Jumat, 14 Februari 2014

Peyek Kacang Tumpuk Rahasia Kelik

 Profil Pengusaha Arifdiarto Ambar Wirawan



Meski ia hanya lulusan sekolah menengah atas, bukan berarti tidak bisa mencapai kesuksesan. Ia, Arifdiarto Ambar Wirawan (35 tahun), memulai usaha pertamanya yaitu geplak dan peyek tumpuk. Bisnis pertama langsung menanjak naik. Pria yang disapa Kelik ini telah bergelut bersama bisnisnya selama 10 tahun lebih, atau sejak setelah lulus SMA. Jadi tak ayal kalau kini ia bisa disebut pengusaha sukses. Kalau diukur materi, berapa sih omzetnya?

Ternyata ia menghasilkan omzet cukup besar dari bisnis khas ini. Ia menyebut angka kisaran 10 juta bisa ditangan tiap bulannya. Wah, menakjubkan ia cuma bermodal bisnis remeh peyek kacang; Kelik malah bisa menjadi jutawan.

Usaha kecil menengah


Dengan margin untung 30%, ini berarti Kelik mengantongi pendapatan bersih Rp.18 juta per- bulan. Nilai ini luar biasa bagi pengusaha kelas kecil- menengah apalagi asal Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Meski sukses itu telah terlihat ia belum merasa puas hati. Kelik bercita- cita membuka gerai baru di kota lain kedepannya. Ia sendiri telah membuka usaha geplak dan peyek tumpuk sejak lama. Dia dibantu sang istri, Sri Kasih (32), membuka gerai pertamanya di JL. Wahid Hasyim, Bantul.

Gerai berukuran 5x8 meter itu dibuat berdempet tempat tinggal sekaligus tempat produksinya. Dulu pertama kali, gerainya masih menggunakan alas dinding bambu, kini gerainya telah menjadi bangunan permanen. Kelik membutuhkan sekitar 2,5 kuintal gula pasir buat membuat geplak. Untuk produk peyek tumpuk, ia butuh sekitar 50kg kacang dan juga 25kg tepung terigu. Dia mempekerjakan 20 karyawan di pabrik kecilnya membantunya berprodusi.

Apa istimewa geplak buatan Kelik?

Menurut dia, rahasia bisnisnya tetap berjalan ada pada kualitas bahan. Dia selalu menggunakan gula asli sehingga rasa khas itu tak tercampur. Tak heran jika geplaknya bisa dijual seharga Rp.16.000 per- kilo gram tapi begitu lari di pasaran. "Kalau bentuknya hampir sama produk orang lain, tetapi dari segi rasa, konsumen bisa membedakannya," jelasnya.

Proses pembuatan geplak diperlukan kelapa, gula, dan aroma sesuai selera. Proses pembuatan geplak milik Kelik diawali pemarutan kelapa lalu santannya ditempatkan di kuali. Kemudain ia campur gula kemudian diaduk. Setelah dinaikkan ke tungku selama 4 jam, lalu diturunkan dan diberi aroma, olahan itu kemudian dibentuk lantas diangin- anginkan sekitar 10 menit. Produk teristimewa itu ialah peyek tumpuk. Peyek yang dibuatnya secara menumpuk persis seperti namanya.

Peyek ini ditumpuk sehingga membentuk sebuah rangkaian peyek. Berbeda dengan peyek pipih biasa yang digoreng satu kali, peyek ini digoreng selema tiga kali. Produk yang satu ini memang lebih banyak bahan dan lama proses pembuatannya. Pertama- tama, penggorengan pertama disiapakan untuk membuat susunan peyek. Setelah terbentuk rapi barulah peyek dipindahkan ke penggorengan kedua. Pada penggorengan pertama, nyala api harus kuat agar efek panasnya tinggi.

Tujuannya supaya kacangnya bisa lekas matang. Di penggorengan kedua, nyala api justru lebih kecil karena tujuannya supaya peyek secara keseluruhan bisa matang rata. "Kalau apinya terlalu besar, bisa gosong," ujar bapak tiga anak ini. Sebelum masuk penggorengan terakhir, peyek- peyek tersebut harus diangin- anginkan terlebih dahulu. Kelik berujar bahwa proses penganginan agar membuat peyek tersebut benar- benar renyah dan gurih.

Peyek- peyek tersebut kemudian dijualnya seharga Rp 32.000 per kilogram. Untuk proses pengapian, ia memanfaatkan tempurung kelapa. "Untuk membuat peyek dan geplak, dalam sehari saya butuh sekitar 750 butir kelapa. Kalau tempurungnya tidak saya manfaatkan kan sayang. Hitung- hitung, ongkos produksi bisa ditekan, apalagi harga gas dan minyak tanah sudah sangat mahal," katanya. Ide pembuatan peyek tersebut ternyata bukanlah asal- asalan.

Peyek dibuatnya bertumpuk tersebut merupakan resep keluarga sang mertua sendiri, yang bernama Mbok Tumpuk (penggilan). Kelik sebagai menantu sukses membuat usaha sang mertua berkembang tanpa merubah namanya. Meski unik, bisnis produk olahan tergolong susah, terutama karena produk itu belumlah dikenal masyarakat. Hasil penjualan pertama begitu kecil untungnya. Namun, Kelik tetap tak patah arah sebagai seorang pengusaha beneran.

"Bagi saya, usaha butuh konsistensi. Meski awalnya tidak laku, saya harus terus berproduksi. Saya tidak boleh menyerah. Konsistensi juga faktor utama untuk menumbuhkan kepercayaan pelanggan," paparnya.

Selain konsistensi, lanjut Kelik, faktor kejujuran juga memegang peranan penting dalam berbisnis. Kepada pembeli, ia selalu menginformasikan soal masa kedaluwarsa produknya. Kalau waktunya tinggal sedikit, ia menyarankan agar pembeli tidak mengambilnya, apalagi jika peyek atau geplak tersebut akan dibawa ke luar kota. Inilah keseriusan seorang pengusaha yang telah puluhan tahun berpraktik langsung. Kelik hanya akan menjual geplak dan peyeknya di gerainya sendiri.

Dia sengaja tidak menitipkannya ke toko-toko lain meski banyak permintaan. Ia khawatir bila dititipkan, harga dan kualitas tidak bisa terkontrol. Dia bersikeras fokus membuka gerai- gerainya sendiri.

"Bisa saja di toko lain produk kami dijual sangat mahal. Mereka juga bisa saja menjual produk kedaluwarsa. Kalau sudah begitu, citra kami pasti hancur," katanya.

Kelik sangat berharap bisa membuka gerai sendiri di kota- kota besar. Dengan pengendalian sendiri, ia yakin usahanya bisa maju karena semuanya lebih terkontrol dan terjaga. Sampai sekarang saja, Kelik bersama istri masih terlibat langsung dalam proses peracikan bumbu. Keduanya ingin terlibat langsung dalam bisnis kecil keluarga tersebut.

Artikel Terbaru Kami