Kamis, 27 Maret 2014

Bumbu Pecel Cap Jeruk Purut Sampai Belanda

Kisah Nyata Pengusaha Buta Huruf



Sulit dibayangkan orang buta huruf bisa sukses berbisnis. Wanita satu ini telah membuktikan tak ada kata terlambat berusaha. Kasiyem Roesmadji, adalah pengusaha itu, ialah seorang pengusaha sambel pecel asal Madiun, Jawa Timur. Dia sukses membuktikan tak ada batasan atau kata terlambat memulai suatu bisnis. Jadi jika keterbatasan pendidikan menjadi alasan; kamu patutnya malu atas hal itu.

Sebenarnya tidak hanya dirinya tapi ada beberapa pebisnis bahkan di Indonesia yang terbatas. Mereka dari terbatas secara fisik, mental, dan ada pula seperti Bu Kasiyem dibidang pendidikan. Pada kelas 3 sekolah dasar (SD), Kasyiem kecil harus meninggalkan bangku sekolah karena kedua orang tuanya tak punya biaya. Ayahnya seorang buruh di PT. Inka, Madiun. Setiap hari, ia memilih mengisi harinya dengan menjual mangga dan jambu kluthuk (jambu biji) di pasar bersama kekeknya.

Kasyiem sendiri adalah anak ke tujuh dari 12 orang bersaudara. Hingga menikah menjai istri petani bernama Roesmadji, naluri dagangnya tak pernah luntur. Di rumahnya di Jalan Delima 32, Madiun, dia berjualan es dawet, setelah beberapa waktu lalu bisnis aneka gorengan buatannya tak laku alias gagal total. Kebetulan karena rumahnya berdekatan dengan kantor cabang PT. Telkom dan Perum Pegadaian. Akan tetapi harapan akan es dawet buatannya disukai pekerja disana malah kandas.

Ia mencoba bangkit dari keterpurukan segara mencari ide usaha lain. Kasiyem lalu mencoba berjualan nasi pecel buat memenuhi kebutuhan pegawai kantor di sekitar rumahnya tersebut. Eh.. Ternyata peruntungan Kasiyem perlahan mulai berubah dari bisnis nasi pecelnya. Dagangan nasi pecelnya disukai banyak pembeli. Buktinya, warung yang ia buka mulai pukul enam pagi tersebut sudah tutup pada pukul delapan pagi. Laris manis dimana warung nasi pecelnya menghabiskan 10 kilogram sambal pecel dalam sehari.

Tapi, ditengah jalan, ia merasa kerepotan berjualan nasi pecel. Tak berhenti ide bisnis itu, jadilah Kasiyem cuma fokus pada pembuatan bumbu pecel saja. Tepat, tahun 1971, bumbu pecel Madiun khas Kasiyem itu siap mencoba menembus pasar lokal. Ia mengemas produknya berukuran 2,5 ons sampai 5 ons. Makin lama semakin banyak orang yang tau dan berlangganan kelezatan sambel pecel khasnya. Mereka membeli tidak cukup cuma untuk satu dua kali.

Beberapa orang membeli paket besar karena sudah ketagihan.

"Kebanyakan pembeli adalah pegawai Telkom dan Pegadaian," kata ibu lima anak ini.

Menurut Kasiyem, sambal pecel buatannya telah terkenal sampai ke Solo dan Jogja, cuma berkat informasi dari mulut orang yang pernah mencoba rasanya. Tanpa melakukan marketing khusus produk yang memang berkualitas bisa cepat tersebar. Kasiyem pun mulai berpikir untuk memberi label agar tidak ada yang meniru. Hingga, pada tahun 1990, pengusaha yang dikenal dengan nama Bu Roesmadji ini resmi memberi lebel untuk produk sambel pecelnya.

Merek dagang itu sambel pecel "Cap Jeruk Purut", didasarkan pada kebiasaannya menyisipkan daun jeruk purut. Gunanya tentu tak lain adalah guna meningkatkan cita rasa. Selanjutnya, karena sudah terkenal dan banyak pelanggan, PT. Inka ikut memodali Bu Roesmadji sebesar Rp.10 juta untuk pengembangan. Ia lalu menggunakan uangnya agar bisa memperbanyak produksi. Seiring peningkatan produksi sambal pecel Cap Jeruk Purut, PT Inka menggelontorkan pinjaman Rp 10 juta lagi ke Bu Roesmadji.

"Total saya dapat Rp 20 juta," kata dia.

Sebenarnya ia pernah berpikir langsung mematenkan merek produknya. Tetapi dia, kala itu, merasa kesulitan dengan prosesnya yang memanglah ribet. Jadilah sambal pacal Cap Jeruk Purut belum dipatenkan haknya atas Roesmadji. Eh, tidak disangka, berkat bantuan beberapa orang yang ia kenal; ia bisa mendapatkan hak paten pada tahun 2000.

"Lalu, pada 2002 sambal Cap Jeruk Purut mendapatkan sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat," ujar pengusaha yang kini mempekerjakan 25 orang pegawai ini.

Kualitas produk


Bu Roesmadji menuturkan, dalam sehari, ia mampu menjual 600 bungkus bumbu pecel. Setipa bungkusnya seharga Rp.5.000 ukuran 2,5 ons, Rp.11.000 per 5 ons, dan juga Rp.20.000 tiap kilogram. Alhasil, jumlah produksinya mencapai rata- rata 1,5 kuintal sehari; ia mengantongi omzet Rp.200 juta per- bulan dari bisnis bumbu pecel Cap Jeruk Purut. Produknya dinikmati mereka dari instansi pemerintahan, perusahaan swasta, toko, maupun pejabat pemerintah.

Bahkan, pemasaran sambal pecel Bu Roesmadji ini sudah menyebar hingga kota kota lain, seperti Malang, Surabaya, Bali, Bandung, dan Jakarta. Tak berhenti di situ, bisnis bumbu pecel ini mulai dilirik mereka yang ada di Belanda. Pernah dalam sepekan saja ia mampu mengirim 1 ton sambel pecel ke Negeri Kincir Angin tersebut. Kendati sukses, ada saja cobaan datang menghadang bahkan dikala tak terduga. Ketika banyak permintaan akan sambal pecel meledak di Belenda, pada tahun 1995, justru pemerintah kota Madiun memindahkan pasaran.

Mereka mengalihkan pesanan itu ke perusahaan- perusahaan lain, alasanya, ya harga bumbu pecel milik Bu Rosemadji terlalu mahal. Tapi, karena sambal pecel itu berbeda dari buatannya, pengusaha di Belanda menolak upaya pemerintah daerah. "Sambal pecel itu sudah bau meski baru 15 hari," ujar dia. Alhasil, Kasiyem atau Bu Rosemadji pun kembali menjalin kontak agar ada lagi pesanan ekspor. Wanita ini telah membuktikan bahwa sambal pecel khas Madiun bisa mendunia.

Setelah berhasil mengekspor sambal pecel Cap Jeruk Purut ke Negeri Kincir Angin, Belanda, Bu Roesmadji kini membidik pasar Malaysia dan Singapura. Menakjubkan, selain dua negara baru ini, bumbu pecel Jeruk Purut miliknya juga ikut masuk Arab Saudi. Pesanan datang dari mereka yang sedang ber- haji. "Pemerintah mesti memberi perhatian ke usaha seperti kami. Sebab peluangnya menjanjikan," tutupnya.

Artikel Terbaru Kami