Minggu, 15 Februari 2015

5 Alasan Gagalnya Ekonomi di Indonesia Menurut Pakar


Sama- sama pernah merasakan perjuangan dari penjajahan, kenapa Indonesia tidak maju. Pertanyaan yang menggelitik kenapa kita tida bisa seperti nagara- nagara lain. Bicara soal sumber daya alam? Indonesia ini memiliki tanah yang luas, kita memiliki sumber daya yang melimpah. Kenapa kita tidak bisa seperti negara China atau Amerika. Jelas- jelas dilihat dari sumber daya alam, kita bisa disejajarkan dengan China. Dilihat dari konstitusinya, kita memiliki konstitusi yang lebih kuat dari Amerika.

Selain itu, kita memiliki banyak budaya yang bisa dikemas menjadi investasi pariwisata. Namun, kita selalu gagal mengembangkan, bahkan dikalahkan oleh negara kecil seperti Singapura dan Malaysia. Apa yang salah? Peneliti dari LIPI, Latief Adam, seperti dilansir dari laman Merdeka, menyebut ada beberapa alasan mengapa hal ini bisa terjadi pada Indonesia. Kenapa kita menjadi negara berkembang terus tapi selalu berhenti di posisi yang sama selama 6 dekade merdeka.

1. Pertumbuhan ekonomi tertahan di bawah potensi sebenarnya.

Ekonomi RI tercatat oleh LIPI memiliki kekuatan dan cukup stabil, namun jika membahas pertumbuhan bisa jadi lain. RI ternyata tercatat memiliki pertumbuhan yang kurang pesat ketika negara berkembang lain berlari, kita berjalan. Pertumbuhan ekonomi kita tidak terlalu tinggi. Nagara tentangga Singapura memang terpuruk saat krisis, tapi begitu krisis itu selesai, mereka melonjak begitu cepat dari posisinya semula.

2. Daya penggerak kemajuan ekonomi kurang bervariasi

RI tak akan bergerak di negara papan tengah karena, masih menurut Latief, kurang banyak daya penggerak ekonomi. Kita hanya tergantung pada daya penggerak, banyak bisnis yang mengandalkan produksi bahan mentah. Kita hanya memiliki satu hingga dua gerbong sementara nagara lain punya 10 gerbong bahkan lebih sekaligus.

Ketergantungan pada pasar modal juga membuat ekonomi RI jalan ditempat. Ekonomi RI kurang terbuka ditambah lembaga keuangan yang tidak maksimal mendukung ekonomi berkualitas, terang Latief lebih dalam.

3. Tenaga kerja berpendidikan rendah

SDM yang berusia produktif memang banyak di Indonesia tetapi kualitasnya kurang dari standar yang diharapkan agar negera bisa maju. Latief menjelaskan lebih lagi bahwa kualitas SDM yang didominasi lulusan SD. Tidak heran pekonomian terbebani karena mereka yang memiliki pendidikan rendah malah menjadi beban. Dan jika ini terus berlanjut, mereka yang berpendidikan rendah akan menjadi konsumen saja.

Mereka tidak akan bisa menjadi produsen yang sangat diperlukan oleh negara ini.

4. Industri domestik masih lemah

Indonesia memilika banyak industri domestik yang masih terlalu lemah, padahal era pedagangan bebas sudah menyongsong. Impor justru jadi sandaran ekonomi kita, yang akhirnya memasung industri kita.  Lathief bahkan mengklaim ada 90% impor untuk material dasar dan modal. Inilah yang kemudian memicu inflasi dan turunnya nilai tukar rupiah seperti saat ini.

5. Ekspor kurang berdaya saing

 Di sisi ekspor, Indonesia masih harus berjuang menemukan kelebihannya. Tidak diketemukan ciri khas seperti negara lain, seperti Jepang dan Korea Selatan dengan elektronik dan juga budayanya. Pemerintah benar belum menunjukan kesungghan menggarap pasar berpotensi seperti halnya pasar tekstil.

Artikel Terbaru Kami