Sabtu, 22 Maret 2014

Wildan Pisangku Pisang Pasir Resep Rahasia

Profil Pengusaha Wildan 


Ternyata dibalik bisnis besar pisang pasir ada sosok sederhana nan- cerdas. Meski cuma lulusan SMA, akan tetapi, hidupnya tidak perlu dicemaskan iklan lowongan pekerjaan. Wildan begitu panggilannya, sukses membuka usaha sendiri tanpa harus memikirkan ijasahnya lagi. Bukanlah tanpa kerja keras loh. Dia memulai bisnisnya dari satu gerai kecil ukuran cuma 9x10 m di bawah Flyover Jalan ExitTol RC Veteran, Bintaro, Jakarta Selatan.

Dari gerai kecil ini pernah disewanya selama 4 tahun, dari sini pulalah bisnis menjadi beromzet miliaran rupiah. Bisnisnya pisang, Pisangku Pisang Pasir, memang telah terdengar ke- "keringannya" hingga ke penjuru Indonesia. Pisang buatannya sangatlah minim minyak goreng. Jika dibandingkan pisang goreng lain pisang goreng buatan Wildan ini sama sekali tanpa ada tetesan minyak. Bahkan jika kamu mencoba meremasnya diantara tisu, maka kadar minyaknya minim atau hampir tidak ada.

Modal bisnis


Modal awalnya terbilang besar yaitu Rp.75 juta hanya buat berbisnis pisang goreng saja. Ya, pasalnya kala itu bisnis pisang sedang ramai- ramainya sih; terutama pisang yang digoreng. Di tahun 2006 memang jadi kejayaan bagi pisang goreng di Jakarta utamanya jenis pisang pontianak. Ada saja penjual yang menjualnya langsung berbalut tepung. Disisi lain, Wildan telah memulai bahkan sebelum masa jayanya dan masih menjadi paling bertahan.

Sukses jadi salah satu petahana karena memang pisangnya unik diantara sekian pisang goreng. "Pada 2005 lalu di jalan sekitar sini banyak gerai pisang goreng, dan yang paling laku yakni pisang goreng pontianak," jelas pria kelahiran Lampung. Berawal dari begitu banyaknya gerai pisang goreng di daerah Bintaro itulah ada hasrat mencicipi rasanya sendiri. Setelah mengantri cukup lama akhirnya pisang goreng Pontianak itu ada di tanganya; terbersit kesimpulan.

Wildan melihat memang tepungnya cukup unik namun dari segi rasanya, menurutnya kurang nikmat. Melihat potensi jadilah mencoba mengkreasian pisang gorengnya tersendiri. Tidak memilih pisang Pontianak menjadi kunci suksesnya kala itu. Pertama kali hingga sekarang bisnisnya menggunakan pisang Lampung. Ia melihat potensi lain disana selain rasa menjadi berbeda. Pisang Lampung itu bertekstur tidak lembek dengan tingkat kemanisan cukup tinggi.

Adonan tepungnya ini masih jadi teka- teki bagi pembeli ataupun pegawai sendiri. Wildan berkeras hati tidak membocorkan rahasianya. Bumbu rahasia ini dia pelajari selama lima bulan lebih. Ide bumbunya sih memang masakan khas Jepang bernama chicken katsu. Jika chicken katsu adalah ayam goreng berbalut tepung gurih dan kering; maka ini pisang. Setelah lima bulan mengotak- atik asal bumbu inilah jadi bumbu Pisangku Pisang Pasir.

Hasil inovasi bumbu mampu menunjukan kesuksesan meski di awal bisnis. Ayah lima anak ini sukses menjual 500 potong di hari pertama. Didukung embel- embel nama pasir jadilah pembeli merasa penasaran sekedar icip- icip di awal buka. Namanya unik, ditambah bentuknya meyakinkan, mudah bagi Wildan untuk membuat mereka pembeli penasaran.

Bisnis besar


Sejak pertama kali buka di 2006, Wildan sukses menjual 500 potong dibawah merek dagang Pisangku Pisang Pasir. Hanya dalam tempo satu bulan bisnis ini mencatat penjualan 5.500 pisang dalam satu bulan saja loh. Tak adakah hambatan? Ada, ia menemukan hambatan pada pemasok bahan baku utama pisangnya. Ia pernah mencoba mengganti bahan bakunya. Dia mencoba jenis pisang lain, namun sebagian besar pelanggan kecewa. Meski kala itu dia menggunakan pisang kualitasnya diatas pisang kepok Lampung.

