Sabtu, 08 Maret 2014

Ikan Bakar Pak Tarjo Cara Bisnis Sederhana

Profil Pengusaha Ikan Bakar Nomor Satu



Bagi kamu berdomisili di Jakarta, pastilah tau namanya, sang pengusaha satu ini memang sudah dikenal bisnis. Meski secara resmi belum ada sosoknya terlihat di media masa. Informasinya bisnis ikan bakar telah dijalankan puluhan tahun, ikan bakar Pak Tarjo, tak ada kesan mewah atau glamor ketika kamu berkunjung di tempatnya. Orang biasa melintasi Jalan Arteri Permata Hijau, Jakarta Selatan, kemungkinan besar pernah melihat kedainya.

Sutarjo itulah nama sang pengusaha ikan bakar ini. Sudah 10 tahun lebih bisnis ikan bakarnya berjalan dan sudah banyak pekerjaan telah dilakoni sebelumnya. Akan tetapi, tetap Tarjo selalu kembali ke bisnis ikan bakar dimana asapnya kamu dapat lihat hingga kini.

Merantau ke Jakarta


Kamu akan melihat sebuah kedai ikan bakar penuh asap. Aroma khasnya pastilah menggoda kamu buat sekedar berhenti. Kedai yang lengkapnya beralamat di Jl. Tentara Pelajar Alteri Permata Hijau ini, tidak pernah tampah sepi dikunjungi pembeli. Kisah sukses Sutarjo juga tak pernah sepi dari naik- turun. Butuh bertahun- tahun untuknya membangun usahanya. Sejak kecil sudah terbiasa kerja keras. Tinggal di kampung nelayan di daerah Tulakan membuatnya akrab aroma ikan.

Teluk asri dimana bukit- bukit kapur mengitari pantai jernih tapi tak memberikan banyak kesempatan. Dia sekeluarga tak mendapat cukup rejeki dari sana. Lelaki 41 tahun ini hanya berijasah SMP jadi apa yang bisa dilakukannya; hanya menjadi seorang pencari ikan. "Selama di Pacitan, saya juga sering melaut," terangnya. Selain itu, dia juga memanfaatkan secuil ladang milik orangtuanya buat berkebun.

"Saya juga menanam pohon kelapa. Kini hasilnya sudah bisa dinikmati orang tua di kampung," tutur pria yang berkulit sawo matang ini.

Kehidupan di desa tenang tidak memberikan Sutarjo banyak pengalaman hidup. Dia kala itu masih remaja, jadilah haus akan namanya pengalaman. Dari desa kecil itu, tahun1986, anak kelima tujuh bersaudara ini kemudian nekat merantau ke Jakarta. Yang terbaik baginya, dia hanya bermodal Rp.15.000, dan akhirnya tiba di Jakarta tanpa tahu mau bekerja apa. Hingga suatu ketika, seseorang lantas menawarinya pekerjaan sebagai cleaning service.

Sutarjo tak betah bekerja menjadi cleaning service saja. Empat bulan cukup membuatnya matang keluar dari pekerjaan; mencoba peruntungan lain. Pekerjaan selanjutnya telah menunggunya, kali ini, dia cuma bekerja menjadi pekerja rumah tangga. Sutarjo menjadi pekerja di sebuah rumah di Sunter, Jakarta Utara. Lagi- lagi dirinya jadi bosan hanya bertahan sekitar lima bulan saja. Dia kembali menjadi seorang cleaning service di sebuah perusahaan lalu berhenti kembali.

Pekerjaan sebagai kuli juga pernah dijalani meski tak punya bekal pengalaman.

"Per hari saya digaji Rp 2.500. Santapan sebatang singkong dan segelas bajigur saya bagi dua dengan kakak," tutur Sutarjo. Tak betah lagi bekerja menjadi kuli bangunan jadilah ia berhenti kembali lagi. Sutarjo memilih berusaha sendiri, banting setir menjadi penjual sayur keliling. "Jadi, pagi saya dagang sayur, dan siang hari jualan minuman ringan. Kalau malam buka warung makan dan menjual rokok," ujar suami Triati ini.

