Sabtu, 29 Maret 2014

Resep Rahasia Telur Asin Bu Pinik

Sukses Telur Asin Rumahan



Kisah sukses ini tentang bisnis kecil menengah jarang dilirik orang. Memang berbagai alasan dilontarkan para pengusaha tentang usaha telur asin. Bisnis tradisional atau jadul padahal masih digemari produknya. Sayang akan sulit pengemasan serta marketingnya keluar. Ibu Pinik, pengusaha wanita serta pemilik merek dagang telur asin EL, bercerita bagaimana dirinya terinspirasi banyaknya peminat telur asin. Ditambah untung jumlah pesaingnya juga terhitung jarang.

Banyak pebisnis enggan mengolahnya serius- serius. Sementara itu bicara tentang bahan baku di daerahnya, telur bebek begitu berlimpah. Di daerah asalnya, telur- telur bebek begitu melimpah ruah siap diolah. Meski awalnya sempat ragu, akhirnya, ia tetap menjalankan usaha tersebut. Dimulai dari ide simple saja, mulailah ia mengerjakan telur bebek menjadi telur asin khas buatannya. Percobaan pertama gagal karena telur- telur itu jadi terlalu asin dikonsumsi.

Setalah beberapa kali mengalami kegagalan akhirnya resep telur asin itu jadi. Bu Pinik sukses membuat resep telur asinnya sendiri, lalu memasarkan produknya ke teman- teman terdekat serta keluarga. Apresiasi dari teman- teman dan keluarga terhadap produk telur asinnya membuat semangat lagi. Bu Pinik kemudian terus memproduksi telur- telur asin tersebut untuk dijual. Namun masalah baru muncul setelahnya. Karena ia tidak pandai berjualan.

Tapi beda dengan pebisnis mapan. Pinik tak punya beban cari untung besar- besaran. Meski Hanya bisa memproduksi telur-telur tersebut, kemudian menunggu teman atau keluarganya membeli telur-telur itu; ia terus melakoninya. Ia belum pernah mempunya pengalaman berjualan apapun. Padahal, jika ingin usaha telur asinnya ini bisa saja berkembang lebih lagi. Bu Pinik harus memasarkan produknya secara luas, dan tentu jadi bagian tersulit dalam bisnis tradisional.

Dari artikel yang pernah dibacanya, saran teman- teman dan keluarga, maka jadilah ia menitipkan telur- telur itu ke toko- toko kue atau depot makan. Mungkin bagi kamu yang biasa berjualan akan mudah meminta mereka dititipi.

Tetapi bagi Bu Pinik satu hal ini bisa menjadi bagian tersulit dalam usahanya saat itu. Pertama kali, ia rasakan apa itu kegagalan. Dia banyak menerima penolakan dari pemilik usaha. Alasannya karena produk buatannya masih belum dikenal jadi sistem titip tidak bisa dilakukan. Padahal waktu itu ia bahkan rela telurnya dicicipi oleh si pemilik toko kue tersebut; tetapi tetap saja penolakan lagi. Begitu pula depot makanan pertama yang dikunjunginya.

Mereka menolak karena menganggap telur asinnya itu belum tentu diminati oleh pengunjung depot tersebut. Diman hari pertama akhirnya dilalui cuma bertangan hampa. Tidak ada satupun toko ataupun depot yang dikunjunginya itu mau menerima titipan telur asin. Hal itu berlangsung selama beberapa hari, bahkan hampir dua minggu pertama ia tidak mendapatkan tempat menitipkan produknya. Putus asa? Jujur, Bu Pinik nyaris putus asa berjualan telur asin.

Sempat dia berpikir bisnis ini tidak akan bisa berlangsung lama. Selain karena tidak punya pengalaman, telur asin punya jangka waktu jika disimpan terlalu lama. Memang telur asin tanpa bahan pengawet akan bertahan selama sekitar dua hingga tiga minggu. Jika lebih dari itu, maka rasa dari telur asin itu akan sangat tidak enak dikonsumsi hingga menimbulkan bau tidak sedap. Dan jelas, telur asin seperti ini tidak akan bisa dijual dan harus dibuang.

