Jumat, 28 Februari 2014

Resep Bisnis Kue Pukis Pak Kuat

Sukses Bisnis Kecil- Kecilan



Kue pukis asal mulanya dari Gombong, Kebumen, Jawa Tengah. Menurut beberapa sumber pula sebagian besar pengusaha kue berjualan di Jawa Tengah, kebanyakan berasal dari daerah sini. Salah satu pengusaha sukses bisa kamu temui ialah Pak Kuat. Pria asli kelahiran Gombong, 28 tahun silam, memang sudah lama berbisnis kue pukis. Dia telah berbisnis kurang lebih 10 tahunan. Diawali tahun 1996, tepat selepas bangku SMP, dia langsung berhijrah ke Jakarta.

Kuat ikut saudaranya berjualan kue pukis di ramainya ibu kota. Kue tradisional tersebut sudah ada dimana- mana; banyak dijumpai di pasar- pasar tradisional. Tak hanya itu, kini, mereka bahkan telah berani masuk pasar swalayan besar. Kue ini punya rasa gurih khas. Sangat mudah dari segi pembuatan ditunjang rasa manis berselera. Kue pukis mampu berubah- ubah bentuk rasa mengikuti selera pasarnya. Kita bisa melihat kue pukis diselipi selai nanas atau rasa lainnya sesuai selera.

Kue ini biasanya memiliki dua warna dasar yaitu coklat dan putih. Mari kembali ke kisah Pak Kuat kembali. Berjualan di Jakarta ternyata bukanlah pilihan.

Setelah beberapa tahun berpindah- pindah dari satu kota ke kota lain. Pak Kuat juga singgah di kota- kota besar seperti Banjarmasin dan Surabaya. Dan, akhirnya, Kuat memilih menetap di satu kota dan membuka bisnisnya sendiri. Ia memutuskan membuak bisnis kue pukis di Yogya saja, dimulai sejak tahun 2006 silam. Bisnis kue pukis ini terbilang cukup menguntungkan, buktinya kini Pak Kuat dapat menghidupi anak dan istrinya serta 4 karyawan tetapnya.

Bahan baku pembuatan kue pukis cukup sederhana, yaitu cuma tepung terigu, kelapa, telur ayam, gula pasir, essence, fermipan, dan soda kue. Alat- alat digunakan dalam usaha pun relatif sederhana yaitu cukuplah satu kompor, ember, teko, gayung, dan cetakan.

Cara membuatnya, pertama- tama sekali, kelapa itu diambil santannya kemudian dicampur dengan tepung terigu. Ambil gula dan telur dikocok sampai gula larut. Masukkan campuran santan ditambah terigu ke dalam kocokan telur dan gula, tambahkan fermipan dan soda kue. Kemudian adonan ditaruh di ember dan ditutup kain basah.  Adonan dibiarkan 6 jam sampai mengembang. Adonan ini sudah jadi siap untuk dipanggang dalam cetakan.

Pak Kuat kemudian menjelaskan kendala sering ditemuinya adalah mengenai adonannya. Adonan bisa saja tidak mengembang sempurna. Ia lentas memberikan tips yaitu memberikan tetesan air nanas.

Berikan tetesan air nanas ke adonan sekitar 10 tetes satu kali pembuatan bahan. Komposisi paling bagus buat adonan adalah kelapa 1 kg, gula 1 kg, telur 3 butir, tepung 2 kg. Sehari Pak Kuat menyebut mampu menghabiskan 24 kg tepung terigu. Dari setiap 2 kg tepung terigu, ia mampu menghasilkan sekitar 150 buah kue, yang biasanya dijual 10 buah kue tiap bungkusnya. Kue tersebut dijual 4- 5 ribu rupiah per bungkusnya. Omset diperolehnya setiap harinya berkisar antara 500 ribu-600 ribu.

"Bahkan ada salah seorang pengusaha kue pukis yang biasa jualan di depan toko progo mempunyai omset 1,2-1,5 juta" pungkasnya.

Pak Kuat membuka bisnisnya dibantu istri dan empat tenaga pemasaran. Pemasarannya itu telah meliputi kawasan 4 pasar yang berada di Yogya utara. Sistem digunakan oleh Kuat memang berbeda, ia tak menjual secara tradisional menetap. Ia akan menjual perpaket biasanya akan disi 150 buah kue, dan setiap paketnya tenaga pemasaran menyetor 46 ribu. Para pelanggan adalah ibu- ibu rumah tangga yang sering berbelanja di pasar tradisional tersebut.

Kendala sering dihadapi lainnya adalah ketika waktu musim penghujan penjualan akan turun dikarenakan tidak banyaknya orang berbelanja di pasar. Ketika ditanya kenapa tak berekspansi ke pasar- pasar dalam kota juga. Ia mengaku hampir semua pengusaha kue pukis saling mengenal, termasuk mengenalnya. Mereka itu masih satu daerah asal, jadi timbul perasaan tidak enak. Pak Kuat merasa tak enak jika masuk ke pasar dari saudaranya sendiri.

Ketika ada usulan supaya tidak bertabrakan di lahan sama (pasar), bagaimana jika ia melakukan pemasaran secara langsung ke konsumen melalui instansi, warung burjo atau kost-kostan dengan sistem titip jual, seperti halnya kue donat. Kuat pun antusias menjawab akan mencoba cara ini sebagai salah satu usaha memperluas jaringan pemasarannya. Inilah kisah Pak Kuat sebuah realita usaha kampung ke kota. Jika ditempat kamu ada bisnis coba dibawa ke kota.

Artikel Terbaru Kami