Jumat, 14 Februari 2014

Lantunan Musik Bar Membuat Tetap Bekerja

Profil Pengusaha Sukses Edward Chia



Usianya masih 27 tahun, namun Edward Chia patutnya berbangga hati kerena status disandangnya. Dia sudah menempati posisi manajer direktur sekaligus pendiri salah satu perusahaan tercepat pertumbuhannya di Singapura. Bukannya terbang ke Boston University, dia memilih tetap tinggal di Singapura bukan berkuliah, kemudian menginvestasikan uangnya ke bisnis sendiri. Ia, seorang pria ambisius telah menemukan bisnisnya di Singapura.

Inilah bisnisnya Timbre Group, sebuah kelompok bisnis dimulai dari sebuah bar kecil bernama Timbre @ the Substation. Chia  yang lulusan ilmu politik dan ekonomi di National University of Singapore, lebih memilih tak berkuliah kembali. Malah ia secara spontan menggunakan uang kuliahnya. Dia memilih mengerjakan bisnis musik bar bersama seorang teman, Danny Loong. Timbre Group memiliki misi sosial mengembangkan musik Singapura. Mereka membantu musisi lokal tampil dan menumbuhkan penggemar.

Memilih berbisnis


Edward Chia telah memulai bisnis musik sedari nol dari umur 23 tahun. Dia bersama patner bisnisnya, Danny Long, 39 tahun, kini telah sukses menjalankan 11 jenis bisnis. Bisnisnya meliputi bar, makanan dan minuman, dari cocktail bar sampai festival musik. Dan, yang terakhir, ia mengerjakan bisnis pendidikan bernama music academy.

Bisnisnya dimulai dari Timbre@the Substation, sebuah bar berkonsep live music, di umur 21 tahun. Ia kala itu masih berkuliah. Memulai bisnis bahkan ketika baru memulai kuliah pertama di universitas. Chia, awalnya, kesulitan membagi waktu antara bisnis dan kuliah. Dia mengaku lebih ke kuliah sampingan (seperti hal kerja sampingan) daripada sangat serius kuliah penuh. Ia selalu melewati beberapa mata kuliah penting, kemudian mengejar pertemuan guna memenuhi absensi.

Hasilnya? Ia tidak terlalu mampu mengimbangi. Chia bahkan menyebut menyelesaikan kuliah sama seperti keajaiban. Bayangkan saja dia hanya mampu mendapatkan skor rata- ratanya dibawah 3 dari 5. Akan tetapi, janjinya kepada kedua orang tua untuk tak berhenti membuatnya harus tetap berkuliah. Sejak itu pula, mereka, orang tuanya, sanggup menaruh harapan buta akan bisnis Timbre. Chia tak mau setengah- setengah selepas lulus kuliah.

Meski hati itu berkata akan memulai bisnis, nyatanya ia tak memilih jurusan bisnis. Ia justru memilih jurusan ilmu politik dan ekonomi, pilihan tersebut telah dipikir masak. "Itu adalah hal yang sangat praktis, karena saya selalu merasa bahwa bisnis adalah sesuatu yang sangat nyata -anda harus belajar di jalanan dan melalui pengalaman praktis," katanya.

Apa diajarkan di sekolah bisnis hanyalah teori di matanya. Contoh mudahnya, dalam bisnis, semua hal bisa berubah sangat cepat; bisnis sekarang bisa jadi tak sesuai besok. Prinsipnya ialah bahwa bisnis selalu akan tumbuh karena mengikuti arah pasar bukan mengikuti jumlah lembaran buku. Dia menambahkan bisnis masa depan mungkin belum terpikirkan hingga saatnya. Dan, kamu akan melihatnya dan bergumam tentang kenapa tak terpikirkan.

"Bagi saya, itu hanya mendapatkan dasar yang tepat. Banyak teori-teori bisnis ekonomi oleh alam, dan bagi saya yang terbaik untuk hanya menghabiskan waktu dengan bijaksana dan belajar sedikit dasar-dasar," katanya.

Berjuang dari nol


Memulai bisnis di usia muda memberikan berbagai rintangan dan tantangan. Utamanya Chia harus berdiri antara mengerjakan bisnis sambil berkuliah. Ia lalu menggunakan uang melanjutkan kuliah senilai $80.000 sebagai modal kembali. Bukan tanpa masalah, uang tersebut bukanlah miliknya melainkan milik kedua orang tuanya. Dia harus membujuk keduanya agar mau memberikan uang tersebut. Syaratnya? Ia harus membayar $1.000 tiap bulannya dan tak boleh meminta uang apapun lagi.

Sebagai pengusaha muda, ia punya hasrat agar sukses itu cepat di tangan. Dia mulai mempekerjakan banyak pegawai lebih tua (lebih berpengalaman) darinya. "Cara saya menghadapi situasi seperti itu hanya dengan bersikap humble," dia berkata. "Saya ikut berkerja langsung... saya melakukan segala sesuatu dari mencuci toilet, membersihkan kantor, menjalankan bar, dan kadang-kadang saya membantu di dapur juga."

Pengetahuan akan bisnis menjadi penting bagi bisnis baru. Chia selalu meluangkan waktu berdiskusi, bekerja, dan belajar dari mereka. Jika kita bersikap tulus hanya butuh waktu mereka mendekat bukanlah kebenaran, terangnya. Melalu belajar praktik, membuat bisnisnya bisa tumbuh hingga sekarang memiliki ekosistem bisnis kuat. Di akademi buatannya, para musisi berlatih masuk ke berbagai lini usaha Timbre Group. Mereka bisa saja masuk ke Timbre @ Old School, Timbre @ the Art House, atau Timbre @ the Substation.

Mereka para "siswa" di Timbre Academy akan menunjukan kretifitas mereka di dalam bermusik. Dan, bagi yang telah sukses akan mendapatkan jadwal tiap minggu. Chia juga bersemangat mengadakan festival musik setempat melalui Beerfest Asia dan Timbre Rock&Roots. Dia menjelaskan melalui Yahoo! Singapore bahwa bisnis ini tidaklah tentang uang. Secara garis besar, Chia menyebut tentang menciptakan ekosistem musik di dalam tubuh Singapura.

Profil Timbre Group sini 

Website: Timbregroup.asia

Artikel Terbaru Kami