Senin, 24 Februari 2014

Sidik Pemilik Kerupuk Gurame Pantang Menyarah

Profil Pengusaha Sidik Kekurangan

 

Ia telah menjadi tokoh inspiratif bagi setiap penyandang difable Indonesia. Ini cerita tentang ketekunan serta kerja kerasnya dalam mencari penghidupan. Terlahir tanpa kaki, Sidik tak pernah lepas dari kata bersyukur. Dia tau setiap menusia hanya menjalankan jalan- Nya. Ia terlahir keluarga miskin menghidupi keluarganya, kedua orangnya berjualan warung kecil- kecilan. Ia terlahir sebagai anak keenam dari sepuluh bersaudara. Dan, ketika bertanya tentang keadaan jasmaninya, dia langsung menjawab

"Alhamdulillah, sejak lahir saya sudah begini."

Perjuangan hidup


Ketika akan melahirkan Sidik, sang ibu pernah bermimpi diberitahukan bahwa ia akan melahirkan seorang anak cacat. Ketika itu pula ibunya juga mendapatkan pasan, anak cacat itu akan membawa berkah keluarga. "Alhamdulillah, tak lama setelah saya lahir, kata almarhum ibu, ayah saya langsung mendapatkan pekerjaan tetap, sehingga bisa membiayai pendidikan seluruh anak- anaknya hingga SMA," kata Sidik ditemui di rumah sederhananya, di bilangan Cempakan Putih.

Sidik memang lahir keadaan fisiknya tak sempurna. Namun, Sidik selalu tawakal kepada Allah, maka Tuhan pun selalu memberinya hal terbaik. Ia memang tak memiliki dua kaki hingga pangkal paha. Tubuhnya seperti separuh, namun semangat hidupnya tinggi. Dengan sebuah kursi roda, Sidik bisa bergerak lincah bahkan bisa mengendarai sepeda motor modifikasi. Sepeda motor telah dimodifikasi sehingga cuma memerlukan tangan saja; dia memanfaatkan kendaraan itu bisnisnya kini.

Meski sejak kecil keadaannya sudah begitu adanya, Sidik kecil tak pernah merepotkan orang tua. Ia akan selalu mencoba melakukan sagala hal sendiri. Dia bahkan tak mau dipapah atau pun digendong.

"Saya tak mau dikasihani orang, saya ingin sukses bukan karena orang kasihan pada saya, tetapi karena kerja keras saya." katanya tegas.

Ketika memasuki tahun 1992, Sidik akhirnya bertemu jodohnya, seorang wanita bernama Siti Rahmah yang juga penyandang difable. Meski keduanya sama- sama tak sempurna, ketiga anaknya lahir sehat dan normal. Sidik. Belakangan anak kedua mereka meninggal karena kecelakaan. Ini sebuah cobaan berat ke Tawakalan seorang Sidik. Meski begitu, meskipun didera cobaan sangat berat, hidup Sidik sudah menyerahkan dirinya kepada Sang Pencipta.

Bisnis mandiri


Setelah bekerja bertahun- tahun di yayasan Swa Prasidya Purna, merasa tak mendapat materi yang berarti, Sidik memilih keluar dari tempat kerjanya tersebut. Bermodal ijasah diploma, ia diterima bekerja sebagai di sebuah perusahaan sebagai staf personalia. Tapi belum lama bekerja, krisis 98 kemudian menghantam hingga membuatnya harus siap berhenti bekerja. Maka dimulailah periode Sidik hidup sebagai pengangguran baru. Tapi, ia tak mau lama- lama menganggur.

Dia mulai mengikuti berbagai kursus ketrampilan diadakan oleh Pemda DKI penyandang cacat. Salah satu kursus menjadi perhatiannya yaitu kursus membuat kerupuk singkong. "Dari belasan orang peserta, hanya satu- satunya orang yang masih bertahan membuat krupuk sampai sekarang. Yang lain, tumbang," ujar Sidik.

Modalnya cuma satu juta rupiah itupun diberikan oleh Pemda DKI. Bersama istrinya, Sidik memulai bisnis pertamanya yaitu membuat kerupuk singkong. Produk kerupuk dibuatnya seadanya dari segi pengemasan terangnya. Tapi bukan tentang kualitas produknya. Sidik paham betul tentang hal tersebut. Ia serius bahkan memproduksi 100 bungkus kerupuk berukuran 2 ons masing- masing. Kerupuk dibuat murni dari singkong seberat 10 kilogram.

Kualitas kerupuknya nomor satu meski bungkusnya lusuh. "Namanya juga pertama, kerupuk dagangan saya baru habis setelah sebulan lebih," kenang Sidik.

