Senin, 17 Februari 2014

Kuli Bangunan Berjaya Miliaran di Sleman

Profil Pengusaha Sukses: Joko Sriyatno



Menjadi pengusaha bukanlah mimpi tetapi perjuangan keras. Setiap orang bisa menjadi pengusaha bahkan tanpa berpikir macam- macam. Mengalir seperti air istilahnya. Seperti halnya Joko Sriyatno, seorang kuli bangunan, tak pernah terpikir akan menjadi seorang pengusaha kelak. Ia masih sibuk mengerjakan peralatan kasar.Ketika ide bisnis itu muncul seketikan. Bukan ide bagaimana menjadi pengusaha tapi ide membuka usaha pembuatan batako.

Ia mengenang usahanya itu kecil cuma berjualan batako; itupun secara tak sengaja. Tepatnya di tahun 1987, ketika Joko muda bekerja di sebuah bengkel mobil di Kota Jakarta. Setelah beberapa bulan bekerja, ia tak kunjung mendapatkan upah. Merasa diperlakukan semena- mena oleh sang pemilik usaha; Joko pun lantas minggat. Ia memilih bekerja serabutan agar bertahan hidup. Yang ada dibenaknya saat itu hanya bagaimana agar bisa makan dan pulang ke kampung.

Joko lalu bekerja menjadi kuli bangunan. "Saya butuh duit, jadi saya terima pekerjaan kasar itu," terangnya.

Tapi tak disangka, melalui pekerjaan itu, seorang pria biasa bisa menjadi seorang pengusaha sukses. Selepas empat bulan bekerja sebagai kuli bangunan, ia bisa kembali ke kampung halamannya di Sleman. Di kampung ia bekerja bersama kakaknya sebagai pekerja kasar lagi. Dia terdorong akan semangat hidup mandiri. Joko memutuskan membuka usaha bangunan sendiri. Bermodal Rp.350.000 dari hasil sumbangan pernikahannya, suami Istuti Ening Setiawati ini, memutuskan membuka bisnis sendiri.

Joko menggunakan uangnya buat membeli 100 sak semen. Ia mengolah bahan mentah tersebut menjadi 400 buah batako.

"Untuk cetakan, saya pinjam dari kakak," ujarnya sembari tersenyum. Ke- 400 batako tersebut kemudian dijual, menghasilkan Rp.1,2 juta. Uang tersebut tidak digunakan kebutuhan keluarga di rumah. Joko langsung saja memutarkan uang tersebut menjadi modal. Ia kemudian membeli semen serta pasir diubah menjadi bis beton kembali. Tak disangka ternyata produksi Joko kembali laris- manis dibeli.

Ekspansi bisnis


Prinsip bisnisnya cuma satu yaitu kualitas terjaga baik. Pembeli menyukai beton- beton bikinan Joko karena kualitas serta cara penjualannya baik. Ia mudahnya memberikan hutangan kepada pembeli. Beton buatannya sudah ditunggu banyak pelanggan bahkan sebelum kering betul terkena panasnya matahari. "Bahkan sebelum sempat kering, orang sudah antre beli bis beton," ucapnya sembari tertawa terkekeh.

Ia menyebut modal utama berwirausaha yaitu kemauan ditambah keberanian mengambil resiko. Dia cuma bermodal Rp.350.000, menyulapnya menjadi Rp.1,2 juta. Dia juga memiliki modal pengetahuan bahwa bisnis juga tentang konsep. Lelaki yang kini berumur 40 tahun ini cuma lulusan STM. Joko, kini, telah sukses terlahir kembali menjadi seorang pengusaha sukses. Keseharian hidupnya antara mengurusi bisnis sendiri serta jalan- jalan berkendara mobil barunya.

Joko memilih mengendarai Mercedes-Benz bernomor lucu J 0 KO. "Kemarin saya juga barusan naik haji," tuturnya.

Joko dulunya hidup di rumah berukuran cuma 2x6 meter selama 10 tahun, kini tinggal di rumah megah, yang berdiri kokoh di atas tanah seluas 6.000 m2. Adakah kesulitan? Tentu, sukses Joko bukan tanpa kendala sedikit pun. Ia yang telah mapan berbisnis beton berniat mengembangkan bisnisnya. Dipilihlah bisnis tegel menjadi sasaran ekspansi bisnisnya. Tapi, ternyata, permintaan ubin atau tegel tersebut justru menurun. Dia salah memperhitungkan bahwa tren bisnis berubah sesuai waktu.

"Waktu itu orang lebih memilih memakai keramik ketimbang ubin buat membangun rumah," tutur lelaki kelahiran Klaten ini.

Otak kreatifnya lalu berpikir agar bisnisnya tak merugi besar. Ia pun segera mengutak- atik mesin pembuat tegel tersebut. Joko merubah fungsi mesin yang sebelumnya sebagai pembuat tegel menjadi pembuat batako. Alhasil, ia terselamatkan karena sekarang produksi batakonya meningkat. Di sisi lain, kemurahan hati sang juragan batako melalui sistem pembayaran kredit berbuah kesialan. Di tahun 2009, bisnis batakonya merugi besar senilai Rp.240 juta.

Para pengambil hutang ternyata mangkir tak mampu membayar cicilan. Ia mau menagih hutang lucunya malah diancam balik. Banyak preman yang kemudian datang ke rumah kenangnya getir. Gempa Yogyakarta juga menghancurkan fondasi bisnisnya. "Pas gempa, batako saya hancur dan menimpa mesin," kenangnya. Ia harus merugi Rp.100 juta. Meski begitu Joko tak mau menyerah dan belajar dari kegagalannya. Untunglah ia termasuk orang yang rajin menabung.

Di tahun 2006, bisnisnya masih tahap pemulihan, belum kembali normal sediakala. Joko cuma bisa membeli motor secara kredit berbiaya angsuran Rp.250.000, tetapi harus rela menjualnya setelah dua tahun lunas. Motor itu dijualnya buat membayar muka mesin pembuat genteng. Ya, Joko kini mulai membidik produk lain selain tetap pada batako. Ia yang kini berhasil memulihkan bisnisnya secara perlahan masih tetap sama. Joko tetap menjadi seorang hidup sederhana. Ia lalu mengenang bagaimana susahnya dulu.

Joko tidak hidup segampang sekarang melalui perusahaannya, UD Marga Jaya. Bisnisnya kini bernilai Rp.2 miliar rupiah dari perusahaan didirikan sejak 1999. Ia masih ingat betul bagaimana susahnya ketika akan masuk Sekolah Pendidikan Guru (SPG), dan berkahir di STM. "Tinggi badan saya tidak cukup," candanya. Di sana pula, ia selalu menghargai jenjang pendidikan apapun itu, terutama mereka yang hanya lulusan SD.

"Saya banyak mengambil pekerja lulusan SD," kata bapak tiga anak dari satu istri ini.

Perusahaan kecilnya telah mempekerjakan pekerja sekitar 140 orang dan 14 truk pengangkut. Pelanggannya meliputi perusahaan kontraktor perumahan swasta di Semarang, Tegal, Yogyakarta, dan Solo. Joko dulu hanyalah seorang kuli bangunan bisa berubah menjadi seorang juragan batako terbesar di Sleman. Melalui bisnis inilah dia menjadi miliarder. Meski begitu namanya tak tercatat di buku pengusaha sukses apapun.

Artikel Terbaru Kami