Sabtu, 01 Maret 2014

Bisnis Nol Besar Khas Bakso Ayu

Kisah Gerobak Pengusaha



Sukses itu terkadang butuh lebih lama daripada kita bayangkan. Terutama bagi mereka memulai dari sangat nol. Butuh tidak hanya keberanian dan kesabaran namun kemampun agar selalu belajar terus. Seperti kisah Erwin Nalfa, 34 tahun, sukses didapat dari bisnis Bakso Ayu. Berawal dari pekerjaannya di Balai Benih Ikan (BBI) di kampung Simpang Kelaping, kecamatan Pegasing, Aceh Tengah. Berawal dari pekerjaan yang tak memberinya pendapatan cukup.

Dia harus berpikir keras lagi memenuhi kebutuhan sehari- hari. Hingga sangat terpaksa atau kepepet untuk memenuhi kebutuhan sahari- hari. Erwin terpaksa bekerja lagi; memulai usaha sampingannya yakni berjualan bakso. Ia berjualan bakso keliling meski sangatlah menguras tenaga. Dengan kurangnya keahlian, ini menjadi satu- satunya usaha lain. Dia dibantu oleh istrinya, Nurmala, keduanya saling bahu membahu berbisnis bakso. Meski keduanya tak tau kemana arah menuntunya.

Sang istri menjadi tempat kembali dan bercerita tentang getirnya hidup sehari- hari. Kesabaran serta rasa cinta sang istri memapu menggerakan hati Erwin lebih giat lagi bekerja. Dia bertekat kelak nanti bisa membahagiakan istrinya dan anak- anaknya. Cuma berbekal bakso, tumbuhlah kepercayaan usaha itu akan sukses kelak, menghasilkan lebih banyak pendapatan. Bekerja keras, sosok Erwin yang  bertubuh kurus itu harus berkeliling mendorong gerobak yang lebih besar dari badannya.

Dia menyusuri tiap gang- gang dari satu kampung ke kampung. Erwin berkisah bahwa dia terus mendorong gerobak itu selama tiga tahun. Dari 2003 sampai 2006, banyak hal telah didapati dalam mengarungi hidup. Tiap hari ia harus mengetuk- ngetuk mangkuk bakso lalu berteriak nyaring "bakso, bakso, bakso!" Dia terus berjalan hingga orang memanggilnya membeli bakso.

Di sisi lain, setiap hari terus mengasah kemampuan dan ketrampilannya mengolah panganan berbentuk bulat itu.

"Kegembiraan yang sangat tak disaat saya dipanggil oleh pembeli," kisah Erwin.

Dia selalu melayani pembeli bermodal senyuman, walau tubuh terasa lelah. Jarak tempuh jualannya tidaklah dekat tapi sampai berkilo- kilo meter. Rute perjalanan jualan kelilingnya dimulai dari tempat tinggalnya di BBI Simpang Kelaping menuju ke Kampung Pedekok, kemudian kembali lagi ke Simpang Kelaping, kemudian beristrirahat sejenak. Dia akan malanjukannya kembali sampai ke Kampung Kayukul, sampai akhirnya pulang ke rumahnya.

Merubah nasib


Waktu bekerjanya sangatlah berat kerena mengerjakan dua pekerjaan sekaligus. Tidak, lebih dari itu, ia juga harus membuat bakso sendiri, menjualnya, dan bekerja di BBI. Di pagi hari tepatnya, ia berlari untuk bekerja sebagai pegawai di BBI dan siangnya berjualan bakso. Itupun tak langsung laku terjual semua dagangan yang dibawanya melalui gerobak. Dia bisa bekerja sampai sore, rasa kelelalahan dan kejenuhan itu menghantui. Ia tak mau terbenam dalam persaan itu.

Dia bertahan untuk menghidupi ke-3 anaknya, Ayu Listianalfa, Najwa Alfina Nalfa dan Chairil Nalfa. "Ke-tiga anak sayalah yang menjadi sumber tenaga bagi sehingga tidak merasa kelelahan setiap harinya," kata Erwin dengan mata berbinar. Dia berbagi cara suksesnya yaitu tidak mematok harga terntu untuk anak- anak. Ia menganggap mereka seperti anaknya sendiri, merasa kasihan. Namun, cara semacam itu ternyata berhasil membuat anak- anak itu pelanggan tetap. Mereka selalu menunggu kedatangan Erwin.

Tiga tahun lamanya bisnis miliknya dijalankan dari satu kampung ke kampung lain. Dia cukuplah bermodal gerobak sebagai tempat dagangan. Pada akhir 2007, dengan keyakinan, Erwin memutuskan untuk menyewa sebuah rumah sebagai tempat berjualan bakso. Perlahan tapi pasti usahanya telah membuahkan hasil. Erwin bahkan mampu membeli sebidang tanah untuk dijadikan ruko. Di sanalah, ia membuka bisnis bakso kembali dan lebih laris daripada sebelumnya.

Kini Erwin telah menjelma menjadi sosok pengusaha bakso, bukan penjual bakso. Dia tak lagi mendorong gerobak dan mengetuk mangkuk bakso hingga malam. Kebahagiaan itu telah tiba ketika ia, kini, mampu untuk menghasilkan tiga juta rupiah per- harinya. Dia tak merasa sombong atapun berhenti bergaul dengan warga sekitar. Dia yang warga pendatang asal Kayukul sangat akrab dengan tetangga dan warga lain. Erwin pun tak lupa aktif memberikan zakat apabila telah mencapai hisabnya.

Bakso yang diberninya nama Bakso Ayu terlihat sangat ramai, terutama ketika sore. Bahkan jalan disekitar tempatnya berjualan terlihat macet kala sore menjelang. Dia menjual Bakso Ayu- nya seharga Rp.6.000 per- mangkuk. Rasanya cukup enak, ditambah dijajakan di kampung Kayukul, kacamatan Pegasing, kabupaten Aceh Tengah. Kesuksesan "Bakso Ayu" bersumber dari keyakinan dan ketekunan berbisnis dari nol hingga sukses menjelma.

Artikel Terbaru Kami