Terlanjur nempel si pisang Lampung tak bisa digantian jenis pisang lain. Kini, agar tak mengurangi kualitas rasa, jadilah Pisangku Pisang Pasir terpaksa tutup saja. Sang pemilik nekat memilih menutup gerainya saja jikalau stok pisang si Lampung tak mencukupi dalam sehari. Ia menutup gerainya esok atau lusanya. Tak mau mengecewakan, diambilah jalan lain yaitu menghubungi pemasok utamanya di Lampung langsung. Untuk mengantisipasi kekosongan bahan baku diambilah 300 tandan pisang dari Lampung.

Agar stoknya tersimpan baik dipilihlah sebuah gudang penyimpanan di daerah Cipete, Jakarta Selatan. Selain itu, Wildan tetap menjaga citra dagangnya agar produknya tetap masuk ke semua kalangan. Dia mengatakan, meski bisa juga dibilang jajanan pasar, produknya harus terjaga kebersihan dan semua orang menyukainya. Usaha yang telah dijalani selama lima tahun ini berbuah hasilnya. Saat ini usahanya telah memiliki sekitar 100 pegawai di 15 gerai yang tersebar di seluruh Jabodetabek.

Dia mampu menjual 1.000 potong pisang pada hari biasa seharga Rp2.500 per- potong. Sementara di akhir pekannya bisa mencapai 4.000 potong pisang. Itu pun hanya untuk setiap gerainya jadi setiap gerainya bisa menjual ribuan. Jika dihitung, Wildan bisa mengantongi omzet penjualan Rp. 2,5 juta per hari tiap gerainya, ingat per- hati bukanlah per- bulan. Bila saat ini ia masih memiliki 15 gerai, berarti omzetnya mencapai Rp. 37,5 juta per hari atau dalam sebulan mencapai Rp. 1,125 miliar

Selain bisnis pisang goreng, ia melakukan inovasi baru yakni membuat kompor pintar agar mendongkrak penjualan pisang gorengnya. Memang pisang goreng pasir terus digoreng hingga kering. Salah satu rahasia selain pada bumbu yaitu minyak goreng yang diganti setiap enam jam penggorengan. Dari kompor pintar itu membuat bisnis ini jadi lebih hemat. Rata- rata penggorengan tanpa kompor pintar ini, pisang goreng akan benar matang setelah 15-20 menit, sekarang hanya 10 menit sudah matang.

Wildan tetap mencari celah lain agar bisnisnya tetap disukai. Hingga memanfaatkan aneka inovasi agar bisa selalu di hati. Bicara tentang kesempatan waralaba atau franchise si empunya sama sekali belum terpikirkan. Wildan tak mau bisnisnya menurun kerena memilih menggunakan sistem waralaba. Jadi kalau ada mengaku- ngaku ada harapnya mengecek lagi.

"Saya sementara ini belum ada niat untuk Franchise, takut kualitasnya turun nanti jadi senjata makan tuan." ujarnya mantap.

Waralaba palsu


Masyarakat kini harus lebih hati-hati untuk membuka usaha waralaba. Pasalnya beberapa pemilik hak paten mengaku produknya dipalsukan melalui blog di dunia maya untuk kepentingan segelintir. Hal tersebut dialami juga dialami pemilik usaha sekaligus pemegang hak paten Pisangku ini. Beberapa bulan lalu, pemilik hak paten Pisangku, Wildan telah dikagetkan dengan munculnya sebuah blog aktif mengatas namakan pemegang hak paten Pisangku.

Blog tersebut menjual resepnya kepada masyarakat untuk membuka waralaba. Kejadian itu bermula, disaat salah seorang kerabat Wildan mengetahui adanya blog yang beralamatkan di pisangpasir.blogsopt.com dan juga di pisangpasir.wordpress.com. "Blog tersebut mengaku pemilik hak paten pisangku, dan menjualnya kepada para warga yang hendak membuka frances. Bahkan sudah ada yang membeli hak paten itu, dan membuka cabang Pisangku di daerah Tuban, Solo, Tasikmalaya, dan Bandung," katanya.

Atas informasi dari blog itu sendiri, Wildan pun langsung berpura- pura saja mau membeli hak paten. "Saya langsung ke Solo tempat pelaku yang mengaku memiliki hak paten pisangku," ujarnya. Namun, setelah disambangi, kedua pelaku yang merupakan ayah dan anak yang bermana Ahmad Fauzi dan Muhammad Akbar awalnya tak menyangka jika Wildan pemilik hak paten Pisangku sendiri. Namun setelah sadar jika yang datang adalah sang pemilik maka mereka berdua mengaku salah.

Setelah itu, si pemalsu merek tersebut akhirnya harus membayar sejumlah denda uang karena telah terbukti memalsukan merek dan menjual produk Pisangku tanpa izin sang pemilik. Website resminya: pisangku.com, untuk informasi waralaba dan sebagainya.

Artikel Terbaru Kami