Selasa, 15 April 2014

A. Pramono Pemilik Ayam Bakar Mas Mono


Sukses Singkat Ala Ayam Bakar


Kisah pengusaha yang satu ini seperti jalan cerita sinetron saja. Namanya A. Pramono, atau Agus Pramonon (dibeberapa artikel tidak dijelaskan apa penjangan A.), pria yang sukses beralih dari seorang office boy jadi bos rumah makan. Belasan tahun sudah berlalu ketika dirinya mengadu nasib ke ibu kota Jakarta. Ia memulai semua dari bawah sekali menjadi office boy di sebuah perusahaan swasta. Lalu ia beralih profesi menjadi seorang penjual ayam bakar pinggir jalan.

Kini Pramono telah sukses menjadi miliarder berkat kegigihan dan juga ketekunannya, apa rahasianya?

Resep rahasia


Ayah dari satu anak yang kerab dipanggil Mas Mono ini baru- baru menambahkan bahwa sukses bisa diraihnya setelah melewati proses panjang. Ia meyakini dalam hidup tidak ada yang namanya sukses instant. Artinya, setiap kesuksesan itu membutuhkan perjuangan untuk mendapatkannya. "Orang tidak tahu dan mungkin tidak mau tahu, ketika memulai usaha ini saya harus ke pasar jam tiga dinihari. Jam empat subuh sudah menyalakan kompor, ketika kebanyakan orang masih tidur," ujar Pramono.

Awalnya suami Nunung ini berjualan ayam bakar di pinggir Jalan Soepomo, Jakarta Selatan, persisnya di seberang Universitas Sahid. Di tempat itu, setiap hari-kecuali hari libur, dia menggelar tenda, bangku dan meja untuk berdagang. Dengan memakai kaos, celana gombrang dan sandal jepit, Pramono setia melayani para pembeli yang baru datang pukul 14.00. Sebagian pembeli warungnya adalah meraka para mahasiswa dan orang kantoran yang bekerja di wilayah tersebut.

"Tapi ya namanya dagang kaki lima, ada gilirannya. Saya dagang dari pagi sampai siang. Dagangan habis nggak habis saya harus tutup. Lalu, jam 14.00 diganti pedagang lain yang menjual nasi goreng, pecel lele dan seafood," tutur Pramono sambil memperlihatkan foto lamanya di laptop.

Pria yang menamatkan pendidikan S3, maksudnya SD, SMP, dan SMA , di Madiun ini belakangan akrab dengan laptop. Dia kini menjadi mentor di Entrepreneur University (EU), dan foto- foto karyanya jadi bahan pengajaran. Dala foto tersebut, ia menyimpan kisah perjalanan bisnisnya dari pertama hingga akhir. Pria yang sekarang terlihat lebih maco dan keren, dulunya kurus, memang hobi fotografi. Jika dulu fotonya masih biasa saja, kini ia telah lebih baik karena terus diasah; bukan juga karena tau akan sukses loh.

"Ya, bedalah Mas. Dulu tidak terawat, sekarang terawat. Dulu nggak punya tabungan,sekarang tabungan banyak di bank," ujarnya sambil menunjukkan tabungannya yang pernah mencapai persis Rp 1 miliar. 

Salah satu kebiasaan positif yang dimiliki Pramono dan sangat memberi inspirasi adalah kesenangannya belajar sesuatu yang baru untuk meningkatkan kualitas hidup. Tahun 1999, ketika menjadi office boy di sebuah perusahaan swasta, Pramono selalu memanfaatkan,waktu luang belajar komputer. Bukan bermain bermain game seperti kebanyakan orang. Sebab dia tahu, dengan menguasai keterampilan itu kariernya bisa naik dan gajinya juga akan lebih besar.

Pramono benar, karirnya cepat naik karena selalu belajar menjadi lebih baik. Waktu itu ia telah mencapai jabatan supervisi. Meski jabatan telah tinggi dalam dirinya masih tertantang untuk terus meningkatkan taraf hidupnya. Cita-citanya cuma satu, bagaimana caranya lebih membahagiakan orang-orang yang dicintai, keluarga dan orangtuanya. Di tahun 2001, dia keluar dari perusahaan tersebut dan memulai usaha dengan berjualan gorengan keliling di seputar,wilayah Pancoran, Jakarta Selatan. 

Langkahnya rada ekstrem. Sebab, bagi Pramono, untuk memulai usaha tidak perlu banyak berpikir, apalagi menghitung rugi laba. Baginya yang terpenting adalah melakukan aksi bukan cuma teori. "Banyak saudara saya yang tidak terima dengan keputusan itu. Apalagi pada awal-awal berdagang, omzetnya baru Rp 15.000 sampai Rp 20.000 per hari," ujarnya. 

Meski menghadapi banyak tantangan Pramono tak patah arah. Sampai akhirnya dia mendapat lapak kosong di seberang Universitas Sahid. Dengan modal Rp 500.000 untuk membeli gerobak dan peralatan lainnya, termasuk ayam lima ekor, Pramono membuka lembaran barunya dengan menjual ayam bakar. Namun karena belum mahir mendorong gerobak, pernah suatu ketika ayam dagangan jatuh ke pasir. Terpaksa ayam tersebut harus dibersihkan dulu.

"Kalau orang lain mungkin sudah mikir macam-macam. Wah ini tanda sepi, nggak laku, karena baru mau jualan ayamnya sudah jatuh, sial. Namun, kalau saya justru berpikir lain. Wah, ini pertanda bagus, dagangan saya bakal laku. Sebab, saya menggunakan otak kanan. Selalu optimis dan percaya diri," tegas Pramono. Terlepas dari peristiwa itu, beberapa tahun kemudian usaha Ayam Bakar Mas Mono berkembang pesat. Dia mempunyai 13 cabang dan dalam satu hari bisa menjual 1.000 ekor ayam. 

"Sampai sekarang saya merasa seperti mimpi. Kok bisa ya," kata Pramono.

Info waralaba:

www.ayambakarmasmono.com

Artikel Terbaru Kami