Senin, 31 Maret 2014

Coffee Toffee Indonesia Bisa Jadi Bisnis Dunia

Profil Rakhma Sinseria 


Perjuangan seorang wanita meniti karir, usaha, selalu sangat inspiratif dan layak untuk didengar. Ibu dua anak yang masih terus fokus dengan bisnisnya. Kisah sukses seorang Rakhma Sinseria bersama sang suami, Odi Anindito, bersama mengusung konsep 100% produk Indonesia. Rakhma dikenal melalui bisnis kedai kopi bernama Coffee Toffee. Bisnis yang dikelola Rakhma, hingga kini telah delapan tahun berjalan.

"Yang pasti saya berusaha melakukan apa yang bisa saya lakukan, sesuai dengan bidang yang saya kuasai, tentunya berhubungan dengan dunia kopi dan wirausaha," katanya di sela-sela obrolan sore bersama tim dari fimela.com. Sejak awal ia memang telah memiliki passion tentang berwirausaha.

Namun, dia berkisah tak mau menganjurkan kewirausahaan sebagai satu- satunya jalan sukses. Kesuksesan, baginya, ialah tentang minta dan kecintaan dalam menjalankan sesuatu. Jika mau kaya saja tak perlu harus jadi pengusaha karena ia menjalankan semua tak mau setengah- setengah. Melalui Coffee Toffee yang kini telah menjelma menjadi perusahaan, bisnisnya moncer tak mau kalah dengan gerai kopi asing; sebut saja Starbucks.

Bisnis kopi


Mimpi dan cinta kewirausahaan menjadkan sukses itu terlihat nyata dan digapai. Dua modal ini ternyata tidak sepenuhnya benar. Cintanya akan kopi dan mimpinya akan usaha kopi lokal membuatnya membuka bisnis sendiri. Seperti semua bisnis, tetap cobaan itu datang menggoda kecintaan dan mimpinya. Menjadi seorang wanita yang tangguh menjadi modal lain bagi kehidupannya. Dunia bisnis itu tidak ada yang pasti. Begitu pula bagi juara 1 lomba Wanita Wirausahawan Femina 2010 ini pernah merasakannya.

Hanya dalam satu tahun mendirikan Coffee Toffee, bisnisnya moncer seperti roket. Dari satu gerai saja, satu tahun kemudian, ia sukses mendirikan 10 gerai cabang diberbagai tempat. Tak heran rasa percaya dirinya itu begitu kuat untuk semakin membesarkan bisnisnya. Tumbuh terlalu cepat ternyata juga tidak baik ketika saatnya masalah itu datang. Rakhma merasakan sendiri kecewa mendalam ketika semua gerainya harus ditutup.

Hampir bangkrut


"Bisa dibilang, saya hampir bangkrut karena salah perhitungan dan terlalu percaya diri. Saya sampai tidak bisa membayar karyawan selama 3 bulan," tutur Ria, yang sempat berpikir untuk menutup total bisnisnya. Ia sadar kesalahan pertama saat itu ialah tentang konsep. Bisnis yang dijalankan olehny tidak memiliki konsep yang matang. Mungkin karena rasa percaya yang terlalu berlebihan ketika naik begitu cepat. Belakangan, ia tahu ketidak matangan tersebut karena tidak pasti dalam membidik target.

Selain itu, gerai yang dibangunnya tidak lah jelas mau dibawa kemana arahnya. Apakah gerai tersebut adalah gerai take away atau gerai bertempat duduk. "Ibarat ABG, waktu itu kami seperti sedang mencari jati diri," ungkapnya, kini gerainya tersebut diramaikan pelajar dan mahasiswa. Wanita yang akrab dipanggil Ria ini menambahkan pengetahuan tentang akuntansi itu belum mencukupi. Dia tak tau benar apakah bisnisnya saat itu masih sehat atau tidak.

"Ini saat-saat yang cukup menguras energi dan emosi. Tapi, saya berusaha tetap tenang dan berpikir positif, karena yakin bahwa kejatuhan ini adalah proses menuju kesuksesan. Saya menikmati setiap prosesnya," kata Ria, yang kemudian melengkapi usahanya dengan orang yang ahli di bidangnya, misalnya di divisi marketing communications dan keuangan. Anda tidak harus tau detail tentang akuntansi tapi mengerti konsep dasarnya itu harus. Itualah mengapa jadi pengusaha itu harus tetap belajar dari berbagai tempat dan media.

Ria meyakini betul bahwa tak ada yang salah dengan kopi khas Indonesia. Justru inilah yang membuat bisnis miliknya bertahan. Karena waktu itu tak ada rencana cadangan, ia harus merangkak lagi dari awal. Ia terus mengevaluasi segala kesalahan dan segera memperbaikinya. Konsep, menu, harga, dan warna diubahnya. Semua masukan ia terima. Misalnya, tentang desain logo pada gelas yang awalnya kurang bagus dilihat, lalu kemudian ia percantik. Ria juga menambahkan makanan pada menu.

Bagi Ria, konsep matematika setengah ditambah setengah menjadi satu bukanlah kepastian. Ia melihat dalam wirausaha konsep jadi besar dari setengah ditambah setengah tak berlaku. Kapapun satu itu bisa saja hilang jika kita lengah atas apa yang kita miliki. Dia menambahkan lagi Setengah waktu yang ia habiskan untuk mengurus bisnis, ditambah setengah waktu untuk bekerja di perusahaan orang, tidak sama dengan target yang ingin ia capai. Inilah mengapa sedari awal dirinya langsung terjun ke dunia bisnis, tak mau setengah- setengah.

"Yang terjadi saat itu: keduanya tidak memenuhi target, sehingga saya harus segera memutuskan untuk menjalani yang mana," kata Ria, yang akhirnya memilih keluar dari perusahaan dan mencurahkan seluruh waktunya untuk Coffee Toffee. Sampai saat ini meski sukses tidur delapan jam bisa jadi kemewahan. Dia tetap menjalankan semuanya dengan baik dan tak mau setengah- setengah.

Artikel Terbaru Kami