Selasa, 25 Maret 2014

Jualan Tahu Isi Tuna Pembawa Berkah

Kisah Sukses: Tahu Bakso Tuna



Tahu adalah makan ringan akrab di mulut orang Indonesia. Tak hanya dijadikan lauk, produk tahu juga bisa dijadikan makanan ringan. Para pengusahanya pun berlomba menciptakan sesuatu yang baru tentang olahan ini. Sebut saja tahu organik mengandalkan bahan utamanya sehat tanpa kimia. Ada pula yang berkreasi gila menggabungkan tahu dengan olahan lain.

Tahu isi bakso salah satunya. Tapi bagaimana jika tahu isi bakso tuna, terdengar aneh, tapi patut dicoba oleh kamu yang berminat berbisnis. Bisnis kuliner memang tak akan pernah surut langkah berkreasi. Industri satu ini lebih menonjol dari industri lain yang berbasis bahan mentah. Mudah dijual menjadi moto bisnis kuliner di masyarakat. Asal ada sesuatu terlihat baru dan unik seperti halnya tahu berisi tuna; akan laris manis. Tahu yang sudah berprotein tinggi digabungkan tuna jadi terkesan mahal. 

Pengusaha bisnis tahu tuna, Sri Sumiarti, mengaku adonan isinya dikerjakan sendiri. Pemilik bisnis Olahan Tuna Pak Ran asal Pacitan bisa menghabiskan Rp.1,5- 2 juta per- hari.

Bu Sri berbelanja sendiri langsung ke pabrik tahunya. Kemudian mengolahnya lagi satu per- satu diisi tuna. Lantas tahu- tahu digoreng di wajan besar. Setiap hari, ia membutuhkan setidaknya satu kuintal ikan tuna sebagai isi. Dibantu suaminya, Pak Ran, Bu Sri telah menggeluti bisnis barunya sejak 2009. Produk awal olahan tuna Pak Ran berawal dari pepes tuna dan tuna bakar. Sang istri lah yang memunculkan ide tentang tahu tuna tersebut.

Tujuan awalnya untuk berinovasi ialah supaya usahanya tetap berkembang. Produk Tahu Tuna itu sendiri merupakan satu produk baru tahun itu.

"Kami baru mencoba awal tahun ini, permintaahnya banyak," ujar Bu Sri. Ia pun mampu memproduksi 1.500 bungkus. Tiap bungkus berisi 10 potong tahu isi tuna siap makan.

Dalam satu bulan Bu Sri mampu memproduksi 45.000 bungkus. Ia menjual satu bungkus tahu tuna seharga Rp 4.500 hingga Rp 5.000. Dari jualan tahu isi tuna ini, setiap bulan, Bu Sri mampu menangguk omzet antara Rp 200 juta hingga Rp 230 juta. Dia mengaku, awalnya produk cuma dipasarkan sebagai jajanan oleh-oleh wisata Pacitan.

Tapi karena rasanya sangat enak jadilah banyak orang memesan langsung ke dirinya. Orderan itu datang dari Surabaya, Solo, Malang, dan Yogyakarta. Sekali pasan saja orang- orang bisa sampai membeli 500 bungkus. Sama halnya dengan pengusaha lain yang menggarap produk sama, tahu tuna, seorang pengusaha asal Bogor, Dewi Indriani, memulai bisnis baru tahun 2011 jadi masihlah hangat. Seperti halnya Sri Sumiarti memilih tahu karena digemari banyak orang.

Membuat isi tuna bisa jadi trobosan terbaru dari usaha Dewi tiap harinya. Selain itu, ada keprihatinan akan kesadaran produk olahan bermanfaat ini. Ikan tuna memang dikenal kaya akan zat- zat gizi seperti protein dan omega 3. Meski baru beberapa tahun berbisnis, bisnisnya sudah punya pelanggan tetap. Ia mengaku punya pelanggan salah satu hotel di kawasan Bandengen, Jakarta Utara. Dalam sebulan, Dewi mampu memasok hotel sekitar 150kg, sisanya akan diedarkan ke restoran- restoran di Jabodetabek.

Ia mampu meraup omzet sampai nilai Rp.21 juta per- bulan. Dewi menjual produknya seharga Rp 40.000 tiaap ukuran 500 gram. Isi kemasannya terdiri dari 24 potong isi tahu. Dewi yakin bisnis pembuatan tahu tuna ini sangat menjanjikan ke depannya. Selain pemainnya masih lah jarang, dengan tambahan ikan tuna, gizi tahu tentu menjadi lebih tinggi. "Masalahnya ada di strategi pemasaran," ujarnya. Maklum lah, selama ini, dia mengandalkan pemasaran langsung; mendatangi hotel atau restoran.

"Mereka memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang nutrisi tahu tuna," tutup Dewi.

Artikel Terbaru Kami