Senin, 03 Februari 2014

Nefertiti Shop Butuh Keberanian Jadi Pengusaha

Profil Pengusaha Sukses: Prita Widyaputri



Suatu siang di bulan Mei, majalah Femina mengundang 25 finalis dari lomba Wanita Wirausaha Mandiri & Femina untuk melakukan persentasi bisnisnya. Dialah Prita Widyaputri (29) tampak percaya diri berpakaian baju hitam lengan panjang, body pants warna biru, sneakers, dan topi hitam bling- bling. Ia tampak begitu percaya diri buat memaparkan bisnsi plan miliknya. Padahal, jika ditelisik lebih dalam, Prita mengaku dirinya sedang sakit saat itu.

"Nak, saya bangga, kamu masih muda dan sangat berbakat," puji Anne Avantie, seorang desainer sekaligus salah satu juri lomba.

Suksesnya berkat clothing line ditambah aksesoris labelnya sendiri, bernama Nefertiti. Prita pun menempati posisi ketiga dalam lomba yang diadakan majalah wanita ternama itu. Baginya perjalanan itu begitu berkesan, ketika bisnisnya bisa diakui menyandang juara III dalam lomba Wanita Wirausaha Mandiri & Femina 2012. Mimpi adalah kunci dari wanita penggemar karya Andrea Hirata, baik bukunya seperti Laskar Pelangi dan soundtrack filmnya.

Takut bisnis


Modal passion wanita cantik lulusan jurusan Psikologi ini yakni mendirikan bisnis clothing line serta aksesori nya sendiri, Nefertiti. Nama lengkapnya Prita Widyaputri bersama patner misteriusnya memulai usaha yang lengkapnya bernama Nefertiti Jawelz Accessories sekitar tahun 2010 -an. Prita ternyata memang sudah hobi menggambar dan mendesain sejak kecil. Bahkan setiap pulang sekolah, ia selalu aktif mengikuti ekstra kulikuler seni lukis. Dia sering mengikuti berbagai lomba, terangnya kepada Femina.

Mimpi menjadi senjata ampuh menyemangati hidupnya hingga kini. Ia tidak pernah berhenti di karirnya sebagai creative director, namun tidak lupa akan mimpinya sejak dulu. Dia ingin masuk lebih dalam ke dunia fasion desainer. Prita kecil jatuh cinta pada segala hal berbau seni. Dan, di masa sekolah, ia tak pernah absen mengikuti ekstrakurikuler yang berhubungan dengan seni. "Saya tidak pernah kepikiran ikut Paskibra atau kelompok pecinta alam. Tapi kalau soal desain, jangan ditanya!," terangnya

Saat lulus SMA, ia diterima di Universitas Indonesia jurusan psikologi. Dia juga mengambil jurusan lain yaitu seni rupa di Institut Teknologi Bandung (ITB). Keduanya menjadi satu paket diterapkan bersama agar bisa mensuport mimpi- mimpinya.

"Karena psikologi itu seperti seni mempelajari kebiasaan manusia. Menguasai ilmu ini saya pikir akan membawa banyak manfaat nantinya," jelasnya.

Dia mengaku dirinya harus melalui proses kuliah bersusah payah. Namun dari sanalah banya teori di dalam psikologi yang bisa diaplikasikan di bidang fashion. Prita terfokus pada bagaimana cara memahami prilaku konsumen, cara menetapkan branding, menentukan harga, dan lain sebagainya. Ia tak pernah lupa akan seni yang dimilikinya meski berkutat dengan teori tiap harinya di dua kampus berbeda.

Prita sempat mengajak sahabatnya mengerjakan proyek kampus yang berhubungan dengan fashion, seperti membuat jaket angkatan, jaket organisasi, dan lainnya. Selepas kuliah ia sempatkan bekerja di salah satu perusahaan perbankan. Sejenak, mimpi masuk ke dunia fashion itu teredam. Ia telah larut dalam rutinitas jam kantor memang menguras waktunya. Suatu kali, ia bertemu dengan sahabatnya semasa kuliah kemudian menjadi partnernya di dalam berbagai proyek fashion.

Seperti kata buku Celestine Prophecy bahwa tidak ada kebetulan di dunia ini karena segala sesuatu hadir ada sebuah alasan, reuni kecil itu membuat hatinya bergejolak lagi. Mereka pernah berbisnis bersama. Itulah sebuah mimpi lama kembali terbangun yakni masuk kembali ke dunia fasion.

Resign dari pekerjaan


Meski tekadnya sudah bulat buat mengejar impian. Bukan berarti tanpa rasa takut ketika haruslah berhenti bekerja. Disaat mengajukan surat pengunduran dirinya, Prita malah ditawari dua promosi menggiurkan untuk ditolak. "Saat itu timbul rasa takut. Iya juga ya, siapa yang jamin bisnis ini berhasil atau tidak. Sementara, di depan mata ada dua pilihan promosi menarik. Tapi rasa takut itu akhirnya hanya bisa dikalahkan dengan keinginan yang kuat," ujarnya.

