Jumat, 21 Februari 2014

Tanaman Semangka Kisah Durhaka Nursalim

Tak Jadi Kuliah Modal Uang Panas

 

Nursalim lahir terlahir di dalam keluarga miskin, hidupannya sangatlah buruk. Bukannya melanjutkan kuliah, dia malah memilih menanam semangka saja. Modal pengalaman menanam semangka inilah, tekat untuk tak lagi hidup dalam kemiskinan muncul. Dia belajar banyak lebih banyak daripada didapatkan dari berkuliah manapun.

"Saya ini gagal kuliah dulu karena orang tua saya miskin. Karena saya tahu orang tua saya tidak mampu membiayai kuliah dan uang indekos yang diberikan ibu saya," kenangnya.

Bapak tiga anak ini menceritakan masa ketika masih berkuliah di FMIPA Unila tahun 1989. Ia akan selalu bersedih hati ketika pulang kampung. Sebab, ia pasti akan menyusahkan orang tuanya, ibunya akan bersusah payah mencari utangan uang panas membayar kuliahnya. Ide bisnis itu datang begitu saja ketika uang telah ditangannya. Nursalim tak mau begitu saja melepaskan itu, lalu mengambil jalan "menyimpang".

Ia mau uang hasil utang bersumber tak jelas itu menjadi jelas!

"Begitu dapat uang kuliah dan uang indekos dari ibu hasil pinjaman, saya dapat ide nekat. Akhirnya, saya cuti kuliah dan uang itu saya pakai modal menanam semangka di kampung. Alhamdulillah, ternyata semangkanya jadi dan dapat untung cukup besar. Itulah yang membuat saya cuti kuliahnya kebabalasan," ucapnya, diikuti tawa ringan.

Bermodal pengalaman menanam semangka pertama sukses membuatnya ketagihan. Nursalim makin percaya diri. Dia yakin tak mau mengambil usaha bidang lain. Udah terlanjur jatuh cinta katanya menjelaskan. Bangku kuliah ia "selesaikan" cuma dua tahun. Sejak itu pula, ia seperti bersumpah harus sukses apapun resikonya dan bertekat memerangi kemiskinan. Dia ingin sekali membalas budi kedua orang tuanya sebagai pengusaha. Nursalim mengaku ada rasa bersalah kerena telah "menipu" kedua orang tuanya.

 Diakuinya itu jadi motivasi tersendiri.

"Saya merasa berutang kepada kedua orang tua. Untungnya, orang tua saya bangga ketika tau saya berhasil mandiri dengan bertani semangka ini. Dan, walaupun terlambat, akhirnya saya jadi sarjana juga," kata lulusan Stisipol Darma Wacana Metro itu. Nursalim mengakui semua kesalahannya. Berjalan waktu, ternyata usaha menanam semangka banyak menghadapi kendala. Itu tak semulus dibayangkan. Ia akhirnya sempat bangkrut dan hanya menyisakan satu unit ontel menjadi harta satu- satunya.

Tak disangka berbisnis hortikultura akan mengalami kejadian seperti halnya usaha lain.

Nursalim mengaku bangkrut menjadi cobaan terberat hidupnya. Apalagi terjadi ketika ia baru saja menikahi Warti dan dikaruniai seorang anak. Keluarga kecil tersebut masih numpang di rumah sang mertua, orang tua istrinya. Tampkanya jiwa berani Nursalim tengah diuji kembali. Ia pun segera bangkit, menjual satu- satunya harta yaitu sepeda ontel. Kali ini, dia memilih menanam jagung tetapi harus kecewa lagi. Harta satu- satunya itu hilang karena bangkrut lagi.

