Minggu, 30 Maret 2014

Usaha Perlengkapan Gunung Bisnis Untung


Biografi Peres Ariranto Pangabean 


Hobi memang bisa jadi bisnis tapi kalau hobi anda tentang olah raga satu ini, apa bisnisnya? Kita pasti punya hobi apapun itu. Penghilang stress bisa jadi alasan utama bagi anda yang belum menemukan hobi anda. Lalu bagi yang telah memiliki hobi kenapa tidak dibisniskan saja. Almarhum Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo. Salah satu cara yang ia lakukan untuk menghilangkan kepenatan pekerjaan dan stress tentunya hobinya sendiri, yakni mendaki gunung. 

Begitu pula seorang Peres Ariranto Pangabean, berawal dari hobi mendaki gunung bersama kakak dan teman- temanya, pria yang akrab disapa Peres ini terinspirasi berbisnis perlengkapan gunung. Sayangnya, anak dari 3 bersaudara ini bukan terlahir dari keluarga berada. Ayahnya, Timbul Pangabean, bekerja sebagai supir angkot, sementara sang ibu, Susiani berprofesi sebagai penjual sayuran yang bertempat tinggal di Kampung Tipas Mekarsari, Cimanggis, Depok.

Bisnis nekat


Berbagai halangan menghalangi langkah kecilnya memasuki dunia bisnis. Ide saja tidaklah cukup meski telah ditunjuang tekat bekerja keras. Apalagi yang dibutuhkan seorang Peres adalah modal yang tak sedikit. Dari keluarga sederhana itu pula semangat bisnisnya kian menggebu. Keluarga lah yang menjadi pendukung utama langkah sang pengusaha muda. Sang kakak kandung, Tongam Sopiantoro, kerap memotivasi Peres untuk lebih maju.

Dukungan sang kakak, juga diwujudkan pada saat mereka mencari tempat yang digunakan untuk tempat berdangan miliknya di samping Universitas Pancasila, Jakarta Selatan. Outlet seluas 2×3 meter persegi tersebut, dibanderol dengan harga Rp6 Juta per tahun. Kedua kakak beradik tersebut memang tidak punya modal sedemikian besar. Uang sewa Rp.6 juta lalu ditambah membeli perlengkapan mendaki merupakan nilai nominal yang sangat tinggi.

Di tahun 2006, keduanya mengajukan pinjaman ke bank dengan jaminanan surat tanah milik orang tua. "Dulu nyari modal pinjam dari bank Rp5 juta, tapi yang cair cuma Rp2,5 juta," kenang Peres kala berbincang dengan Okezone di salah satu outlet-nya cabang Depok, Jawa Barat beberapa waktu lalu. Masih saja tak cukup, alhasil Peres ikut menjual kendaraan kesayangannya. "Saya sampai jual vespa waktu itu," tambahnya.

Setelah cukup modal jadilah satu outlate dibuka sebagai awal baru. Outlate yang meminjam nama sebuah gunung di Aceh, Lauser. Nama itu kemudian dipatenkan menjadi merek produknya. "Dulu abang dan teman-temannya mendaki gunung Leuser di Aceh, lalu bersama ketiga temannya memilih nama Leuser untuk produk ini," jelas dia.

Masalah lain muncul setelah tempat berjualan itu ada, yaitu begaimana menjual produk. Ia memang tidak punya pengalaman berbisnis sebelumnya. Menyewa seorang marketing bukanlah opsi mereka saat memulai bisnis baru. Jangankan menyawa seorang marketing, untuk menyewa seorang penjaga keamanan saja tidak mampu. Oulate tersebut dijaganya bergantian dengan kakaknya sekaligu tetap berkuliah. Bisnis tersebut memang dijalankan sambil kuliah sambil menjual produknya.