Dalam keputusasaan, dia tetap berpikir postif bahwa kelak telur asin buatanya akan bisa diterima. Dia masih percaya bahwa telur asin buatanya bisa jadi makanan favorit. Tapi bagaimana hal tersebut bisa terjadi jika menaruh satu butir telur asin ke toko saja tidak sanggup. Pikiran positif membawa kakinya berkeliling terus mencari toko- toko dan depot dititipi. Target pemasaran juga diturunkan tak lagi terpaku pada toko- toko besar atau depot makan.

Bu Pinik menjual terlurnya ke warung- warung makan pinggir jalan. Hingga, akhirnya, ada satu warung kecil mau menerima titipan telur asin tersebut. Berawal dari sepuluh butir telur cuma seminggu. Bertambah menjadi dua puluh butir seminggu hingga akhirnya, di satu warung itu, ia mampu menjual lima puluh butir seminggu. Ternyata pikiran positif itu membantu bisnsnya masuk ke pangsa pasar yang tak terduga. Sosok Bu Pinik terus membangun perasaan percaya diri akan kualitas produk andalannya.

6 tips sukses


Tak mau berhenti mencoba menjadi moto yang melekat. Bu Pinik memberikan beberapa hal tentang bisnis. Menjadi pengusaha tak harus mempunyai pengalaman segudang dalam penjualan. Karena pikiran positif bisa jadi senjata ampuh melawan kemalasan pada diri serta rasa putus asa yang menguras hati.

Berikut 6 hal yang bisa dipelajari dari kehidupan Ibu Pinik dari sifat positifnya, sang pengusaha terlur asin:

1.Tantang bukan masalah. Saat berpikir positif semua hal terlihat berbeda dengan bepikir emosional. Jika saat itu Bu Pinik memilih berhenti, ia telah melepaskan kesempatan menjadi pengusaha. Dia telah melepas kesempatan menjadi pebisnis dari bisnis yang jarang ada. Sudut pandang positif memberi efek berbeda ketika melihat masalah, makan masalah terlihat selalu ada jalan. Kita akan selalu memikirkan solusi ditiap tindakan kita.

2. Menjadi lebih terbuka. Bepikir positif memberikan keterbukaan atas lingkungan sekitar. Jika Bu Pinik saat itu  tidak terbuka atas segala saran, yakinlah bisnisnya akan berhenti. Dia akan berhenti dititik menjual telur asin kepada teman dan keluarga. Hati dan diri kita pribadi untuk menerima berbagai hal-hal baru yang akan mengubah kehidupan kita menjadi lebih baik. Kita akan dengan senang hati menerima kritik atau saran yang bisa membantu kita untuk instropeksi diri dan kemudian bangkit dengan perkembangan.

3. Terbiasa menggunakan bahasa positif. Berpikir positif membuat anda selalu berbicara positif. Pengusaha yang baik ialah mampu meyakinkan pembeli atau rekan kerja. Bagaimana bisa percaya jika ucapan anda selalu negatif? Pastikan bisnis anda berjalan dengan berbicara bahasa positif, dan yakinkan orang disekitar anda. Bu Pinik berusaha mendekati teman dan keluarga karena mereka positif. Dan, jika setiap kata yang dikeluarkan olahnya hanya kejelekan, telur asin itu berubah sama jeleknya.

4. Berbahagia. Menjadi pengusaha juga tentang sejauh mana anda bahagia. Kata- kata passion, lakukan apa yang kamu suka pastilah berhubungan dengan kebahagiaan. Bagi Ibu Pinik membuat telur asin merupakan kebahagiaan dari proses panjang mencari resep. Apakah semudah itu membuang kebahagiaan lalu berhenti sama sekali membuat telur asin. Itu tidak akan terjadi.

5. Lebih banyak bersyukur. Pikiran positif selain menyemangati di saat jatuh, tapi juga jadi pengingat. Kita akan melihat semua karena sebab akibat. Seperti bersedakah membawa rejeki, berpikir positif membawa jalan solusi. Mudahnya, jika kita positif, kita tak akan lupa pada hukum sebab akibat, semua bisa terjadi di dalam bisnis.

6. No excuse. Bahasa gaulnya "tak ada alasan", antara lan tak ada alasan untuk berhenti dari kebahagiaan, tak ada alasan untuk tak berinovasi, dan tak ada alasan untuk berdiam diri. Jadilah pengusaha bukan tentang seberapa besar nilai bisnis tapi tentang tak ada alasan untuk berhenti dan mundur dari sekarang.

Artikel Terbaru Kami