Selasa, 18 Februari 2014

Petani Sukses Berkat Singkong Lampung

Kisah Nyata Sukses Transmigrasi



P. Nyoman menjadi contoh sukses transmigrasi pemerintah. Selain bekerja sebagai guru SMA, ia kini sukses menjadi petani singkong di daerah Lampung sana. Nyoman telah bertransmigrasi sejak tahun 60- an dan telah mengolah ratusan hektar sawah. Dia bermitra petani- petani lain dalam kelompoknya. Mereka khusus menggarap tanaman singkong. Dia juga menjadi agen buat menjembatani penjualan hasil singkong ke pabrik- pabrik di sekitar lahan.

Singkong- singkong tersebut biasa digunakan untuk industri tepung tapioca maupun minyak ethanol. Saat ini, Singkong seperti produk agro lain sedang digiatkan sebagai sumber bahan bakar alternatif. Pertumbuhan bisnis Singkong ini bahkan diperkirakan akan menyamai produk lain; sawit, karet, dan tebu. Singkong memang telah terbukti menjadi sumber bahan bakar bio fuel. Bahkan pemerintah berinisiatif untuk budidaya sekala besar.

Petani kaya


Pengalaman puluhan tahun membuatnya mudah mendapatkan jaringan. Dia telah memiliki jaringan dibawah kuat bersama para petani singkong lainnya. Terutama bersama mereka yang sama- sama asal Bali. Mereka seolah memiliki hubungan kekerabatan kuat dangan Nyoman. Sebagai agen dari perusahaan, ia akan ditugasi mencapai target harian tertentu. Ini tidaklah mudah karena setiap hari ditargetkan ada 100- 500 ton harus terpenuhi tiap hari. Berapa duit didapatkan menjadi seorang agen?

Omzetnya bisa dihitung dari permintaan harian dan akumulasi semua dalam satu bulan. Kita bisa menghitung omzet baik sebagai petani maupun kordinator saja. Dengan makin banyak pabrik- pabrik di sekitar tanah garapan; permintaan akan singkong sangat tinggi. Di sisi lain, perkembangan luas lahan sangatlah lamban ditambah kompetisi produk pertanian lain; sawit, tebu, dan karet, oleh karena itu, harga singkong pastilah akan naik tinggi.

Ketika permintaan singkong itu tak sesuai stok tersedia. Kondisi ini menyebabkan harga singkong bisa naik drastis. Sebagai petani, Nyoman bisa menjual singkong ke pasar di rentangan harga sebelumnya Rp.200- 200 /kg pada 2006. Di tahun berikutnya, tahun 2007, harga singkongnya naik menjadi Rp.400- 500 /kg. Di tahun 2008, singkong telah mencapai harga kisaran Rp.650 /kg di pasaran, dimana asumsi kenaikan berkala. Singkong tersebut diolah menjadi makanan ringan selain di jual tepung tapioka.

Jika asumsi harga singkong di Rp.450, Nyoman bisa mengantongi Rp.42.500.000 tiap 100.000 kg. Itupun belum dari total harian pabrik yang beroperasi 25 hari dalam satu bulan. Jika dihitung ulang maka dari satu pabrik bisa mencapai omzet Rp.1.062.500.000 /bulan. Pakem usaha tersebut ialah petani- agen- pabrik jadi agen bisa mendapatkan tambahan. Nyoman mendapatkan tambahan fee sebesar Rp.10- 15. Jikalau target 100 ton/hari, 25 hari kerja pabrik menghasilkan asumsi fee Rp.25 juta /bulan.

Sukses serba usaha


Angka menjadi agen ditambah penjualan hasil pertanian sendiri membuatnya menjadi petani kaya. Tentunya untuk mencapai ini semua dibutuhkan bantuan keluarga, saudara, dan sesama petani lain. Sebagai gambaran biaya budidaya singkong per- hektar rata-rata memerlukan modal Rp. 4.5 juta/Ha. Rinciannya: Sewa tanah senilai Rp. 1,000,000 /Ha, pengolahan Lahan Rp. 1,000,000, pemupukan Rp. 1.600,000, dan juga tenaga kerja Rp. 900.000.

Nyoman menyebut keberhasilan menjadi petani terletak pada kualitas. Dia selalu menggunakan pupuk tepat dan menjalan perawatan periodik. Hasil pertanian miliknya bisa mencapai 30 ton/ha dengan rendemen 24% untuk waktu penanaman 10- 12 bulan. Harga di pabrik-pabrik di Lampung saat ini berkisar di angka Rp. 450/kg….maka untuk hasil panen 30 Ton/Ha akan menghasilkan 30,000 kg x 450 = Rp. 13,500,000, masih dipotong ongkos transport dan cabut Rp. 100 x 30,000 = Rp 3,000,000.

Hasil bersihnya ada Rp. 10,5 juta dengan modal awal Rp. 4,5 juta. Itupun jika asumsi lahan sewaan, kalau lahan sendiri hasil akan lebih besar lagi. Keluarga P. Nyoman sendiri memiliki lahan 15 ha, hanya dari singkong, keluarga petani ini bisa memperoleh Rp. 90 juta /panen atau setahun. Kegiatan kordinator atau agensi menghasilkan Rp.10 untuk setiap kilo hasil panen singkong yang dibawanya. Nyoman kini berancang- ancang membeli mobil baru menggantikan mobil Suzuki Katana tuanya.

Ia berencana ber- off road ria dengan mobil baru yaitu Nissan Terano untuk menjelajahi setiap sisi sawahnya.

Artikel Terbaru Kami