Rabu, 19 Februari 2014

Souvenir Pernikahan Bisa Diwaralabakan

Profil Pengusaha Dewi Tanjung Sari



Profil Dewi Tanjung Sari, 33 tahun, merupakan sosok nyata kegigihan mencapai cita- cita. Apa yang dia inginkan telah tercapai tapi bukanlah mudah; menjadi pengusaha. Dewi ingin menjadi pewirausaha sukses. Sebagai anak yatim sejak kecil, mentalnya telah terlatih agar bisa hidup mandiri. Ibu sudah bekerja menjadi pembantu rumah tangga. Ia menjadi sosok menginspirasi hidupnya agar bisa menjadi orang sukses kelak. Ia ingin mensejahterakan orang tua satu- satunya.

Ia telah memulai bisnis sejak awal mengambil kuliah program diploma III di Universitas Brawijaya, Malang. Dewi telah mengembangkan bisnisnya baik dalam kendala dan hambatan. Setelah mengambil lulus program diploma, ia melanjutkan kuliah sarjana di IKIP Budi Utomo. Semua bisnisnya berawal dari keinginan untuk membantu sang ibu yang saat itu membuka warung. Sejak masuk kuliah di Brawijaya, tahun 2003 -an, Dewi sering sepulang sekolah mencari daun- daun kering.

Ia merubah limbah di penjuru kampus menjadi kerajinan. Daun- daun kering tersebut dibersihkan, kemudian dikeringkan, lantas dibentuknya. Daun tersebut dibentuk menjadi figura foto lucu, kotak pensil, undangan, dan bentuk kerajinan lain. Hasil kerajinan tersebut tidaklah banyak hanya 50 ribu, dan dijual kepada teman- temannya di kampus. Jika ada pameran kerajinan di kampus pastilah produk miliknya laku keras -terjual habis.

Suatu hari di tahun 2005, ia bertemu pengusaha karajinan dari produk limbah. Dia kemudian mendapatkan pesanan produk kerajinan berbagai jenis. Itu dalam jumlah cukup banyak buat seorang Dewi. Dari sinilah awal usahanya berkembang pesat. Semula semua kegiatan ia lakukan secara sendiri, sekarang melibatkan 16 keryawan lepas yang merupakan tetangganya sendiri. Diluar dugaan, tahun 2007 -an, pengusaha eksportir kerajinan limbah itu harus menutup bisnisnya atau bangkrut.

Ini membuat Dewi memutar otak agar mempertahankan jalannya roda bisnis. Ia bingung bagaimana agar bisa mengelola usaha secara sendiri. Dia juga bingung akan nasib produk kerajinan yang telah ia selesai produksi. Untuk sementara proses produksi dihentikan atau itu berarti menghentikan para pekerja lepas. Ia kemudian menjual dan menitipkan produk- produk sisa ke teman- teman kampusnya. Dewi juga memajang produk tersebut di warung ibunya, berharap karyawan kantor di depan warung.

Saat itu ada orang belanja di warung ibunya dan tertarik kepada salah satu produk Dewi. Pembeli tersebut kemudian membeli 750 pcs seharga Rp.15000 /pcs, kemudian digunakan sebagai merchandise perkawinan. Bukan main senangnya. Kemudian ia berlanjut membuat produk merchandise bermerek De Tanjung ini. Tiap produk tersebut diberinya nomor telephon, alamat, dan website yang dibuat sederhana. Selain itu ia juga menitipkan produk- produk itu ke Gramedia serta pusat kerajinan berbentuk konsinyasi.

Titik bisnis


Hasilnya ternyata cukup lumayan. Ternyata cara marketing seperti itu mampu menarik pembeli. Tidak cuma membeli tapi mengingat mereknya, siap pembuatnya, dan menjadi pelanggan. Sebuah marketing dari mulut- ke mulut. Selepas itu. Dewi jadi rajin mengunjungi berbagai event fashion show serta aneka wedding expo yang diadakan di berbagai kota. Tujuannya mencari tau tren terbaru dalam industri yang berkaitan bisnis pernikahan. Bahkan secara periodik, Dewi bekerja sama beberapa pragawati agar mau melakukan pemaran souvenir dan kartu undangan perkawinan.

Hal ini karena pernak- pernik, souvenir, dan kartu undangan telah menjadi lifestyle. Khususnya bagi mereka kelas menengah atas. Dewi pun menyediakan aneka produk berbagai harga. Dia menyiapkan dari termurah Rp.3.000 hingga Rp.50.000 per- pcs. Produk itu akan disesuaikan kebutuhan pelanggan terang anak tunggal pasangan almarhum Adi dan Suharti. Dia pun tak segan memperluas pangsan pasarnya melalui waralaba. Usaha ini ternyata terbukti ampuh membuka berbagai mitra pewaralaba.

Produknya kini bisa ditemui di berbagai kota dari Malang, Bontang, Palu, Bekasi, Cirebon, bahkan Papua. Berkat marketing pinta, omzet bisnisnya juga meningkat, dari sebelumnya cuma angka Rp. 650 juta di tahun 2008, meningkat menjadi Rp. 935 juta di 2009, dan tahun 2010 lalu omzetnya tembus mencapai Rp. 1,1 miliar, dimana keuntungan bersih Rp. 273 juta. Dia, kini, mempekerjakan 52 orang di pusat produksinya. Sebagian mereka bekerja adalah anak- anak muda sekitar rumah.

"Bagi saya karyawan- karyawan inilah yang membantu usaha saya berkembang menjadi besar," ujarnya.

De Tanjung, bendera bisnis miliknya telah berumur 11 tahun dimana omzetnya mencapai Rp.2 miliar. Sang pemilik pun dianugrahi berbagai penghargaan atas bisnis dan usahanya kini. "Ini buah kesabaran, ketekunan, dan yang paling utama berani bermimpi," cetus Dewi, memasang raut wajah gembira. Pernah menjadi sosok wirausahawan Mandiri di 2011 bersama 180 peserta. Ribuan mahasiswa terlihat bersemangat bertanya ini itu kepada para pengusaha, termasuk dirinya.

Mereka terkejut jika mendengar bagaimana modal bisnis itu cuma 50 ribu; begitu juga penulis.

Kontak:

Email: de_tanjung@yahoo.com
Facebook: Dewi Tanjung
Alamat: Jl. Mondoroko tengah 19 A, Singosari – Malang

Artikel Terbaru Kami