Selasa, 04 Maret 2014

Bagaimana Cara Berbisnis Pemancingan Sudarso

Kisah Pemilik Kolam Pemancingan



Awalnya Sudarso cuma memiliki lahan seluas 50x35 meter dan tidak tau diapakan. Ia kemudian membuka tempat pemancingan. Buat iseng- iseng saja sekaligus menyalurkan hobi. Jadilah tanah tersebut menjadi satu kolam pemancingan lele. Dia cukup memanfaatkan lahan jadi tempat pemancingan bermodal uang seminimal mungkin. Pak Sudarso dibantu kedua anaknya, mulai menggali lubang di tanahnya jadi tempat pemancingan katanya

Modalnya sedikit mungkin serta minim bantuan tenaga kerja, jadilah kolam tersebut baru selesai setelah tiga bulan berusaha. Selang tiga bulan kolam baru diisi air oleh Pak Sudarso. Ia lantas mengisinya dengan ikan- ikan siap pancing. Selang waktu berganti, setelah ikan- ikan banyak, jadilah ia seorang juragan pemancingan. Kolam ikan kemudian dibuka umum, mereka para pecinta pancing mulai berdatangan. Meski membutuhkan waktu elatif lama buat seramai sekarang.

Orang- orang mulai datang mencoba tantangan memancing disana. Cuma iseng mereka rela merogoh kocek Rp.85.000 per- orang. Dikarenakan kesibukan hari kerja, jadilah kolam pemancingan ini bisa saja meraup untung 2x lipat dalam satu hari ketika hari- hari libur. Pak Sudarso mengaku cukup senang bisnis bisa maju. Ia pun berpikir menambah jumlah ikan mengingat tempatnya sering dikunjungi pelanggan. Kemudian dibelilah 10 pasang ikan lele siap bertelur.

Sayangnya, ikan tersebut banyak yang mati, karena memang tak memiliki dasar beternak lele. Dia kehilangan 7 ekor sekaligus. Pak Sudarso mengaku kecewa hingga bersedih hati. Modal bisnisnya sekarang tinggal sedikit. Kolam pemancingan miliknya tak mampu mencukupi permintaan pelanggan. Karena masalah ini pula, ia terpaksa menutup bisnis sementara. Sementara itu, diluaran sana, ia kembali mencari modal agar bisnisnya berlanjut.

Harapan kecilnya hanyalah bisa membeli modal bibit ikan lele lagi.

Tak putus asa


Setelah agak lama tak membuka bisnis pemancingan. Permasalahan modal telah terselesaikan. Dimana setitik harapan itu justru datang dari pengunjung setia tempatnya. Ia menerangkan ada satu pemancing langganannya yang mau ikut mendengar keluhnya. Pelanggan yang tidak diketahui namanya tersebut mendengarkan keluh kesah bapak dua anak ini.

Akhirnya, pelanggan tersebut rela memberikan bantuan modal kepada Sudarso; berupa hutang ringan. Tak mau kehilangan momen, dia kembali membuka bisnis pemancingan bermodal lebih kuat. Dia bertekat akan terus belajar berbisnis pemancingan sekaligus beternak ikan. Setelah mendapat modal bisnis lagi jadilah bisnis kolam ikan berlanjut. Pak Sudarso juga tak malu lagi sekedar berkunjung mengikuti salah satu kegiatan yang diadakan Bisnis Usaha Rakyat.

Dia meneruskan kembali bisnis kolam pemancingan, membeli beberapa bibit ikan lagi. Agar tak gagal bisnis lagi, dari program Bisnis Usaha Rakyat tersebut, ia memiliki bekal bagaimana merawat ikan. Ia kemudian rajin belajar bagaimana cara berternak lele. Selain itu dia tau bagaimana mengembangkan bisnis usahanya. Kian lama bisnis kolam pemancingan itu dikenal banyak orang dari Jakarta hingga Kota Bandung.

Pengujung membludak ditambah usaha beternak ikan lele juga sukses. Ini memberikan ide lain baginya dalam bisnis selanjutnya. Selain bisnis pemancingan Pak Sudarso merambah menjadi pemasok ikan lele ke berbagai warung pecel lele. Ternyata beternak lele itu mudah ujarnya; bahkan ia mengaku mampu menghasilkan lebih dari bisa dipancing para pemancing. Tanpa disadari dua bisnis satu wadah ini, kini, menghasilkan setidaknya 40 juta per- bulan.

Artikel Terbaru Kami