Tahun 2009, ia telah memiliki mental seorang wirausaha sudah berbisnis sendiri. Baginya meski keadaan ekonomi kedua orang tuanya masih baik, pantang baginya meminta bantuan. Ia bisa menggunakan modal dari uang didapatkannya sejak bekerja dulu. "Saya mulai dari hal yang kecil seperti membuat kalung. Selain biayanya tidak sebanyak membuat pakaian, juga sambil memberi waktu bagi diri sendiri untuk belajar banyak mengenai bisnis fashion. Dan, saya pilih online marketing agar pembeli bisa belanja 24 jam sehari," katanya.

Ia mengalami banyak tantang baik dari keluarga besar, rekan bisnis dan karyawan sendiri. Di tengah jalan, patner bisnisnya sekaligus sahabatnya memilih mengundurkan diri. Jadilah dirinya berbisnis sendiri sejak saat itu. Setumpuk ide desain di kepalanya itu dibawanya ke beberapa vendor penjahit. Setelah 6 bulan berganti vendor, ia menemukan vendor sesuai seleranya. Kini kalung dan pakaiannya sudah diproduksi di Jakarta dan Bandung. Ia pun membubuhkan label Nefertiti pada produknya.

Prita terinspirasi oleh kecantikan, selera busana, dan kecerdasan Ratu Nefertiti, ratu Mesir kuno. "Ternyata, jadi wirausaha tidak kalah capek dengan bekerja di kantor. Tukang pijit yang awalnya langganan Papa, jadi langganan saya juga. Dia selalu bilang, ‘Mbak, betisnya kenceng amat kayak pemain bola," ujarnya, tertawa.
Saat ia memiliki karyawan, tantangan itu terpampang nyata. Ia pernah suatu kali tertipu oleh karyawannya sendiri hingga merugi jutaan rupiah; Prita terpaksa memecatnya.

Selain itu mereka menjadi faktor utama bagi kualitas produknya. Ini tidak lain karena dipengaruhi oleh mood mereka sering berubah. Maklumlah pegawai di Nefertiti pastilah perempuan dan jika bicara soal putus cinta bisa menghilangkan mood seketika. "Saya sudah hafal, deh. Biasanya hal itu terjadi kalau ada yang sedang putus cinta atau apalah, makanya kepada mereka, saya menempatkan diri sebagai teman curhat, bukan bos," ungkap Prita yang memiliki 22 karyawan (2 orang karyawan tetap, 20 orang freelance).

Tantang lain yaitu mereka, orang disekitarnya yang terkadang berbicara sini. "Susah- susah kuliah, malah jadi tukang kalung," tirunya. Prita tak gentar meski tantangan itu pasti ada. "Biarkan saja mereka nyinyir. Saya pikir, perusahaan sebesar Mustika Ratu awalnya juga dari berjualan jamu. Seorang pebisnis memang harus melihat hal yang tak bisa terlihat oleh orang lain. Saya pun tak keberatan lagi disebut tukang kalung. Justru bangga, saya bisa membuka lapangan kerja untuk orang lain," ucapnya bijak.

Pada tahun 2011, bisnisnya sudah berkembang dari produksi aksesori ke produksi pakaian jadi. Enam bulan setelahnya, ia berhasil meluncurkan webstore pribadi sesuai impiannya (www.shopnefertiti.com). Ia juga bekerja sama beberapa webstore lain. Akun Facebook Nefertiti sendiri sudah memiliki lebih dari 10.000 penggemar ditambah akun Twitter @shopNEFERTITI diikuti lebih dari 2.000 orang.

Memproduksi produk aksesori dan pakaian, Nefertiti sudah berhasil menembus jaringan department store, yaitu Debenhams Senayan City- Debenhams Kemang. Produknya pun diminati oleh pembeli dari berbagai negara, seperti Finlandia, Norwegia, Kepulauan Solomon, Republik Malta, Israel, Italia, Australia, Amerika, dan Inggris. Ia telah meraup omzet puluhan juta rupiah per- bulannya Kerja kerasnya sudah berbuah manis. Tapi, Prita masih memiliki banyak mimpi.

"Saya ingin sekali terlibat dalam komunitas fashion Indonesia, seperti Jakarta Fashion Week, Indonesia Fashion Week, dan Brightspot. Saya juga ingin mulai merambah peluang retail di luar negeri untuk membuktikan label ready to wear karya orang Indonesia bisa diterima di mancanegara," ujarnya lagi, bersemangat!

Kontak

SMS Center – 087884672666
Website – http://www.shopnefertiti.com
Twitter – http://www.twitter.com/ShopNefertiti
Pembelian langsung – order@shopnefertiti.com

Artikel Terbaru Kami