Kamis, 13 Februari 2014

Peluang Usaha Kaca Gravir di Padang

Kisah Susahnya Dapat Pekerjaan



Susahnya mendapatkan pekerjaan juga pernah dirasakan pengusaha satu ini. Akan tetapi bukannya tetap mencaari, Doni Alferi, memilih berhenti berharap kepada dunia kerja. Tahun 1998, Doni menyelesaikan kuliahnya di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi dan Perbankan Padang. Sebagaimana kebanyakan sarjana baru ia pun ikut mencoba mencari pekerjaan. Puluhan surat lamaran dia sebarkan ke sejumlah perusahaan baik nasional maupun lokal; harapan ada salah satu mau menerimanya.

Ia sangat berharap segara mendapatkan pekerjaan secepatnya setelah selesai kuliah. Dorongannya, ia sangat merasakan rasa ingin membalas budi kepada orang tua yang telah membiayainya. Apalagi bagi Doni hidup menganggur itu tidaklah menyenangkan. Enam bulan ia belum mendapatkan panggilan kerja, ia mulai merasa tidak tenang. Memasuki bulan kedelapan belum mendapatkan pekerjaan sesuai harapan. Hati pria kelahiran 1973 itupun gelisah.

"Tapi saya masih nyantai saat itu," terangnya.

Menjadi wiraswasta


Setelah setahun lewat belum juga mendapatkan pekerjaan mulai mengusik batinnya. Ia yang menyadang gelar sarjana namun belum juga bekerja menjadi beban. Rasa frustasi itu mulai menghinggapinya. "Teman- teman seangkatan banyak yang sudah mendapatkan pekerjaan, tapi kok saya belum. Tak mau hanya tinggal diam, ia memutuskan memasang target pribadi. Kalau hingga tahun 2000 belum mendapatkan pekerjaan, dia akan menjadi wiraswasta atau pengusaha.

Meski telah mengambil keputusan itu, Doni belum menemukan arah usahanya. Dia belum menentukan bisnis macam apa akan dikerjakannya. Janji pada diri sendiri harus ditepati menjadi kekuatan tersendiri. "Karena saya sudah membulatkan tekat tahun 2000 sebagai tahun perubahan nasib, begitu saya belum mendapatkan perkejaan juga di tahun tersebut, saya benar- benar memutuskan menjadi wiraswasta," terangnya. Maka dimulailah perjalanan anak muda asal Padang gagal menjadi pegawai.

Pada tahun 2000, Doni telah mengontrak sebuah bangunan di Jl. Hamka, Padang. Ia hanya bermodal tekat ditambah keyakinan menjadi pengusaha sukses. Di tempat itu pula ide bisnis bisnis muncul. Dia mendapatkan ide bagaimana jika berbisnis kaca gravir. Pertimbangannya mudah bahwa di Padang belum ada orang berani menggarap bisnis kaca hias mahal ini. Ia pun segera mencari sumber tentang bisnis ini dari berbagai sumber. Nekat, Doni lantas berangkat ke Jakarta buat magang di sebuah pabrik kaca gravir.

Magang menjadi salah satu cara ditempuh Doni agar mengetahui seluk beluk bisnis. Menurutnya menaklukan kota Jakarta akan mengasah kemampuan serta mentalnya. Ia juga perlu tau seluk beluk distribusi kaca gravir lalu dibawanya ke Padang nanti. Benarlah bisnis kaca gravir memang sudah kuat di ibu kota, dan telah berkembang sangat pesat. Doni megang di perusahaan milik orang dikenalnya. Selama menimba ilmu bisnis gravir tersebut ia tidak peduli jika dibayar atau tidak.

Yang terpenting bagi Doni, ialah sebuah kesempatan menimba ilmu gratis. Merasa bekal itu telah cukup maka kembalilah Doni ke Padang. Dia lalu memberanikan diri membuka Kinabalu Glass. Ini menjadi perwujudan tujuannya menjadi seorang wirausaha. Di awal bisnisnya ia mengaku semuanya serba terbatas. Termasuk sola modalnya, juga terbatas, pengalaman belum seberapa, termasuk soal alat produksinya. Momotong kaca hingga menyemprot cat masih dilakukannya secara manual.

Tetap pada pendiriannya. Soal pasokan bahan baku untunglah bukan menjadi soal. Bahan baku utama yaitu kaca patri di dapatnya dari seorang kenalan di Jakarta. "Kalau bahan lainnya, seperti kaca limbah, stainless steel, dan timah bisa diperoleh di Padang," terangnya.

Sukses bertahap


Karena bisnisnya tergolong baru di Padang, Kinabalu Glass, belumlah banyak dikenal. Doni turun tangan sendiri menjajakan produknya. Ia tak segan mencari satu persatu mencoba meyakinkan masyarakat sekitar. Pesanan itu pun belum begitu banyak. Doni mengatakan waktu itu menjadi ujian berat baginya. "Kontrakan tetap harus dibayar, sementara pesanan belum banyak. Hanya tekad dan semangat yang membuat saya tetap bertahan," kenang Doni. Seiring waktu usaha Kinabalu Glass mulai dikenal masyarakat luas di Padang.

Melalui penetrasi agresif serta produk -produk cantik dan apik terpajang di etalase ruko kontrakan. Bisnis Kinabalu Glass telah sukses mendapatkan apresiasi masyarakat. Mereka merespon positif atas pelayanan selama ini. Usaha kecil itu pun tumbuh semakin besar terlihat dari pesanan setiap bulannya. Omzet bisnisnya pun naik seiring dengan kepopuleran merek dagang. Doni kini mampu mengantongi omzet hingga Rp.100 juta per- bulan.

Umumnya permintaan itu datang dari mereka di perhotelan atau perumahan. Tidak cuma datang dari Padang, produknya telah dicari oleh mereka dari Sumatra Barat, Jambi, Pekanbaru, dan Bengkulu. Doni telah sukses berkat tekat kuat ditambah keyakinan. Kinabalu Glass telah memiliki sebuah bengkel serta dua ruang khusus pameran. Ia mempekerjakan 16 orang sementara produksinya telah mencapai 20 meter persegi. Sebagai usaha kecil, angka tersebut bisa tergolong besar dalam jumlah produksinya.

Demi memuaskan konsumennya, Doni selalu membuat disain anyar sesuai pesanan pembeli. Produknya pun tidak hanya terbatas pada kaca jendela dan pintu, tapi juga kaca perabot rumah tangga lainnya, seperti meja dan lampu hias. Karena disain produknya dibuat sesuai pesanan, maka harga jual yang dipasang pun bisa bervariatif. Angkanya bisa mencapai antara Rp 1,5 juta hingga Rp 6,5 juta per meter persegi.

"Tergantung pada tingkat kerumitannya," kata Doni.

Dari harga setiap meter kaca yang diproduksi, Doni mengaku bisa memetik keuntungan berkisar 25% hingga 40%.

Maka, wajar jika dalam enam tahun pertama usaha berjalan, lelaki ini sudah mampu membeli sebuah rumah dan mobil sendiri. Ke depanya, pengusaha muda ini berharap bisa membangun pabrik peleburan limbah- limbah kaca, yang nantinya bisa dipakai membuat aneka kerajinan kaca gravir. Kalau rencana ini terealisasi, maka ketergantungan akan pasokan kaca dari kota Jakarta bisa dilepaskan. Dia pun tak perlu menambah ongkos kirim ataupun biaya produksi.

Artikel Terbaru Kami