Sabtu, 19 April 2014

Biografi Pendiri Joger Joseph Theodorus Wulianandi


Namanya mungkin asing di telinga anda, tapi bicara produk, siapa yang tak kenal produk merek Joger? Ya, kali ini kita berbicara tentang pendiri sekaligus otak dibalik tulisan nyeleneh. Joseph Theodorus Wuliandi, atau bisa juga Mr.Joger.BAA.BSS, singkatan dari Bukan Apa-Apa dan Bukan Siapa-siapa. Dia lah sang maestro dibalik produk- produk unik, aneh, dan gila, bahkan kata- katanya terkadang "menipu", tapi entah mengapa kita begitu menyukainya.

Pemilik pabrik kata- kata ini mengungkapkan bahwa dia tidak memiliki kemampuan berbahasa khusus dan dia bukanlah orang pintar hanya orang yang memiliki tekad untuk maju terus. Minimal tidak menjadi seorang pengangguran atau kemudian menjadi sampah masyarakat di negeri tercintanya ini. Itulah motivasi utama sang Mr. Joger. Dia hanya mempunyai keyakinan dan keberanian sebagai modal awal untuk membangun karya- karyanya.

Sejarah Joger


Pria kelahiran Denpasar, 9 September 1951 ini, menyebut dirinya memang berbeda sejak kecil. Hidupnya ialah merdeka, tidak terikat, dan unik, persis seperti karya- karyanya. Karakter ini pula yang melekat dalam produk Joger hingga sekarang. Baginya "Sedikit itu lebih baik asalkan cukup" daripada "banyak tapi masih merasa kurang." Tapi akan lebih menyedihkan jika miskin tidak bahagia pula.

Alkisah, Pak Joseph atau kemudian dikenal dengan Mr Joger di sekitar tahun 1970an, ia yang sedang menempuh kuliah di Hotelfachshule, Bad Wiesee, Jerman Barat, berkenalan dengan Mr. Gerhard Seeger. Keduanya menjadi kawan akrab yang sangat baik seperti saudara mungkin. Saking baiknya, saat Mr Joger menikah dengan istrinya Ibu Ery Kusdarijati, Mr Gerhard Seeger rela memberikan hadiah uang sebesar USD 20.000. Uang yang banyak itu, jika di rupiahkan, akhirnya dipakai untuk modal usaha.

Awalnya sih tak terpikirkan nama apa, tapi karena mengingat kebaikan sang sahabat, jadilah Pak Joseph menggunakan nama Gerhard dalam bisnisnya. Pak Joseph berinisiatif menggabungkan namanya dan Mr. Gerhard menjadi satu. Jadilah nama Joger tersebut, jika dilihat seksama merupakan gabungan Joseph dan Gerhard. Bermula dari satu toko souvenir kecil di Jalan Sulawesi, Denpasar, di depan Pasar Badung, nama Joger resmi dilahirkan tanggal 19 Januari 1981.

Nama Joger ini melekat terus, hingga akhirnya pada tanggal 7 Juli 1987, Joger membuka satu toko souvenir besar di Jalan Raya Kuta, Bali, yang semakin ramai, hingga kini. Tadinya yang hanya berencana membuka satu toko besar akhirnya memilih membuka satu lagi. Alasanya karena membludaknya pengunjung yang mengejutkan si pemilik sendiri. Mereka sampai memenuhi jalan di depan toko, membuat kemacetan, dan tempat parkir kecil itu selalu penuh oleh berbagai kendaraan bermotor.

Setiap hari, ribuan pengunjung mendatangi pusat Joger. Bahkan, kalau hari libur, untuk masuk tokopun mesti antri saking banyaknya orang yang akan masuk. Dan bermula dari kaos, sekarang ini di Joger banyak sekali item produk yang bisa dibeli, mulai dari souvenir kecil, tas, batik, kaos, stiker, jam aneh yang memutar tidak searah jarum jam biasa, bahkan hingga sandal dan sepatu. Semuanya laris manis diburu pengunjung, terutama kaos khasnya.

Perjuangan hidup


Ternyata dibalik kesuksesan besar itu ada proses yang perlua dijalani. Kala sekarang, Joger sudah punya beberapa mesin sendiri, dengan proses digital yang cepat, bahkan hampir tak pernah berhenti karena saking banyak pesanannya. Saat awal mula sekali, Joger merupakan perwujudan kerja keras Joseph dan istrinya, yang kala itu hanya berbisnis sovenir biasa. Belum punya mesin membuat Mr. Joger tak putus asa. Dia melakukan semuanya sendiri dari pembuatan dan penciptaan kata- kata unik itu.

Karena belum ada mesin, desain tersebut akrhirnya ia "orderkan" kepada orang lain yang punya mesin. Saat itu, semuanya dicetak manual. Desain dan kata-kata original khas Mr Jogerpun akhirnya mulai dijajakan di tokonya. Di salah satu sudut ruangan toko berbaris produk karyanya. Tantangan selanjutnya membangun merek, sekaligus merebut kepercayaan orang untuk membeli produknya. Mr. Joger tetap pantang berputus asa.

Dia memanfaatkan beberapa koneksi untuk menjajakan produknya pada wisatawan lokal maupun asing. Joseph bergerilya dari mulut ke mulut, dari satu tourist guide ke tourist guide yang lain, mengabarkan kepada mereka agar mau merekomendasikan produk Joger kepada mereka para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Lambat laun tapi pasti, kerja kerasnya mulai mendapatkan hasil. Dengan keunikan produknya yang memang berbeda dari biasanya, ia mulai mendapatkan perhatian dari banyak pihak, termasuk media masa.

Mereka mulai meliriknya menjadi sumber berita. Muncul lah profilnya di berbagai media masa, baik itu lokal maupun nasional. Sejak kemunculannya di berbagai media inilah, tidak pelak lagi, Joger mulai menancapkan kakinya menjadi salah satu barang souvenir wajib yang tidak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Pulau Dewata. Yang menarik dari Joger adalah kreativitasnya yang seakan tidak pernah surut di tangan Joseph. Konsep kata-kata yang digunakan begitu orisinil, unik, menggelitik, dan penuh sindiran.

Tetapi tidak bisa dipungkiri, kata- kata yang kadang terkesan konyol itu sangatlah filosofis, dan penuh permenungan. Kreativitas itu pun sepertinya tidak pernah berhenti. Konsep pemasaran yang tidak biasa yang dijalankan Joger sangat berhasil (Istilah kerennya Anti Marketing). Orang biasanya selalu hanya ingin mengungkapkan hal-hal baik pada dirinya, tetapi sejak awal, Joger bilang: "Joger jelek, Bali bagus". Tidak ada kesuksesan tanpa kerja keras.

Joger bukanlah berhasil dengan tiba-tiba. Keberhasilan Joger berasal dari upaya kerja keras terus menerus dari pemiliknya, dan juga tim kerjanya. Mereka melakukan berbagai cara dan upaya agar tokonya bisa besar. Mereka terus mencoba konsisten agar produk buatannya tetap kreatif, dapat diterima, dan semakin dapat memberikan manfaat.

Artikel Terbaru Kami