Kamis, 27 Februari 2014

Pengusaha Limbah Wanita Berkarya

Biografi Pengusaha Irene Holle



Irene Holle, srikandi wanita kelahiran 29 April 1974, membuktikan sukses berkat limbah bukan cuma punya pria. Tak pernah terpikir sekalipun, awalnya, tapi kini Irene sukses dibawah bendera PT. Recycle Indonesia Utama Mandiri (Recyclindo), bisnisnya bisa moncer lebih besar dari pengharapan awal. Dia pernah berangan punya bisnis kuliner atau restoran, bukan pengolahan sampah. Kesemuanya berubah, ketika dia menemukan bahwa masyarakat cenderung cuek soal sampah.

Pemikirannya diwujudkan melalui membeli sampah dari staf housekeeping hotel; berupa sampah botol, dan kaleng alumunium, kemudian dijual.

"Kalaupun mimpi punya bisnis, saya ingin berbisnis kuliner atau restoran, karena bidang saya F&B," ujarnya.

Irene mulai tertarik akan pengolahan sampah, kemudian mengambil kursus 3 hari intensif. Katanya Irene waktu itu mengambil kursus intensif mengenai zero waste management di BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). "Dari kursus itu, wawasan saya makin terbuka tentang apa yang bisa saya lakukan pada sampah." terangnya.

Disaat mengambil kursus itu, ada pengalaman membekas, salah satunya yaitu disaat kunjungan ke tempat pembuangan sampah Bantar Gebang, Bekasi dan rumah jagal DKI di daerah Cakung. Irene tertegun melihat berbukit- bukit sampah. Ia seperti mabuk karena tak terbiasa mencium bau sampah begitu banyak. Apalagi, ternyata ia punya alergi debu. Di rumah jagal lain lagi, ceritanya didekat tempat itu ada tempat pembuatan kompos, buanya benar- benar mengganggu.

"Ya, ampun, baunya tajam dan menyengat! Setelah kunjungan itu, saya langsung jatuh sakit. Tapi, dalam 3 hari itu banyak sekali pelajaran berharga yang saya peroleh," tutur Irene.

Usahanya itu berjalan setahap demi setahap. Tidak langsung sukses seperti orang bayangkan sekarang. Dia memulai dengan mengumpulkan sampah- sampah kering, kemudian naik- turun truk membawa wadah plastik kresek ke mana- mana. Irene, akhirnya, telah memiliki langganan pemasok sampah sendiri. Ia kemudian mendapatkan kontrak mengangkut sampah non- organik. Sisa sampahnya kemudian dibuang ke tempat milik Pemda.

Bisnis limbah


Irene tak segan mengeluarkan uang Rp.100 juta jadi modal. Modalnya buat membeli satu truk second- hand dan menyewa lahan sebagai gudang. Ia menjelaskan menyewa lahan mutlak termasuk dalam pengolahan. Dia menambahkan mengolah sampah organik itu tak mudah, atau bisa dikomplain tetangga salah- salah. Usaha tersebut didirikan di kawasan Cingangka, Sawangan, Depok. Irene juga berminat mencari lahan baru seperti di daerah Parung, Bogor.

Ia ingin memaksimalkan pengolahan sampah. Sejak akhir 2009, di tempat baru, ia mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos.

"Learning by doing. Kami hire konsultan untuk memastikan proses yang kami lakukan ini sudah benar. Misalnya, kompoisi dan kelelembapannya. Kompos harus selalu basah, supaya cepat busuk." terangnya. Untuk omzet dari jasa pengangkutan bisa mencapai sekitar Rp.15 juta per- bulan. Balum lagi, pemasukan dari penjualan sampah daur ulang beratnya beratus- ratus kilo, bisa menghasilkan sekitaran Rp.5 juta -an. Untuk pengolaham sampah organik, kisaran omzet per- bulan bisa mencapai Rp.5 juta.

Banyaknya sampah organik sisa bahan makanan dari hotel dan resto membuat Irene memiliki ide lain. Dia berpikir tentang membuka usaha peternakan lele di Parung. Sisa makanan ini cukup dijadikan bahan pakan lele. Dari usaha ini omzetnya bisa mencapai Rp.10 juta. Jadi total pemasukan bisnis bisa mencapai Rp.45 juta per- bulan.

Irene mangaku belakangan dipercaya perusahaan besar mengolah sampah mereka. Banyak perusahaan yang tak ingin sampahnya terbuang begitu saja. Irene menyebut ini sebagai usaha menciptakan budaya ramah lingkungan. Perusahaan juga memiliki tanggung jawab yang dituangkan di CSR mereka. Konsep ramah yang ditawarkan perusahaan miliknya menjadi daya tarik tersendiri.

