Selasa, 11 Maret 2014

Manfaat Lidah Buaya Buat Bisnis Kamu

Profil Pengusaha Sukses Sunani



Tanaman satu ini dikenal menjadi salah satu bahan pembuatan kosmetik. Tak disangka teksturnya lembut dan kenyal itu bisa menciptakan cita rasa tersendiri. Mungkin akan agak aneh di mulut jika kamu tak benar dalam mengolahnya. Selain lidah buaya dijadikan bahan baku sampo atau sabun satu dekade, ternyata ini juga bisa diolah menjadi aneka produk jajanan. Produk paling terkenal yah aneka jeli, atau bahkan dijadikan jajanan dodol; makanan khas satu ini sama- sama kenyalnya.

Ini kisah Sunani sukses memproduksi jeli dan dodol lidah buaya. Sunani (39 tahun) memang salah satu sosok pelopor suksesnya lidah buaya di kota Pontianak. Bahkan produk tersebut sudah seperti khasnya sendiri. Modalnya kesenangan membuat kue, wanita lulusan sekolah menengah atas ini, akhirnya mencoba membuat jeli dan dodol lidah buaya. Tepatnya di 2004, ia mulai berani menggunakan bahan Aloe Vera dalam racikan produknya itu.

"Saya mencobanya dalam jumlah yang sedikit," ujarnya.

Di awal ia hanya memproduksi satu kilogram lidah buaya menjadi jeli atau dodol. Pada awalnya, dijualnya lewat dititipkan, produk olahannya itu dititipkan ke toko oleh- oleh khas Pontianak. Sayangnya, respon awal masyarakat ternyata tidak sebagus Sunani harapkan. Mereka masih asing dengan produk olahan lidah buaya. Sunani justru menilai wajar mengingat bahan baku lidah buaya memang asing.  Lidah buaya tak selaris olahan lain seperti rumput laut yang pernah ngetren dulu.

"Mengolah lidah buaya menjadi makanan memang harus sabar, prosesnya agak lama. Konsumen yang membeli produk makanan olahan lidah buaya pada masa awal itu umumnya mereka yang tahu khasiatnya," ujar Sunani.

Sunani memanfaatkan daging si lidah buaya menjadi bahan baku produknya. Proses pengolahannya memang agak rumit menjadi jeli atau dodol. Ia harus mencuci lima hingga enam kali hanya sekedar menghilangkan lendir. Selanjutnya baru lidah buaya tersebut direbus. Untuk bisnis rumahan ini, Sunani harus bekerja ekstra terutama memperkenalkan produknya. Dia harus tau seluk beluk lidah buaya sebagai bisnis, yaitu dari rasa, gizi, dan cara marketingnya.

Upayanya meluputi mengikuti berbagai pameran, menitipkan produknya ke toko- toko di berbagai tempat, dan Sunani juga memperkenalkan produknya dari mulut ke mulut. Dalam tahun pertama, ia sukses mengolah produk lidah buaya hingga 200 kilogram. Dibantu lima pekerja, di tahun pertama, ia mampu mengantongi omzet senilai 20 juta per- bulan. Supaya lebih dikenal produknya, Sunani dibantu suaminya, Jifung (41 tahun), kemudian menamai produk ini sebagai Isunvera.

Bisnis tumbuh


Tiga tahun pertaman berbisnis lidah buaya, Sunani fokus satu pasar saja. Awal- awal, Sunani memilih pasar Pontianak buat berbagai makanan olahan baru. Produk- produk baru Isunvera meluputi kerupuk, minuman, dan teh. Khusus teh bahan bakunya terbuat dari kulit lidah buaya. Ia juga berhasil mengolah kulit lidah buaya jadilah bisnisnya tak menghasilkan limbah. Tidak hanya daging saja, ada kulitnya bisa jadi teh tapi tidak termasuk durinya; hanya duri menjadi sisa- sisa produksinya.

Setelah delapan tahun, kini, Sunani bisa menghabiskan 2 ton bahan baku lidah buaya tiap harinya. Modalnya kebun belakang rumah seluas 2 hektar, dari sana Sunani bisa panen satu ton bahan baku di pabrik kecilnya. Sisanya akan diperoleh dari enam petani yang bersedia bekerja sama. Mereka para petani rela tanahnya ditanami pohon lidah buaya menjadi sumber bahan baku bisnisnya. Saat ini, ia dibantu oleh 35 pekerja yang kesemuanya ialah perempuan.

Sunani mempekerjakan anak- anak putus sekolah yang hanya lulus sekolah dasar. Selain pasar lokal yaitu Pontianak, Isunvera telah masuk ke daerah lain seperti Yogyakarta, Balikpapan, Bangkalan Bun, dan Banjarmasin, dalam waktu dekat Isunvera juga didistribusikan berdasarkan permintaan pasar. Ia yang kala itu masih berbadan dua atau hamil tetap semangat mengembangkan bisnisya. Kendati hanya lulusan sekolah menengah atas; produknya telah masuk pasar Brunai dan Malaysia.

Kendati omzetnya kini tembus angka ratusan juta, ia tak berminat mengambil pinjaman bank. Ia dan suami merasa takut jadi beban karena segala cicilan bunga tersebut. Baginya bisnis rumahan itu sangat berarti untuk sekedar dikorbankan. Bagaimana tidak bisnis sampingan ini telah nampak geliat akan terus tumbuh. Tidak ada kata berhenti buat Sunarni bersama Isunvera.

"Bunga pinjaman bank tidak pernah kecil dimanapun itu," ujarnya.

Produk Isunvera antara lain  produk coklat, teh, jeli, dan sabun, mampu menghasilkan sekitar 2.000 bungkus per- produksinya. Ia menambahkan omzetnya tahun 2013 telah bisa mencapai 100 juta.

Itu kerena 16 jenis produk berbeda yang telah dijual hingga manca negara. Sunani juga tak menampik jika ada permintaan tambahan volume terus. Dia menegaskan tak mau mengecewakan mereka. Sunani bersama karyawan bahkan berniat siap lembur hingga larut malam memenuhi permintaan pasar. Tambahan modal hanya diperoleh dari keuntungan disisihkan setiap bulan. Puncaknya, di tahun 2012, permintaan tambahan mencapai 15 ton per- minggu itu, yang datangnya dari Ibu Kota Jakarta.

Mau tak mau itu akhirnya jadi kendala tersendiri. Meski sudah berniat lembur tapi ini benar- benar banyak sekali. Untuk sekarang, Sunani bertekad menambah produknya menjadi 20 jenis pada akhir 2012, termasuk bakso lidah buaya yang baru diproduksi belum lama ini. Bicara tentang peran, sang suami sendiri bertugas memilhara panen dan distribusi bahan baku. Sementara Sunani sendiri bekerja masalah produk dan sumber daya manusia; keduanya saling bahu- membahu.

Artikel Terbaru Kami