Jumat, 14 Februari 2014

Cara Beternak Sapi Perah Sejak Muda

Profil Pengusaha Sayfudin Zuhri



Pemuda bernama Sayfudin Zuhri telah lama menjadi peternak inspiratif Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Di awalnya cuma bermodal dua ekor sapi, lambat laun, ia sukses menembus angka 50 ekor. Ia menyebut satu kunci sukses usahanya. Dia selalu yakin kesuksesan itu datang kepada orang yang tidak mudah puas. Dia juga sukses mengangkat harkat- martabat keluarganya. Ayah dari tiga anak ini berhasil membeli rumah sejak muda, kebun, mobil, bahkan terakhir, mampu menjalankan rukun iman ke- lima.

Bukanlah waktu pendek ketika mencapai kesuksesan sekarang. Dia, Sayfudin, sudah berkutat lama merawat hewan penghasil susu ini, kurang lebih sudah 13 tahun lebih. Sebagai hanya peternak, dirinya mengaku tak pernah puas. Prinsip bisnisnya yaitu kebutuhan akan susu sapi akan selalu meningkat tiap tahunnya. Ini bisa dilihat dari tumbuhnya kesadaran akan manfaat susu. Oleh karena itu sejak sukses melipat gandakan sapinya, fokus usahanya merambah menjual susunya.

Di kota, kita bisa melihat produk olahan susu begitu digandrungi selain susu murni itu sendiri. Ia yang memulai dengan dua ekor sapi. Keduanya lalu terus berkembang dari 2 ekor menjadi 50 ekor sapi. Setiap sapi rata- rata menghasilkan 10 liter susu segar per- hari. Dari sanalah, ia menjual hasil produksi susu sapinya senilai Rp.3000. Tiap harinya ia mengaku telah mampu mengantongi penghasilan Rp.360.000 per- hari atau sekitar Rp. 10.800.000 per- bulan.

"Dari usaha tersebut sudah cukup memenuhi kebutuhan keluarga," ujarnya.

Sayfudin tak lekas puas lagi. Cita- citanya berikutnya yaitu bagaimana menambah jumlah sapi lagi. Ini bukan karena rakus namun memang pasarnya sangat lah bagus. Sayfudin masih sanggup mengurusi beberapa ekor sapi lagi. "Kesadaran masyarakat kita meminum susu semakin hari semakin baik, itu berdampak bagus bagi peternak seperti kami," tuturnya. Bagaimana kendalanya? Kendala itu pastilah selalu ada untuk setiap usaha termasuk peternak seperti Sayfudin.

Apa itu? Itu adalah ketika harga susu di koperasi jatuh sekali. Sialnya tak ada jalan pasti keluar dari masalah ini. "Lebih repot lagi jika sapi bunting. Produksi susu pasti turun," aku Sayfudin.

Menurut Sayfudin situasi itu membutuhkan kreatifitas peternak di dalam memecahkannya. Daripada berkutat bersama masalah pelik seperti harga jual susu tak kunjung ketemu titik temunya, Syafudin memilih mencari pemasukan dari sumber lain atau paling tidak bisa mengurangi biaya perawatan. Berbekal informasi dari berbagai sumber, belakangan ia rajin mengumpulkan kotoran sapi.

Dia mendapatkan ilham memanfaatkan kotoran sapi menjadi biogas. Hasil biogas ini kemudian digunakannya buat kebutuhan sendiri seperti penerangan. Dia menghemat uang senilai Rp.10.000 per- hari. Lainnya, ia mengolah ampas kotoran dari pengolahan biogas itu; kemudian dibuatnya menjadi pupuk kandang. Untuk apa? Sayfudin ternyata menggunakan pupuknya sendiri. Ia juga berkebun, aktif  menanam kopi robustan di sekitar kandang sapinya.

Tanah seluas empat hektar itu benar- benar- disulapnya menjadi sumber penghidupan total. Ini benar- benar kreatif.

"Kita harus kreatif dengan segala masalah yang ada. Kalau tidak, ya gak akan maju-maju. Petani atau peternak seperti kebanyakan gak akan bisa menikmati jerih payahnya," pesan Sayfudin. Tak heran jika pria setangah baya  ini menjadi panutan para peternak sapi di wilayah Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Pada tahun 1987, ketika usianya menginjak 22 tahun, dia telah memilih mengikuti jejak orang tuanya menjadi peternak. Keputusannya bukanlah tanpa sebab karena memang dirinya tertarik akan dunia tersebut. Sayfudin benar- benar total menimba ilmu tentang sapi kepada orang tuanya. Mulai dari mencari tau bahan pakan, kebersihan kandang, cara memerah susu, dan perawatan sapi agar menghasilkan produk susu berkualitas. Ibarat murid sekolah, Sayfudin juga memegang prinsip bahwa tiap tahun harus naik kelas.

Dia berprinsip tak ingin hanya sekadar menjadi peternak sapi perah. Tidak seperti apa dilakukan oleh kedua orang tuanya atau peternak lainnya di Desa Kalipucung, Pasuruan, melainkan harus memiliki nilai lebih. Inilah tolak ukur menjadi beda tentang hidupnya menjadi seorang peternak. Dengan keuletan dan motivasinya, tak heran Sayfudin bisa menyerap ilmu itu dengan mudah. Pada tahun ketujuh sejak dia masih menjadi "murid" orang tua, Sayfudin telah memiliki tujuh ekor sapi perah dari modal awal hanya dua ekor.

Dan, keinginan Sayfudin terus maju tak pernah padam. Meski telah memelihara tujuh sapi perah, dia selalu ingin menambah ternaknya lagi. "Padahal, dengan dua ekor sapi perah saja sudah cukup untuk mendukung perekonomian keluarga," katanya. Namun tak semua sapi- sapi perahnya dia pelihara sendiri di lahan seluas empat hektar. Karena lahan tersebut dinilai terlalu sempit buat bisa menampung seluruh sapinya, sebagian peliharaan akhirnya dititipkan kepada orang lain.

Melalui sistem bagi hasil, melalui pola kemitraan tersebut, Sayfudin muda mengaku senang karena telah mampu berbagi dengan orang lain. Dia adalah peternah dan pengusaha muda. Idanya tersebut baik, dimana kebanyakan, peternak bermitra dengan Sayfudin pun merasa senang karena selain mendapat penghasilan, juga bisa menimba ilmu dari sosok yang dikenal supel ini. Sayfudin pun tak malu membagi ceritanya kepada awak media.

Artikel Terbaru Kami