Rabu, 09 April 2014

Bisnis Kue Kering Basah Berkah


Biografi Nazliana Lubis


Bisnis kuliner tak pernah ada matinya melahirkan pengusaha- pengusaha wahid. Salah satunya ialah seorang wanita bernama Nazliana Lubis, pengusaha aneka kue di Medan, Sumatra Utara. Berkat kerja keras juga ditambah ketekunan jadilah bisnisnya tumbuh. Dia berhasil mengembangkan usaha kecilnya dari sebuah toko kue kecil jadi bisnis ratusan juta rupiah. Salah satu andalahan tokonya yang selalu habis yaitu cake pisang. Nazwa kemudian memberinya nama Blondi Pisang Barangan.

Toko kue ini milik Nazalina atau kerap dipanggil Nazwa yang di Jl. Kapten Muchtar Basri No. 110, Medan itu cukup kondang di Sumatra Utara. Beberapa hotel berbintang di Medan sudah menjadi pelanggan tetap, seperti Hotel JW Marriot, Hotel Ina Dharmadeli, Hotel Tiara, Hotel Danau Toba, dan Madani Hotel. Hotel- hotel tersebut memesan sedikitnya 500 potong sekali acara saja. "Padahal, saban hari, satu hotel bisa menyelenggarakan sampai tiga kali event," jelasnya. 

Bukan hanya hotel, Nazwa juga rutin mendapat pesanan dari beberapa bank, perusahaan swasta, sekolah, dan instansi pemerintah di Sumatra Utara. Ia sekarang bisa menghabiskan  3.000 telur dan 8 karung tepung atau sekitar 200 kilogram (kg) tepung per hari. Selain kue ternyata tokonya juga melayani pemesanan nasi boks. Perusahaan atau pemda biasanya memesan 1.000 hingga 1.800 nasi boks.

Sebelum sibuk berjualan kue wanita berkerudung lulusan D3 Pariwisata Universitas Sumatra Utara tahun 1989 ini, sempat bekerja di bagian tiketing di sebuah biro perjalanan selama tiga tahun. Tahun 1991, dia lalu pindah ke perusahaan maskapai penerbangan Simpati. Jabatan terakhirnya, supervisor. "Kerja di perusahaan penerbangan itu memiliki gengsi tersendiri. Saya punya kesempatan untuk jalan-jalan ke berbagai daerah," kata perempuan kelahiran Medan, 23 Januari 1965 ini.

Di PHK


Sayangnya kebanggan ini hilang karena industri penerbangan tempatnya bekerja tak lagi hidup. Nazwa harus menerima kenyataan pemberhentian hubungan kerja (PHK) karena Simpati tak lagi beroperasi sejak tahun 1997. "Saya sempat stres dan labil, malu sama teman-teman dan lingkungan," ujarnya. Selama enam bulan itu, Nazwa depresi. Akhirnya, dia menemukan semangat setelah menyadari lingkungan rumahnya yang berdekatan dengan kampus Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara

"Saya perhatikan, kok di kawasan kampus tidak ada yang jual jajanan berat semacam kue. Saya pun terpikir untuk buka usaha kue," kenangnya. Nazwa pun mulai mengulak-alik aneka buku resep masakan di depannya untuk mencari dan belajar mengolah aneka kue. Maklum, dia tidak punya keahlian memasak sehingga hanya mengandalkan buku resep.

"Saya pilih jualan donat sebab proses pembuatan lebih mudah ketimbang membuat kue yang lain dan di sekeliling kampus belum ada yang jualan donat," ujar istri dari Fadlin ini. Akhirnya, di Juli 1997, Nazwa berani nekat jualan donat bermodal kurang dari Rp 100.000. Kala itu, dia menjual sepotong donat seharga Rp 350. "Omzetnya baru Rp 70.000 per hari. Rasa dan bentuk donatnya pun belum konsisten karena saya masih belajar membuatnya," katanya sambil tertawa.

Ia pun semakin mengasah kemampuannya mengolah berbagai produk kue. Dia setia mengikuti aneka kursus pembuatan kue di Medan hingga Bandung. Karena usaha kue itu belum menghasilkan pendapatan besar, Nazwa menerima tawaran mengajar mahasiswa D3 dan D1 Pariwisata di salah satu perguruan tinggi di Medan. Dia mengajar mata kuliah pelayanan di perusahaan penerbangan.

Setengah tahun berjalan barulah Toko Nazwa mengalami peningkatan. Meski begitu jalan itu tak selamanya lancar karena cenderung merugi ketika krisis moneter 1998. "Saya tidak menghentikan usaha ini meski rugi. Ini demi eksistensi usaha," katanya.

Nazwa mulai berani menawarkan kue- kuenya ke toko- toko kue lain. Dari sini, omzet dan produksinya jadi meningkat. Tahun 2000, ia berhenti mengajar, fokusnya untuk mengelola toko kue miliknya dan mulai dari sana mengajukan proposal ke berbagai hotel. Pada tahun 2003, Nazwa berhasil mendapatkan pesanan dari sebuah hotel. "Meskipun pesanan hanya bika ambon setengah loyang, 20 potong tahu isi, dan 20 potong kue lumpur, saya menerima pesanan itu," ujarnya.

Ia tetap gigih memasok kuenya ke hotel yang memesan meskipun hanya dalam jumlah kecil. Menurutnya, yang terpenting adalah kepercayaan dari konsumennya, meskipun dia harus menerima bayaran dua bulan sekali dari hotel. Suatu saat, hotel JW Marriot Medan memiliki acara seminar untuk Ikatan Dokter Indonesia selama seminggu dan mengorder aneka snack ke Nazwa. Ia harus memasok 22 item jajanan pasar dengan jumlah 2.600 pieces per item.

"Dari situ, pesanan besar dari hotel mulai berdatangan. Nazwa Aneka Kue mulai dikenal dan dipercaya konsumen," jelasnya. Dia juga mulai mendapat order katering untuk pesta yang nilainya Rp 40 juta hingga Rp 50 juta per klien.

Sumber: Kontan

Artikel Terbaru Kami