Minggu, 23 Maret 2014

Tukang Siomay Bisa Punya Anak Dokter

Siomay Kang Cepot Yogyakarta

 

Nama aslinya sih bukanlah Cepot tapi Mudiarjo. Ini cuma nama bisnisnya saja siomay Kang Cepot. Kalo nanti dilihat dari nama pastilah menyangka asalnya dari Jawa Barat; namun kamu salah. Siomay Kang Cepot, bisnis jajanan khas Bandung yang telah dibukan sejak tahun 1987, tapi bukan ada di Kota Bandung. Sang peracik selalu mempertahankan rasa siomaynya. Hingga sekarang rasa siomay itu masih terasa enak. Rasanya seperti pertama kali Bapak Mudiarjo pernah dibuat.

Dari tahun ke tahun, pria yang akrab dipanggil pak Mudi, selalu mencoba mengolah sendiri dan memastikan rasa khas miliknya. Sejak kecil ia dilahirkan dari keluarga yang sangat sederhana. Ia ikut serta membantu memenuhi kebutuhan keluarga sejak kecil. Hingga menginjak usia remaja, dia ikut orang untuk berjualan siomay ke kota Bandung. Setelah belajar cukup banyak, pak Mudi memilih kembali ke Purbalingga disaat pemilihan lurah.

Lalu beliau mencoba meminta bantuan modal kepada lurah terpilih untuk berjualan siomay lagi. Alhasil dia berhasil juga mendapatkan modal sebesar Rp.250 ribu. Bermodal pinjaman 250 ribu, jadilah pak Madi berjualan siomay seperti impiannya. Ia lalu berjualan dengan gerobak lengkap dengan perlatannya. Dari situ, dimulailah usaha barunya berjualan siomay dan berkembang kian harinya. Dia dapat melunasi pinjaman modalnya. Namun usahanya tak jarang sepi pembeli, ini bukan perkara mudah ternyata.

Pak Mudi pun mengakali penghasilan hariannya dengan sekedar mengayuh becak. Pada tahun 1987, atas ajakan seorang teman, lelaki kelahiran Banjarnegara 54 tahun ini memilih mencoba peruntungan di kota lain, Yogyakarta.

Merantau bisnis


Di Yogja pun masih berjualan siomay dan sekali- kali bekerja lain. Dia masih mengayuh becaknya dan juga beberapa kali jadi buruh tani. Semuanya demi menghidupi istri serta enam orang anak. Selain Yogya, dia berjualan siomay di Pekalongan, Semarang dan Solo. Namun pada tahun 1994 akhirnya Pak Mudi beserta segenap keluarga mengontrak rumah memilih menetap di Yogyakarta. Rumah kontrakan itu juga digunakan sebagai tempat berjualan.

Mulai tahun 1994, ia tak mau lagi berjualan berkeliling sambil mendorong grobak. Dia memilih membuka warung menetap di satu tempat saja. Kini kamu dapat menjumpai Siomay Kang Cepot di Jl. Kaliurang KM 8,5 Dayu Sinduharjo Ngaglik, Sleman. Jika dulu pak Mudi menamai usahanya Siomay Super, setelah itu memiliki tempat sendiri, beliau memberi nama usahanya "Siomay Kang Cepot". Aneh memang tapi terbukti nama tersebut memberi hoki tersendiri.

Nama Cepot merupakan tokoh wayang khas Jawa Barat begitu melekat. Semuanya masih dikerjakan sendiri olehnya dari membuat bumbu hingga meracik siomaynya. Jika sakit itu datang menemui badan tuanya, maka dua orang karyawan yang menggantikan. Siomay dijual Kang Cepot ada 2 jenis rasa; rasa biasa dan spesial. Dikatakan spesial karena full tengiri jadi rasanya sangat yummi. Siomay rebus dan goreng dijualnya Rp 1000/ biji, sedangkan untuk siomay super/ tengiri, ia jual seharga Rp 2.500/biji.

Isinya selain siomay tengiri yaitu ada tahu, kubis/kol, pare, telur rebus dijual sama Rp 1000/bijinya. Pembeli pun dipersilahkan memilih sendiri menu siomaynya. Sekarang Siomay Kang Cepot mulai dikenal masyarakat Jogjakarta. Pak Mudi sudah bisa mempekerjakan 15 orang dengan upah Rp 600ribu sampai Rp.900 ribu. Diantara karyawannya bahkan ada yang sudah 11 tahun membantunya membangun usaha tersebut.

Siomay Kang Cepot akan buka setiap hari pukul 9 pagi hingga jam 10 malam. Ia mengaku omzet bisnisnya sekarang bisa mencapai Rp.4 juta/hari. Dari usaha itu pula, Pak Mudi sukses menyekolahkan dua putranya di sekolah kedokteran di Solo dan Purwokerto. Dengan latar belakang hanya pendidikan kelas satu SD, Pak Mudi bermodal tekat serta kerja keras memulai bisnis ini. Tekat lain yang membawanya yaitu keinginan agar anak- anaknya bisa bersekolah tinggi.

Dia, sosok yang yakin bahwa Tuhan lah yang menentukan rejeki bagi dirinya dan keluarganya.

Artikel Terbaru Kami