Jumat, 14 Maret 2014

Bubur Ayam Mang Oyo Asli Majalengka

Kisah Nyata Tukang Bubur Ayam



Bubur ayam jadi salah satu bisnis terlaris menjadi sasaran usaha. Baik sekalanya kecil atau besar, bisnis satu ini benar- benar digemari oleh kalangan atas- bawah. Tak kalah pamornya sama bakso; bubur ayam juga bisa ditemui dimana saja. Peluang ini dilihat oleh Oyo Saryo, seorang pengusaha bubur ayam sukses. Usaha bubur ayam telah ditekuninya selama bertahun- tahun. Kisah ini patut kita simak sebagai pengusaha pemula.

Kisah tukang bubur ayam Mang H. Oyo Tea, kuliner khas Bandung, dimana cita rasanya begitu unik hingga namanya tersebar ke berbagai penjuru kota Bandung.

Bisnis bubur ayam


Oyo Suryo dulunya cuma seorang buruh tani asal daerah Majalengka. Keuletan jadi modalnya banting stir dari cuma buruh tani menjadi pengusaha sukses. Ia mulai berjualan bubur ayam sejak 1976. Kisah suksesnya jadi contoh bagi mereka para pengusaha kecil memulai. Dia mampu menunjukan cara merubah nasib. Dia adalah contoh pengusaha dari nol. Pilihan atas bubur ayam karena mudah dimasak, selain itu, makanan satu ini sangat disukai masyarakat berbagai kalangan.

Pertama kali, dia tidak punya apa- apa, bermodal warung sederhana depan kantor dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Barat di kota Bandung. Kala itu namanya masih bubur ayam Mang Oyo aja. Dimana usahanya sering berpindah- pindah namun tak berhenti berkembang. Dia sempat berjualana di Jl. H.  Wasyid Hasyim cukup lama, kemudian di depan RS Sartika Asih, dana di dekat Sekolah PGII. Warung utamanya dipindah kembali ke Jl. Taman Sari 118/56, Bandung, hingga sekarang.

Saat ini, bisnisnya telah memiliki 7 cabang di kota sendiri, yaitu di Jl. Gelapnyawang, Jl. Sulanjana, Jl. Ir Soetami, Jl. Surapati, Jl. Burangrang, kesemuanya ada di Bandung serta kota baru Parahyangan, Kabupaten Bandung Barat. Bisnisnya dibuka dari jam 06:00 kemudian tutup sekitar pukul 13:00 kecuali di Jl. Sulanjana dan Jl. Ir. Soetomo, keduanya buka sampai 8 malam. Tentu mengingat bisnis bubur ayam biasanya dinikmati ketika pagi hari atau mungkin siang hari; tapi tetap laris kok.

Buburnya terbilang unik istimewa. Kualitas menjadi perhatian Mang Oyo sendiri. Bubur disajikan di piring plastik tak -kan jatuh meski kita miringkan, atau dibalik. Memang buburnya lebih kental jadi mengenyangkan tak salah sebagai menu makan utama. Keunikan bubur bisa dibolak- balik bahkan ditunjukan langsung oleh sang empunya. Bisa jadi sebuah atraksi tersendiri bagi pengunjung. Fungsinya agar menunjukan bahwa bubur buatannya tak cuma modal air alias encer.

Konsep marketing unik ini berjalan bertahun- tahun. Jadilah nama bubur ayam Mang Oyo jadi terkenal, yang katanya kental itu loh. Tentang berasnya ternyata tak lain hasil beras dari sawahnya sendiri. Ini jadi catatan menarik bagi kita lagi. Beras pulen itu berasal dari wilayah Majalengka terkenal bertanah subur. Bila beras yang dipakai bukan dari Majalengka; konon buburnya akan jadi encer. Bubur Mang Oyo telah dibuka sejak 1978 ini tak mau salah pilih racikan.

Makanya tidak salah jika resepnya benar dijaga oleh Mang Oyo sendiri. Ada cerita menarik loh bagaimana bubur ayam menjadi begitu populer. Kala itu, pemerintah mengadakan satu program, "memasyarakatkan olahraga, mengolahragakan masyarakat," jadilah bubur ayam miliknya menjadi sasaran pelampiasan. Mereka telah lelah setelah berolah raga butuh sesuatu mudah dimakan tapi tetap mengenyangkan. Jadilah bubur milik Mang Oyo laris manis; bubur lengkap dengan telor dan rempela.

Artikel Terbaru Kami