"Mulai banyak perusahaan yang sudah menerapkan konsep ramah lingkungan kemudian memilih kami. Mereka tidak mau sampahnya tidak diapa- apain. Hal itu rupanya sudah menjadi bagian dari komitmen CSR mereka," tutur Irene.

Sampah- sampah daur ulang sangat diminati oleh perusahaan pengelohan limbah. Sampah seperti kantong plastik, kertas, kardus dan botol kaca, banyak sekali pabrik yang membutuhkan. Salah satu perusahaan yang berminat membeli sampah- sampah tersebut ada sebuah pabrik di Tangerang, Parung, Cikarang. Sampah- sampah tersebut kemudian diolah menjadi bentuk lain. Sampah alumunium dan kaleng bisa langsung dilebur, digunting, atau diolah menjadi berbagai handycraft; botol gelas bisa dipakai lagi.

Jika botol tersebut sudah tidak bisa terpakai, diolah oleh pabrik keramik. Kardus dan kertas diolah lagi oleh pabrik kertas. Botol soft drink yang terbuat dari bahan jenis polyethylene terephthalate, bisa diolah menjadi bahan kain yang stretch Sampah di Parung akan diseleksi oleh Irene, kemudian dikelompokan berbagai kategori. Sampah plastik dibagi menjadi beberapa jenis, misalnya ada plastik berupa kemasan botol sampo, kemasan botol air mineral, kemasan soft drink, dan plastik hitam.

Lalu sampah dipisahkan mana bisa didaur ulang dijual lagi. Sampah organik akan dibuat pupuk kompos dan pupuk cair. Sampah dari sisa makanan bisa digunakan pakan ikan dan hewan ternak. Residunya, yang tidak bisa diapa-apakan, baru dibakar di oven pembakaran.

Bisnis besar


Dulu di awal usahanya Irene harus rela mencari- cari pabrik untuk dipasok sampah daur ulang. Kini, klien itu datang sendiri ke perusahaan miliknya agar mau dipasok. Meski belum ada rencana membesarkan bisnisnya lebih lagi, ada rencana agar tiap sampah bisa jadi barang pakai lagi. Belum lama, Irene melakukan percobaan dengan menanam cabai serta papaya jenis california. Ia tengah mengeksplorasi bisnis di bidang nursery untuk memanfaatkan pupuk organiknya.

"Kini saya sedang ingin mempelajari cara membuat pelet ikan dari sisa makanan. Saya dengar di Sumatra Barat ada orang yang mendapat penghargaan, karena sukses mengolah sampah pasar menjadi bahan makanan ikan. Saya sedang mencari infonya," tutur Irene, bersemangat.

Irene punya kebiasaan unik ketika menjalankan hobinya bertreveling ke berbagai negara. Ia tidak memilih tempat- tempat indah sebagai objek potret. Ia asik mengamati tempat sampah dan pengolahan sampah di tiap kota disambanginya. Ia mengaku takjub akan masalah manajemen persampahan di luar negeri. Tempat- tempah sampah di mana-mana sudah dipisah sesuai jenisnya.

Di Australia, tempat sampah ditandai warna- warni kuning, biru, dan merah. Perusahaan yang menangani pengangkutan dan pengolahan sampah biasanya berdasarkan tender resmi. Di sana, pemerintah punya plan pengolahan sampah dan menerapkan zero waste management. Di Singapura, ada pengolahan sampah kertas dimana usahanya telah lama dijalankan. Menurut Irene usaha pengolahan sampah di Singapura merupakan masalah serius; bahkan masuk bisnis bermodal mahal.

Namun, setelah tau cara mengolahnya bisa menjadi sumber pendapatan ujarnya. Irene bercerita di Singapura juga punya teknologi pengolahan sampah maju. Sampah dipisah residunya langsung ke tempat pembakaran sampah. Di Dubai lain lagi, setiap beberapa unit rumah dan vila disediakan kontainer sampah tertutup. Truk sampah datang setiap hari saat masih gelap. Irene merasa miris ketika melihat Indonesia dimana kesadaran membuang sampah sangat rendah.

Ada daerah harus menyewa truk sampah secara patungan. Di tempat pembuangan sampah akhir, semua- semua sampah dibiarkan saja tanpa diolah ditumpuk- tumpuk. Dia sangat berharap pemerintah bersedia menyubsidi tempat-tempat sampah agar tercipta lingkungan bersih. Di setiap beberapa titik harus disediakan tempat sampah besar atau kontainer.

"Kalau melihat tumpukan sampah, saya geregetan ingin mengangkut. Tapi, kalau saya angkut hari ini, biasanya besok akan ada lagi. Hari ini ada satu, besoknya ada lagi yang melempar," tutur Irene, yang akan menyambut baik para pemain baru di bisnis ini.

Artikel Terbaru Kami