Proses pembuatan kerupuk singkong bisa dibilang jadi lebih rumit dibanding pembuatan keripik singkong. Jikalau keripik singkong cukup mengiris singkong tipis- tipis lalu digoreng, kerupuk singkong bisa lebih lama. Pertama kali, Sidik mengupas kulit lalu memarutnya hingga lembut. Perutan itu kemudian diubah menjadi adonan kemudian dicampurkan sedikit bumbu dan tepung barulah dibentuk.

Adonan kemudian dibentuk memanjang seperti singkong utuh, kemudian dijemur di panas matahari. Setelah adonan itu sedikit liat barulah diangkat kemudian diiris. Irisan tipis itu tidak lantas digoreng masih ada satu tahapan lagi. Sidik kemudian menjemur kembali kerupuk itu selama dua hari di panasnya matahari. Setelah itu, kerupuk telah siap untuk digoreng hingga matang. Kenapa begitu lama? Karena ini membuat kerupuknya bisa bertahan lama dan lebih gurih tentunya.

Dari hanya 10 kilogram singkong, Sidik sekarang mampu merubah menjadi 50 hingga 100 kilogram singkong menjadi kerupuk. Ia kini memiliki merek dagang sendiri di produknya. "Saya beri nama merek Cap Gurame, ini sama sekali tidak ada hubungannya sama ikan gurame, tetapi gurame adalah singkatan dai Gurih, Renyah, Enak," katanya sambil tersenyum. "Kalo nanti ada biaya, merek ini saya mau patentkan," tambahnya.

Semua pekerjaan dan proses pembuatan ia kerjakan sendiri dibantu sang istri. Setiap hari, tanpa kenal lelah, ia sendiri pergi menawarkan langsung kerupuknya ke warung- warung dan koperasi- koperasi di kantor pemerintah. "Saya menggunakan sistem konsinyasi atau titip jual, harga dari saya empat ribu, terserah mereka menjualnya berapa, tapi bisanya mereka jual lima ribu rupiah." kata Sidik.

Buah kesabaran


Usahanya telah ditekuni sejak 1999, ini memang belum terlihat memberikan materi berarti. Sidik sekeluarga masih lah saja hidup di gedung bekas tempatnya bekerja di Campaka Putih, Jakarta Pusat. Rumahnya pun masih terdiri dari tiga petak disekat papan triplek termasuk di dalamnya, satu ruangan khusus pembuatan kerupuk "Cap Gurame". Beruntung ada seorang pengusaha lokal mau melihat kegigihan Sidik. Ia lantas menyumbang sebuah sepeda motor agar Sidik bisa bekerja lebih maksimal.

"Namanya juga tidak punya kaki, saya sempat bingung juga, bagaimana mengendarainya?" Tak kehilangan akal, ia memodifikasi ulang motor tersebut agar tuas perseneling dapat dioperasikan hanya tangan.

Dengan bantuan tukang las, jadilah motornya mempunyai tuas besi di bagian perseneling dan rem. Tambahan lain seperti gerobak di sisi kanan, fungsinya agar bisa mengangkut muatan serta keseimbangan. Motor itu kini benar- benar membantu mobilitas produksinya.

Hingga saat ini, Sidik masih terus mengembangkan pemasaran produknya. Setipah hari ia terus sibuk pergi dari satu koperasi ke koperasi lain. Dia juga menyasar warung- warung hingga seluruh pelosok ibu kota, tentu dibantu sepeda motor uniknya. Bahkan kini, permintaan akan kerupuk Cap Gurame terus mengalir dari handphon Sidik.

"Saya ingin sekali mendapat tambahan modal, atau minimal ada orang yang mau menjadi mitra usaha untuk mengembangkan bisnis ini. Saya punya mimpi suatu saat kerupuk saya ini dimakan sama orang Amerika." ujarnya. Sidik mengaku masih kesulitan memasok produknya ke pasar modern seperti supermarket atau hipermarket.

Usahanya harus jadi perseroan mimpi selanjutnya seorang Sidik, meski dia harus sedia menyediakan deposit uang; ini sulit baginya kini. Tak mau menyerah, ia memiliki prinsip bahwa Indonesia membutuhkan setidaknya 20% wirausahawan seluruh penduduk Indonesia. Dia tak mau menyarah menjadi pengusaha sukses. Ia yakin kerupuknya akan masuk supermarket atau hipermarket. Maski bisnisnya menghasilkan untung kisaran 1- 2 juta per- bulan; Sidik masih bersemangat.

Artikel Terbaru Kami