Rabu, 26 Maret 2014

Jalan Menghadapi Krisis Moneter Ciputra

Kiat Menghadapai Krisis Keuangan



Fase kelam bukan akhir segalanya. Itulah ilmu yang perlu dipelajari setiap wirausahawan. Pengusaha harus bisa mampu melewati fase- fase mencari jalan keluar; meski seluas lubang jarum. Istilahnya kalo kamu tidak jadi pengusaha mau makan apa. Bapak Ciputra sendiri pernah mengalami hal tersebut. Pria yang digadang- gadang orang terkaya ke 27 ini pernah mengalami fase kelam. Fase kelam itu datang ketika krisis moneter 1998 yang menjadi satu pelajaran besar.

Ia membawa ketiga group bisnisnya mencapai puncak tertinggi. Tetapi keadaan bisnis keluarga miliknya ada pada fase kelam ketika dollar jatuh. Tepat 1998, ketika itu dollar nilanya naik drastis menyebabkan hutang membengkak. Perusahaan memiliki pinjaman hutang dimana mayoritas mata uang dollar. Jadi akhirnya, krisis moneter membuat hutang naik 5- 6 kali. Nilai perusahaan jadi menyusut karena hutang- hutang itu. Dilain hal penjualan juga turun drastis karena daya beli rendah.

Ini titik terendah penjualan ujar pria yang kini memasuki usia 80. Apa yang telah dikumpulkan Ciputra selama 35 tahun seolah lenyak begitu saja.

"Pada periode akhir 1997 sampai dengan Mei 1998, kehidupan saya juga menjadi penuh tekanan dan kecemasan," jelasnya.

Semua itu seolah hilang seketika hanya dalam waktu 6 bulan di tahun itu. Kala itu hutang perusahaan lebih besar jauh dari apa jangkauan kemampuan finansial keluarganya. "Saya merasa berada di titik nadir dan melewatkan banyak malam tanpa tertidur pulas," terang pria santun ini.

"Namun, syukurlah perjumpaan pribadi dengan kasih dan kuasa Tuhan, telah membuat saya memiliki kekuatan dalam menghadapi masalah. Saya memutuskan untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah dengan memadukan Integrity dan Excellence atau dengan menjaga integritas (kejujuran), berusaha menyelesaikan permasalahan secerdik mungkin sambil memohon pertolongan Tuhan," terangnya.

Ia menjelaskan lebih mendalam ada 3 strategi praktis dilakukannya kala itu.

Pertama, jadilah bertanggung jawab atas fase- fase itu, atau berani tidak lari dari tanggung jawab, atau juga melarikan diri dari Indonesia. "Memang ada rekan- rekan saya yang tidak tahan dari masalah dan memilih keluar Indonesia," kenangnya. Bapak Ciputra menunjukan mentalnya sebagai pebisnis tangguh. Bermodal satu yakni keyakinan akan kuasa Tuhan, jadilah dia tetap tinggal di tanah airnya, tanah kelahirannya tanpa pernah berpikir menetap di luar negeri bahkan sampai sekarang.

Suara- suara saran agar keluar dengan cara kabur (dari hutang) itu memang terdengar nyari. Akan tetapi ada suara hati nurani terdalam memilih tetap bertahan.

Kedua, ia memutuskan bertindak proaktif artinya mencari jalan terbaik. Ciputra memilih menemui mereka, para kreditur, merundingkan solusi terbaik satu per- satu. Dia bahkan berani menawarkan jalan inovatif meyakinkan mereka bahwa bisnis miliknya akan bertahan terus. Ia meyakinkan bahwa bisnis mereka akan kembali seperti semula sebalum krisis. "Saya dan tim saya menemui para kreditur dan membuka diri kami untuk dikritik dan dimarahi," ungkapnya.

Ini menjadi point kursial ketika kembali mengerjakan apa yang kamu miliki. Di poin ini, setelah itu point ke tiga, barulah mencari jalan bagaimana menutup hutangnya. Ciputra mengaku menjual semua asetnya untuk menutupi hutang. Dengan ketiga hal ini jadilah masalah terhenti sementara, sementara itu pemerintah mulai bekerja menyelamatkan dunia bisnis Indonesia. Kebijakan ini berdampak termasuk kepada permasalahan hutang perusahaan.

Bahkan bisa kembali bangkit menyongsong masa depan lebih baik. Saat ini contoh sukses Grup Ciputra, Grup Metropolitan, dan Grup Jaya, adalah contoh perusahaan- perusahaan nasional sukses. Contoh perusahaan sukses mengahadapai krisis moneter 1998, dan sedang terus berkembang kembali membangun diri menjadi perusahaan jauh lebih unggul dari masa lalu.

"Entrepreneur jatuh 10 kali, dan bangun 11 kali. Sehingga jika kita jatuh, kita jangan sampai putus asa. If it's not happy, it's not the end," - Ciputra

Artikel Terbaru Kami