Bisnis ikan bakar


Di tahun 1997, Sutarjo, bersama istri, dan seorang anaknya memulai bisnis warung makan. Menu utamanya warung makannya waktu itu ialah ikan bakar. Alasannya karena kebanyakan orang memilih cuma berbisnis ikan goreng. "Saya punya bumbu ikan bakar khas yang saya dapat di Pacitan," terangnya. Bermodal uang Rp.200.000 dan juga kaleng bekas kue kering. Hasilnya, ternyata ikan bakar itu cocok dengan lidah para pengunjung warung.

Ia pun kian serius di bisnisnya kali ini. Dimana keuntungan bisnisnya begitu besar cuma buat sekedar jadi tabungan. Dia bahkan sudah mampu membeli sebidang tanah seharga Rp.250 juta. Dari bisnis kedai seluas 35 meter persegi itu untungnya ternyata luar biasa.

Tengok lah, bagaimana ikan bakar buatannya memikat para penikmat ikan. Modal utamanya hanya sebuah bumbu ikan bakar ndeso; jadilah kota Jakarta ditaklukannya. "Sampai sekarang, pelanggan terus betambah," ujarnya lagi. Berapa sih omzet berjualan ikan bakar saja? Sutarjo bersyukur bisnis ikan bakar miliknya sudah mampu mengantongi nilai ratusan juta perbulan. Maklum, selain melayani langsung, usaha pesanan antar membuat ikan bakarnya makin digemari.

Sejak 2008, Sutarjo sibuk berternak tokek disaat uang bisa terus mengalir. Itulah pengusaha dimana uang malah bekerja untuknya. Dia beternak tokek dan membantu saudara memasarkan rumput laut. "Bisnis tokek sangat menjanjikan. Peminat tokek kebanyakan orang korea," jelasnya. Dari enam ekor tokek seberat 3 ons sampai 5 ons, ia bisa mengantongi untung jutaan. Padahal, di rumahnya kini, ia telah punya lebih dari 600 ekor tokek berbagai ukuran.

Berkat ketekunan dan keuletan bisnis pria berkumis tebal ini semakin tebal dompetnya. Bermodal ikan bakar Pak Tarjo, hampir setiap hari mengirim ikan bakar khasnya ke kantor pemerintah dan swasta, mulai dari Gramedia, Badan Pemeriksa Keuangan, DPR, Bank Permata dan lain- lain, pastilah menghasilkan puluhan juta. Ada pepatah tak kan lari gunung dikejar bisa jadi tak kan lari rejeki dikejar; itulah nasib Sutarjo kini. Meski banyak usaha dilakukan justru ia kembali ke asalnya.

Dia kembali ke bisnis akarnya yaitu ikan, seperti di kampungnya dulu. Ikan bakar Pak Tarjo memang sangat tersohor baik dari kalangan atas ataupun bawah. Banyak artis dan pejabat sudah merasakan lezatnya ikan bakar buatannya. Wajarlah jika banyak orang yang berminat bekerja sama. Beberapa orang telah bekerja sama membuka warung ikan bakar Pak Tarjo lain. Namun karena satu hal, Sutarjo akhirnya memilih untuk mengentikan kerja sama tersebut.

Sekarang selain di Jakarta, cabang satu- satunya tersisa hanya ada di dearah Tanjung Pinang, kepulauan Riau, milik seorang penjabat pemerintah di sana.

Ia mengaku bukan karena kapok bekerja sama. Tapi, dirinya mulai selektif memilih patner lebih berharap ke seseorang yang bukan hanya tentang mencari untung besar tandasnya. Dia memberikan beberapa syarat agar dipenuhi mereka yang berminat. "Pembeli banyak dan pendapatan tinggi, baru mikir untung. Jangan langsung mikir untung," jelasnya lagi. Saking laris bisnisnya, setiap hari, Sutarjo harus menyiapkan 2 sampai 4 kuintal ikan beragam jenis dari Muara Angke.

Kontak:

Jl. Tentara Pelajar Alteri Permata Hijau
Telp: 021-5332631, 08881804797, 081310000766
Buka jam 09.00 - 21.00

Artikel Terbaru Kami