Bangkit lagi


Kebangkitan usahanya tiba ketika seorang teman mempercayakan bisnis semangka lagi. Dengan ketekunan dan ketelatenan, usaha anak ketiga dari empat bersaudara pasangan Muchlasin dan Wagimen ini mulai terlihat berkembang. Cara bisnisnya yaitu melalui pola sewa tanah ketika tidak musim padi. Dari sanalah, ia memupuk sedikit demi sedikit bisnisnya kembali. Nursalim pun mencari- cari tau bagaimana mengingkatkan kualitas semangkanya.

Dia berburu berbagai teknologi terbaru melalui berbagai sumber. "Saya belajar teknologi tanam semangka nonbiji dengan sistem pengairan menggunakan selang ini dari Malaysia. Juga mengamati perkembangan dan pertumbuhan tanaman secara saksama dipadu dengan tata cara yang standar. Artinya, saya belajar dari buku, guru ilmiah, dan juga dari pengalaman di lapangan dan terjun langsung," kata dia.

Soal pasar, politisi PKS ini sudah mengenali sejak mulai bertani semangka. Sambil menjual hasil panen dari lahan yang ia kelola sendiri, ia juga membeli semangka petani lain. Dia lalu menimbang sendiri, memuatnya ke truk, lalu mengawal ke Jakarta. Nursalim lalu menggelar lapak sendiri untuk dijual secara eceran. Jika sedang jeblok, kata dia, jualan di Jakarta bisa sampai satu bulan. Itu pun rugi. Pesan ibunya menjadi semangat lagi ketika masa sulit.

Sang ibu berkata orang hidup harus prigel, bekerja keras tanpa kenal lelah dan kreatif. Kini, ia telah pahami betul seluk beluk agrobisnis. Dia telah ahli berbisnis hortikulura khususnya untuk produk semangka. Setidaknya setiap bulan itu bisa panen dan tidak panen di tanah seluas 3 hektar. Bukan karena pesimis, namun bisnis bercocok tanam memang tidak selalu berhasil. Satu dari tiga kali menanam semangka haruslah sukses, itu cukup untuk balik modal dan dapat untung.

Untuk mendukung usaha yang sarat akan modal dan usaha, ia lalu mendirikan UD Salim Mandiri yang ternyata menjadi sukses tersendiri. Perusahaan yang bergerak dalam penyediaan alat dan sarana pertanian, terutama untuk budidaya semangka. Soal omzet dari usaha baru ini, ia menyebut angka 5M se- tahun atau lima miliar setahun, sebuah angka yang besar untuk seorang petani. Soal total aset, Nursalim mengaku itu telah menjadi rahasia keluarga terangnya sambil tertawa.

Nursalim kini bisa mengawasi lahan semangka yang kebanyakan di wilayah Tulangbawang dengan tenang dan nyaman. Saat ke kantor DPRD, ia akan tampil keren seorang pengusaha berkendara Honda CRV hitam bersama seorang sopir. Saat "berkantor" ke ladang lain lagi tampilannya, dia siap turun ke lumpur dengan Daihatsu Feroza-nya. Ia mengaku bisnis agro ini masih berpeluang besar. Ia mengaku sudah menularkan ilmu dan modalnya, juga memberdayakan sembilan kelompok tani semangka di daerahnya.

"Terakhir, saya bersama sembilan kelompok tani itu baru menandatangani kontrak ekspor semangka ke Dubai, Uni Emirat Arab, dan ke Singapura. Kontraknya, 25 ton atau satu kontainer setiap pekan. Insya Allah dapat kami penuhi," terangnya. Soal harga, pria murah senyum menyebut arga pasaran di lahan saat ini, sekitar Rp2.200 per kilogram. Setiap hektare saat panen bagus menghasilkan 30 ton. Pedagang akan datang ke lahan untuk dibawa ke pasar-pasar di Pulau Jawa, Palembang, Jambi, dan lokal Lampung.

"Kalau sudah ekspor nanti, insya Allah kami dapat harga yang lebih bagus dan tidak fluktuatif karena sudah terikat kontrak," ujar Nursalim.

Artikel Terbaru Kami