahabang.

Saat itu, katanya, dia diberi modal awal berupa celana anak dari kain perca senilai Rp. 200 juta.

"Setelah tiga tahun bekerja sama dengan H. Alay, akhirnya saya memutuskan untuk mandiri, maksudnya supaya bisa lebih kreatif mengembangkan bisnis sendiri. Toko offline saya kembalikan kepada pak haji, lalu saya fokus mengembangkan bisnis online,” ujar Edi. Untuk bisnis baru, ia memilih menggalang dana dari para investor. Ia sukses menggalang dana Rp.100 juta.

"Ternyata semangat bagi hasil sangat mendukung upaya saya mengembangkan bisnis online. Rencana saya kedepan, ingin mengajak toko-toko di Tanahabang membuka toko online. Sambutannya positif bahkan beberapa sangat antusias. Mimpi saya, semoga kawasan Tanahabang bebas macet karena semua transaksi lewat internet," ujar Edi mantap.

Setelah melewati perjuangan berat inilah masa dimana Edi S. Kurniawan mencapai masa win (menang). Dia dalam masa tersebut sebaiknya ikut membangun masyarakat. Mereka baik teman- teman atau orang yang belum dikenalnya perlu tau bahwa usaha selalu membuahkan hasil jika dikerjakan secara sungguh- sungguh. Menurutnya salah satu usahanya yaitu melalui komunitas TDA. Dia juga memberikan berbagai paket kerja sama, biar sama- sama sukses.

"Jangan takut berwirausaha karena ternyata tak seberat dan sesulit yang kita bayangkan. Disini saya ingin sharing ilmu dan pengetahuan agar orang yang mulai bisnis tak melewati tahap trial and error yang terlalu berat seperti saya dulu," ujar Edi yang pernah 11 tahun kerja di sebuah pabrik V-belt mobil di Tangerang.

Berbagi rejeki


Selain sibuk berbisnis Edi tak lupa membantu sesama dengan caranya sendiri. Dia memberikan bantuan bagi masyarakat yang berminat belajar berbisnis, bahkan dibantu modal. "Bahkan, saya siap bantu orang yang mau jualan (pakaian bayi-Red) dan enggak punya modal. Tapi, basisnya tetap toko online," tambahnya.

Syaratnya gampang cukup gampang kita hanya harus memiliki blog atau akun facebook. Edi akan sediakan foto-foto produk miliknya. Kita tinggal pasang itu di internet lalu gencarkan promosi untuk membeli produk miliknya. "Kalau ada pesanan, tinggal salurkan kepada saya. Dari transaksi itu, mereka akan dapat untung. Di sini selain bisa bantu orang, saya juga diuntungkan karena punya ujung tombak pemasaran dimana-mana," kata Edi mengenai startegi marketingnya.

Kalau dicermati apa yang dilakukan oleh Pak Edi adalah bisnis dropship, dimana cukup menerima pesanan. Ia berkata cara berjualan seperti ini baru dilakukan beberapa tahun belakangan. Waktu ia pertama kali mencobanya hanya dibatasi untuk 10 orang saja per- bulan. Kerja sama bisnis lain yaitu lima paket kerja sama usaha, mulai dari paket distributor wilayah dengan modal awal Rp. 10 juta, paket toko bayi (start up Rp.13 juta dan paket toko lengkap Rp. 46 juta), paket sample produk hingga paket toko online plus produknya seharga 2,5 juta.

"Kami juga menyediakan karyawan yang meng-handle pesanan Anda, mulai dari penerimaan, persiapan, packing hingga pengiriman barang. Kami juga selalu siapkan barang lengkap, dengan stok senilai lebih dari Rp. 500 juta sehingga selalu bisa memenuhi pesanan pelanggan," ujarnya. Terkait paket bisnisnya ini, Edi tak segan memberikan bantuan 24 jam untuk konsultasi. Ia memberikan bantuan dari menejemen toko online maupun strategi pemasaran.

Edi menyebut tahun 2010 adalah tahu dirinya melakukan ekspansi usaha. Dia membangun sekitar dua unit usaha baru yang lebih besar. Edi akan mengembangkan usaha dibidang IT Consulting dan Online Marketing serta satu lagi di bidang produksi, distribusi dan penjualan umum. Proyek pertama yang sudah berjalan baik ialah memproduksi kaos anak, kaos remaja dan kaos busana muslim dengan kapasitas produksi 3.000 lusin per- bulan.

Koneksi:

Twitter: @edieska
Facebook:  https://www.facebook.com/edieska

Artikel Terbaru Kami