Berawal dari taman- teman mereka sendiri jadilah produk buatan Peres dikenal orang. "Dulu setiap bawa barang ke kampus temen-temen malah pada tertarik. Mereka malah mampir ke outlet, soalnya kata mereka lebih lengkap di outlet," jelas Peres. Bisnis ini dijalankan olehnya secara serius. Pria kelahiran Jakarta, 21 Oktober 1985 ini sengaja memilih pendidikan administrasi niaga. "Saya milih kuliah ngambil jurusan administrasi niaga memang niatnya nanti mau ngembangin usaha bareng abang," tuturnya.

Cara marketing yang dilakukan Peres dan kakaknya tergolong sukses menarik pelanggan ke tokonya. Dengan omzet awal sebesar Rp10 juta-Rp15 juta per bulan, membuat tempat yang awalnya dia sewa dipermanenkan tepat di 2011, sekaligus menjadi outlet resmi Leuser yang pertama. Suksesnya tak lepas dari keikutsertaan dirinya dalam Ikatan Asosiasi Adventurer Indonesia, organisasi para pengusaha dibidang jual beli peralatan outdoor.

Peres mengaku outlet- nya akan kebanjiran order dibulan Juni dan Desember, karena pada bulan tersebut bulan liburan dan banyak orang bertreveling ke gunung. Dari satu outlet, kini, ada setidaknya enam outlet baru di wilayah Cibubur, Margonda Depok, Ciputat, Kramat Jati, dan Kalimalang, kawasan Universitas Pancasila. Dengan omzet mencapai Rp150 juta per outlet, Peres kini memiliki sekira 25 karyawan di enam cabang outlet Leuser miliknya.

Sekira 15-17 merk peralatan gunung ia jual di enam cabang outlet berbeda. Dengan permintaan konsumen yang kian meningkat setiap bulannya.

Motivasi bisnis


Ia mengaku tak menyangka bahwa usahanya bisa berjalan hingga sekarang. Kini, enam outlet itu berjalan sangat baiknya memberikan keuntungan jutaan rupiah. Tak lantas berbangga hati jadi prinsip pria yang bisa sukses relatif cepat ini. Motivasi bisnis itu tumbuh lantaran seringnya membaca profil pengusaha- pengusaha sukses di bidangnya, seperti Chairul Tanjung dan sebagainya. Prinsipnya anda harus banyak membaca profil pengusaha- pengusaha agar tetap bersemangat.

"Mereka saja bisa, kenapa saya tidak, mumpung masih muda diumur saya 27 ini," tukasnya tersenyum.

Selain itu, sebagai tambahan, ikut serta dalam organisasi itu bisa jadi tambahan. Anda akan mendapatkan keuntungan berupa wawasan tentang bisnis yang anda geluti. Peres berujar di pertemuan mereka bisa saling berbicara tentang mengembangka usaha atau membahas kendala. Semangat kebersamaan itu yang membuat mereka bersatu bukannya saling sikut sebagai sesaman pebisnis. Kalau bisa bekerja sama dan jadi lebih besar kenapa musti saling sikut.

Meski tak saling sikut, persaingan dengan pengusaha peralatan outdoor lain masih ada. Peres menganggap itu penyemangat bisnisnya, untuk mengambangkan bisnis katanya. menurutnya jika tidak ada saingan maka usahanya tidak akan seperti yang ia jalani saat ini. Intinya, jelas dia, harus tetap berpikiran positif. "Saya percaya kalaupun enggak ada modal yang penting ada niat, jangan mudah menyerah dan yang penting bekerja keras, itu akan membawa kita pada kesuksesan," ungkap Peres lagi.

Tambahan lain yaitu kunci sukses juga terletak pada pegawai yang loyal terangnya. "Zaman sekarang orang pintar banyak, tapi orang jujur susah," kata Peres. Ke depannya, ia berencana mengembangkan usahanya dengan membuka cabang outlet Leuser di seluruh daerah di Jabodetabek. Dengan saving money 20 persen dari keuntungan yang didapat, Peres menyisakannya untuk memenuhi kebutuhan outlet-nya satu per- satu.

"Meskipun bapak sopir dan ibu tukang sayuran dulu, tapi sekarang saya sudah bisa mencukupi semua yang mereka perlukan," tukas dia.

Artikel Terbaru Kami