Sabtu, 01 Maret 2014

Pempek Palembang Perjuangan Solihin

Kisah Pengusaha Pempek Sederhana



Solihin pernah berpikir kanapa Pak Yos, pemilik warung pempek tempatnya bekerja, bisa begitu suksesnya saat itu. Dia lalu berpikir kanapa tidak membuka bisnis sama. Tujuannya tentu agar bisa sesukses tempatnya bekerja dulu. Akhirnya Solihin mulai mengumpulkan uang untuk membuat gerobak sendiri. Ia hanya berbekal pengalaman bekerja di usaha sama.

Pria paruh baya ini beralih profesi menjadi penjual pempek keliling. Dia berjualan dari satu tempat ke tempat lain. Hingga di akhir tahun 2000, dia berani memutuskan pindah ke Jakarta; berharap peruntungan lebih baik disana. Solihin ikut membawa bisnisnya ke Jakarta, hasilnya? Ternyata berusaha di Jakarta tak semudah aoa yang dipikirkannya dulu. Kita tidak bisa berbisnis langsung laris di Jakarta. Harus melewati berbagai fase- fase kesulitan terutama sebagai pendatang.

Ia harus mengadapati kesulitan dari tempat tinggal sampai tempat berbisnisnya. Intinya ketika akan berbisnis selalu saja ada masalah.

Keberuntungan itu mulai terlihat, semua berkat kerja keras dan pantang menyarah. Ketika itu, dia bertemu seorang kerabat dari kampung yang berjualan gorengan. Masalah tempat kos itupun terselesaikan dimana dia kini tinggal di sebuah kosan kecil. Meski kecil, setidaknya, ia telah mempunyai tempat tetap serta seseorang buat sekedar berbagi cerita. Dia memulai kembali bisnis kecil- kecilan, masih tentang pempek Palembang. Selain itu Solihin masih menyimpan gerobaknya buat berkeliling.

Dia berjalan dari kos- kosan kecilnya berkeliling menjajakan pempek. Solihin masih saja merasa asing akan Jakarta, bahkan berjalan hingga ke tempat antah berantah. Dia sempat- sempatnya kesasar di suatu tempat asing. Sekali lagi keberuntungan itu hadir lagi ketika dirinya mencari- cari cara bagaimana usahanya laku. Dia punya ide agar menetap. Karena jika berkeliling selalu saja berakhirnya nyasar di tempat asing dan dagangan miliknya masih banyak.

Dia membuka usaha ditempat ramai anak- anak komunitas. Mereka terkumpul dalam suatu komunitas dan tentunya mereka siap membeli ketika lapar atau sekedar iseng. Setelah pempeknya laku keras di tempat itu, ia pun siap memperluas bisnisnya. Solihin membuat gerobak baru agar jangkauan pelanggan bertambah. Dia harus galau kembali ketika berbicara sulitnya mendapat pegawai yang mau bekerja. Mungkin, mereka sukar karena harus berkeliling memakai gerobak ke penjuru Jakarta.

Tidak sengaja, suatu hari datang seseorang meminta menjadi pegawainya karena kebutuhan. Solihin justru jadi merasa kesulitan sendiri ketika itu; ia malah mulai ragu mempekerjakan. Dia memutuskan menolak jika orang itu tak mau ikut dia tidur dalam satu kos yang sama. Dan, orang itu menolaknya karena punya tempat tinggal. Solihin pun datang ke rumah orang tersebut. Berpikir sejenak, ia menawarkan rumah itu dijadikan tempat berjualan saja.

Jadilah ia punya dua warung pempek di dua tempat berbeda. Setelah kurun waktu 2 tahun berjualan dan punya dua cabang, dia sudah bisa mempunyai 17 gerobak lain dan sudah mulai memikirkan ingin mempunyai tempat tinggal dan menambah relasi baru seperti menerima pesanan Catering. Berbagai kendala sudah dia hadapi dan berbagai masalah terselesaikan. Dengan kemauan dan ke gigihan yang tidak akan pudar, Solihin terus berbisnis.

Artikel Terbaru Kami