Minggu, 16 Februari 2014

Usaha Jamur Bisa Jadi Bisnis Untung

Biografi Pengusaha Ir. Eddy Santoso


Namanya Ir. Eddy W. Santoso menjadi catatan penting dalam bisnis hortikultural. Eddy, begitu sapaanya, bukan hanya sukses di bidang akademis namun di dalam berbisnis. Memulai berbisni ketika krisis moneter juga masuk catatan tersendiri kita semua. Pada awalnya lelaki lulusan Teknik ITB ini tak tertarik ikut- ikutan terjun menekuni usaha jamur. Dia lebih berminat pada bisnis komputer sesuai latar pendidikannya.

Sayangnya, bisnis itu harus gulung tikar ketika krisis moneter. Eddy harus rela bisnis 15 tahun telah digeluti itu hilang oleh kejamnya krisi moneter di tahun 1997.

Memulai bisnis jamur


Kegagalan bisnis komputer tak membuatnya patah semangat. Dia kembali mencari- cari bisnis lain, mencoba bangkit kembali. Saat itu permintaan akan komputer berhenti total. Eddy setiap hari meriset pasar dan mulai belajar banyak dari pengusaha sukses di berbagai sumber. Setelah cukup lama mengamati pasar, ia akhirnya memutuskan menekuni bisnis jamur sebagai usahanya. Budidaya jamur terbilang mudah dilakukan pemula -mudah dipelajari pula.

Selain itu tempat tinggal Eddy memang memiliki iklim sesuai buat budidaya. Meski begitu tiap jamur tetap memiliki pengaturan suhu berbeda- beda loh. Ambil contohnya jamur kuping akan tumbuh optimal di suhu 22 0C dan kelembaban 93 %, jamur tiram akan tumbuh dengan optimal pada suhu 27 0C dan kelembaban 60 %, jamur lingzhi akan tumbuh dengan optimal pada suhu 25 0C dan kelembaban 65 %, jamur shiitake akan tumbuh dengan optimal pada suhu 16 0C dan kelembaban 97 %.

Jika kamu melihat potensi bisnisnya budidaya jamur bisa sangat menguntungkan. Untuk jamur merang saja, para petani di sekitar Jawa Tengah, Yogya, Jawa Barat, bahkan Jakarta telah masuk pasar ekspor. Jawa Tengah saja bisa menghasilkan ekspor tercatat sebesar 11.800 ton atau senilai $12,1 juta ke Amerika, Australia, Taiwan, Korea Selatan, Saudi Arabia, dan Kanada. Milihat permintaan jamur (hiartake dan lingzhi) yang terus menerus meningkat, Eddy optimis bisa menjalani bisnis tersebut.

Meski melenceng dari latar belakang pendidikannya tak membuat minder. Bahkan ia sukses memanfaatkan kurang lebih 1 hektar lahan yang ada di Lembang. Eddy pun menggandeng para pemuda pengangguran di sekitar lokasi tersebut. Dia turun tangan mengajari mereka budidaya jamur. Ia kemudian membangun PT. Teras Desa Intidaya sebagai bendera bisnis, mengajak pemuda- pemuda itu menjadi pegawai tetapnya. Setelah tiga tahun berbisnis ternyata pilihannya memang tak salah.

Bisnisnya kini maju pesat meski hambatan itu masih ada. Pada 1994 saja tecatat bisnis ekspor jamur terlihat menurun dari tingkat jumlah. Hal ini telah berlangsung cukup lama. Namun optimisi itu masih ada mengingat permintaan itu tumbuh kembali. Eddy tak ambil pusing akan hal ini. Ia masih memiliki pasar lokal untuk digarap. Dia bahkan menambah jaringan bisnis jamur melalui sistem plasma. Ini akan membantu memenuhi jumlah permintaan dalam negeri yang cukup tinggi.

Di pasar swalayan lokal saja. Harga eceran jamur merang khususnya berkisar antara Rp.11.000- Rp.12.500 per- kg. Sementara dari petani sendiri harga jamur berkisar Rp.5.800 per- kg. Asumsinya petani memiliki satu kumbung (tempat budidaya) mengantungi untung Rp.600.000 per- bulan. Asumsi tiap petani memiliki delapan kumbung berarti mencapai Rp.4,2 juta per- bulan. Perusahaan milik Eddy bisa mendapatkan nilai dua kali lipat jika satu petani binaan memiliki delapan kumbung; sebuah simbiosis.

Artikel Terbaru Kami