Rabu, 16 April 2014

Daur Ulang Roti Basi Jadi Clay untuk Belajar

 
Emmy Subagyo begitu telaten dan terampil mengerjakan "nendo", sebuah produk unik aneka fungsi. Produk yang berasal dari negeri Sakura dimana memiliki nilai seni tinggi. Kita tau begaimana seni dan bisnis menjadi satu kesatuan tak terpisahkan. Emmy mampu merubah roti basi menjadi adonan clay, atau biasa disebut nendo, yang memang dipelajarinya langsung dari Jepang. 

Ragam nendo karya Emmy bisa dijumpai di rumah makan soto karak miliknya di Jalan Jenderal Sudirman, Bogor, Jawa Barat. Di restoran itu, Emmy memajang aneka lukisan, hiasan dinding, hingga boneka nendo. Untuk obyek yang besar seperti lukisan sakura di Gunung Fuji, Jepang, misalnya, ia mengaku menghabiskan waktu hingga satu tahun pengerjaan. Setiap kuntumnya dibuat secara telaten olehny setiap pagi satu per- satu.

Ia pasti mempunyai waktu khusus satu jam di pagi hari untuk membuat nendo. Sebagai usaha Emmy memilih membuka kursus membuat nendo kepada masyarakat umum, terutama jika di akhir pekan. Dia juga membagikan kemampuannya itu kepada tamu- tamu restorannya. Ternyata nendo yang terbuat dari roti basi bisa dijual atau jadi alat marketing menarik. Ia memulai dengan memperlihatkan roti tawar basi kepada pengunjung, lem, dan lotion.

Semua bahan itu kemudian dicampur menjadi adonan clay sebelum kemudian dibentuk menjadi bunga atau tokoh kartun Angry Bird. Bulatan kecil adonan nendo dipipihkan untuk membuat kelopak bunga. Tujuh kelopak mungil itu lalu disatukan membentuk bunga mawar yang merekah sempurna. Memang nendo yang terbuat dari adonan ini punya bentuk seperti lilin, jadi mudah dibentuk.

"Pertama kali pasti saya ajari membuat bunga. Bunga paling mudah karena enggak ada dimensi waktunya," kata Emmy.

Belajar nendo


Emmy mulai belajar membuat nendo ketika tinggal di Jepang selama enam tahun sejak 1994. Waktu itu, ia mengikuti sang suami yang bekerja sebagai bankir di sana. Untuk mengisi waktu luang sembari menunggu anak- anak pulang sekolah, ia menyempatkan mengikuti kursus membuat nendo pada saorang sensei. Guru tersebut mengajarinya agar terampil dengan tangannya. Ia diminta membuat seribu benang sari dari nendo. Dari sekedar benang sari, Emmy akhirnya mampu membuat sebuah lukisan yang laku puluhan juta rupiah.

"Otomotasi tangan saya bergerak terus," ujarnya. Ketika suaminya sakit, nendo la yang menjadi semacam "pelarian" bagi Emmy. Sembari menunggui sang suami di rumah sakit; ia membuat banyak lukisan nendo. Setelah suaminya meninggal, Emmy tetap membuat nendo. Ia mulai menerima pesanan kreasi nendo setelah pulang ke Indonesia di 2001.

Di Tanah Air, nendo bak primadona karena memang harga clay pabrikan yang cenderung mahal. Selain murah, nendo juga bisa digunakan untuk terapi kesehatan syaraf karena hanya bisa dibentuk dengan keterampilan tangan."Nendo melatih kesabaran dan memotivasi," ujar Emmy. Selain memproduksi nendo, Emmy menularkan keahliannya lewat kursus yang dibuka bagi masyarakat umum dari anak-anak hingga lanjut usia (lansia).

Siswa- siswanya adalah mereka yang berkebutuhan khusus yang berhasil belajar konsentrasi melalui nendo. Bagi anak di bawah usia lima tahun, nendo bisa menjadi sarana untuk mengembangkan kemampuan motorik halus, belajar pengenalan warna, serta tekstur. Para lansia memperoleh manfaat yaitu memelihara ingatan agar tidak mudah lupa. Selain nendo atau clay dari roti basi, clay yang terbuat dari tepung tapioka, maizena, tepung terigu atau tepung beras juga diminati.

Wisata unik


RM. Soto Karak, restoran milik Emmy Subagyo, menawarkan wisata unik bagi yang berkunjung ke Solo, Jawa Tengah. Rumah makan biasa namun memberikan pengalaman menarik dari sang pemilik sendiri. Berkat tangan terampi miliknya, Emmy sukses menggabungkan keduanya jadi satu paket lengkap. Bicara tentang nilai jual karya seni nendo, ternyata usut punya usut, ia menjual sebuah lukisan nendo seharga Rp.30 juta ketika masih di Jepang.

Kembali ke tempat RM. Soto Karak, peserta kursus nendo sebagian besar adalah kalangan perempuan mulai dari ibu-ibu muda sampai ibu-ibu pejabat. Selain lukisan kanvas, nendo juga bisa dikreasikan pada berbagai bidang lain seperti vas bunga. Sekilas ketika anda berkunjung ke tempatnya, maka anda akan merasa takjub ketika melihat kerya nendo nya. Mereka terlihat seperti lukisan tiga dimensi, seperti ornamen plastik yang melekat apik.

Jika anda tertarik ingin membuat Nendo, pertama-tama adalah membuat adonan yang berbentuk seperti tanah liat. Untuk menghasilkan adonan tersebut anda perlu menyobek roti menjadi remahan kecil-kecil. Lalu campurkan remahan roti dengan lotion pelembab dan lem putih dengan perbandingan yang sama. Namun jangan lakukan secara sekaligus. Remahan roti pertama diberi lotion pelembab lalu uleni hingga tercampur. Kemudian tuang lem putih dan terus ulenin hingga menjadi liat dan tidak lengket lagi.

"Seperti sedang membuat adonan pempek saja," kata Emmy sambil tertawa. Setelah itu, gunakan lah cat minyak untuk memberi warna pada adonan roti. Tapi pakai saja sedikit, cukup setetes kurang sudah dapat menghasilkan warna yang pekat pada adonan. Setelah itu Anda bisa langsung membentuknya sesuai keinginan, bisa bentuk bunga, buah, atau apa saja sesuai kreativitas Anda.

Perlu diingat karena memakai lem putih maka adonan akan cepat kering. Oleh kerena itu, anda juga perlu menyiapkan beberapa kantung plastik untuk menyimpan. Jika tidak dipakai sebagaiknya adonan nendo yang telah berwarna tersebut segera disimpan. "Dengan coating lem putih, hasilnya jadi lebih tahan lama dan tidak akan dimakan semut. Selain itu memberi efek mengkilap," jelas Emmy.

Sumber: Kompas

Artikel Terbaru Kami