Kamis, 20 Maret 2014

Cara Bisnis Properti di Jepang

Profil Pengusaha Sukses Windy Arianto



Prestasi orang Indonesia di Jepang bisa dibilang cukup banyak. Namun mereka cenderung low profile, jadi satu pengusaha asal Indonesia saja, bisa menginspirasi banyak orang ketika media masa membukanya satu per- satu. Mungkin kamu pernah mendengar nama Rustono, pengusaha asal Grobogan sukses berkat tempe di Jepang. Pria pribumi yang masih terus mengingat asalnya dan jati dirinya sebagai orang Indonesia. Dia sukses membawa nama Indonesia diantara mereka para pengusaha Jepang.

Satu profil menarik lain muncul, kali ini, dari seorang pengusaha- investor wanita kelahiran Jakarta. Wanita kelahiran Jakarta, 11 Februari 1981, bernama lengkap Windy Arianto berkat bisnisnya banyak sudah pelajar asal Indonesia tertolong. Ceritanya dimulai sekitar 22 tahun lalu, ketika tim Tribunnews tengah berkunjung ke Jepang; hendak menyewa rumah singgah.

Di Jepang, perlu diketahui, perusahaan property telah menyiapkan aturan khusus. Salah satunya, penyewa atau pembeli harus bisa berbahasa Jepang untuk komunikasi, katanya. Akhirnya tim dari Tribunnews harus kecewa berat tak mendapatkan rumah sewa. Nah, dari sana justru munculah nama seorang wanita yang telah dikenal betul oleh para pelajar Indonesia. Windy Arianto telah lama memiliki bisnis sewa rumah atau sewa apartemen ke orang asing; terutama orang Indonesia.

"Hal positif menyewakan apartemen di Jepang ya karena hukum dan aturan jelas sehingga penyewa tidak bisa merusak barang seenaknya apalagi kabur nggak bayar haha," paparnya.

Selai itu tambahnya, pemilik tidak bisa begitu saja mengusir penyewa seenaknya. Ada aturan hukum kuat serta tegas buat siapapun.

Bisnis properti unik


Tujuannya sih positif selain keuntungan, sebagian besarnya membantu orang Indonesia. Windy menjelaskan lebih lagi orang Indonesia itu sering ditolak menyewa rumah atau apartemen. Alasanya ini itu terutama karena memang bahasa Jepang yang sulit dipelajari. Pelajar asal Indonesia sering ditolak karena tidak bisa bahasa Jepang atau dianggap orang asing.

Apa yang berat dari bisnis properti di negeri sakura. Ia menjelaskan tentang biaya buat renovasi bilangannya cukup besar. Lainnya, Windy tidak bisa menerapkan sistem uang muka atau deposit money kepada para penyewa. Ia beralasan bahwa uang tersebut cukup membebani tapi aturannya begitu. Makanya ia hanya meminta uang jasa kebersihan saja. Buat bersih- bersih ketika penyewa selesai menyewa nanti.

Dan, para pelajar asal Indonesia ini bisa membayar ketika waktunya membayar.

"Makanya key money-deposit kita tidak minta. Cuma cleaning fee saja buat bersih-bersih kalau sudah ke luar," tambah istri dua anak, perempuan dan lelaki yang baru lahir Oktober 2013, Joshua Minoru Sunarno.

Harga sewa rumah disana cukup mengejutkan jika dirupiahkan. Rumah akan disewakan dikisaran harga 45 ribu sampai angka 60 ribu yen per- bulan (Rp.5,175 juta per- bulan atau Rp.6,9 juta per- bulan). Rumahnya ada di Tachikawa, ada 2, dibeli tahun 2004, lalu beli di Koenji, Hachioji satu buah, lalu beli lagi di Nakano satu gedung besar dibagi 8 kamar.

Awal bisnisnya sih karena pengalaman sang suami ketika kuliah. Orang- orang Jepan tidak suka keberadaan orang asing atau gaijin sebutannya. Aturanya juga sangat sulit jika mau menyewa rumah ataupun apartemen di sana. Jadilah ide bisnis ini muncul bersamaan bisnis suaminya. Untuk properti itu mainnya secara pribadi masing- masing bukan perusahaan loh. Namun ia dan suaminya memang punya perusahaan konsultan disana didirkan di tahun 2009, perusahaan bernama Ace Global Service Co Ltd.

Karena telah menetap lama disana dan memiliki perusahaan berbasis di Jepang jadilah jual beli properti tak jadi ribet. Orang Jepang tak lagi memanggil Windy dan suaminya orang asing. Namun jangan salah keduanya masih orang Indonesia tulen. Jadi meski ia memiliki bisnis disana beserta suaminya keduanya masih punya keluarga di Indonesia. Inilah mungkin bisa menjadi pedoman berbisnis properti di Jepang. Yaitu jika kamu disana bukanlah orang asli; kamu bisa berinvestasi properti.

Namun, kamu harus bersiap merogoh kocek dalam karena perbedaan nilai mata uang.

Catatan: satu apartemen, tergantung wilayah, yang murah biasanya bisa dibeli dengan harga sekitar 5 juta yen satu unit (Rp 575 juta). Apabila memiliki lima property berarti Windy telah investasi di Jepang sedikitnya 25 juta yen (Rp 2,875 miliar). Dengan 12 kamar disewakan apabila penuh dan harga seandainya 45.000 yen sebulan (Rp 5,175 juta), berarti penghasilan Windy pun sebulan sedikitnya 540.000 yen sebulan (Rp 62,1 juta).

Artikel Terbaru Kami