Minggu, 16 Februari 2014

Bonggol Kayu Jati Diubah Menjadi Kursi

Profil Pengusaha Sukses Suyatmin



Furnitur kayu jati memang selalu menjadi pilihan terbaik bagi keluarga. Bahan kayunya kuat, awet, serta memiliki nilai ekonomi tinggi. Taukah bahwa tidak hanya batang pohon jati saja bisa diubah menjadi produk furnitur. Suyatmin mampu membuktikan tidak hanya batang pohon. Tetapi bonggol jati pun bisa diubahnya. Pemilik usaha Jati Barokah ini biasanya memanfaatkan bonggol- bonggol jati, buat dijadikan kursi, meja atau bangku teras.

Apa alasan bonggol jati lebih bernilai tinggi ada pada sentuhan alaminya. Berbeda furnitur biasa, furnitur asli batang pohon jati, furnitur atau aksesori dari bahan bonggol jati memiliki sentuhan natural. Bonggol tak perlu dirancang terlebih dahulu sebelum dibentuk produk jadi. "Alam sudah membentuknya menjadi bulat dengan banyak lengkungan," ujar Suyatmin. Produk- produk dihasilkan olehnya bisa berupa vas bunga, kursi, atau meja.

Para pengrajin hanya tinggal mengukir tanpa merubah bentuk awalnya. Untuk pasar lokal, bisnis miliknya ini berhasil menembus pasar Bali, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Jakarta, Sumatra dan Kalimantan. Adapun pasar ekspor produknya meliputi Eropa Timur dan Timur Tengah. Pria yang telah lama bergelut dengan bisnis furnitur sejak tahun 1996 ini lantas bercerita awalnya, suatu hari, ia melihat banyak warga di sekitar Blora menggunakan bonggol jati menjadi kayu bakar.

Dia terkejut jika dilihat seksama bonggol jati seharusnya bisa diolah lagi. Di tangan dingin Suyatmin, pria 35 tahun, diubahnya bonggol menjadi meja dan juga kursi. "Yang terpikir adalah membuat kursi dan meja," kenangnya. Ia kala itu langsung mengangkut bonggol kayu yang dianggap orang sampah itu ke rumahnya. Dia tanpa pikir panjang, kerena ide itu telah mengalir, mengambil alat ukir dan membuat furnitur darinya. Setelah terbentuk ia lantas memeliturnya hingga mengkilat halus.

Ternyata hasilnya seperti telah diduga, produk tersebut cantik serta memiliki nilai estetika tersendiri. Dihitung- hitunga pembuatan satu mebel bisa memakan waktu satu bulan; bahkan lebih jika rumit bisa lebih lama. Suyatmin sendiri selalu memutar otak bagaimana memenuhi kebutuhan konsumen. Yang tersulit ialah ketika bonggol jati itu berbentuk begitu tidak beraturan. Ia harus memandu padankan setiap bonggol kayu agar itu sesuai pesanan.

Ia sendiri mengaku bersyukur karena Blora merupakan daerah penghasil kayu jati. Suyatmin tak perlu pergi jauh sekedar mendapat bonggol kayu jati saja.

Omzet bisnis


Hasil karya Suyatmin dinilai bervariasi tergantung tingkat kesulitan. Satu- set mebel bisa dibuat selama satu bulan jikalau modelnya biasa. Harganya mencapai Rp.1 juta sampai Rp.5 juta bila satu set terdiri dari dua sofa kecil, satu sofa besar, dan meja. Sedangkan suvenir cukup dijual Rp.20.000 hingga Rp.2.000.000 -an, dan tiap bulan omzetnya mencapai Rp.70 juta -an. Tren bisnis bonggol kayu jati memang cukup menjanjikan. Ini terlihat dari permintaan terus bertambah tiap tahun.

"Sejak pertengahan 1990- an hingga kini permintaan tumbuh," ujarnya. Pesanan begitu besar bahkan bisa membuatnya mengambil pegawai di luar keluarganya. Ketika memulai usaha ini, ia cukup memilih keluarga menjadi pendukung usaha; tapi kini tidak.

Ia harus mempekerjakan setidaknya 32 orang di tempat usahanya. Lain lagi Achmad Zainudin, perajin asal Jeparan ini, membuat furnitur biasa dari bonggol jati. Ia sukses membangun bisnisnya, sayang, berbeda Suyatmin, ia bersusah payah mengambil kayu dari daerah Cepu, Bojonegoro dan Purwodadi. Oleh Zainudin, bonggol- bonggol tersebut dibuat sama menjadi kursi, meja, dan suvenir. Dia dibantu oleh 25 pekerja mampu menghasilkan 10 produk tiap minggu.

Dia sukses menghasilkan omzet sampai 59 juta per- bulan. Produknya dijual seharga Rp.3 juta sampai Rp.6 juta tiap produknya. Sriyanto punya sedikit berbeda disandingkan rekan- rekannya sesama perajin. Dia memilih memproduksi fokus aksesoris bukan khusus mebel. Memulai usaha sejak 1995, ia mendirikan UD Kharisma, pria asal Solo ini belajar membuat furnitur dan aksesori justru dari anak buahnya.

Perajin satu ini mendapatkan bahan bonggol kayu jati dari Bojonegoro dan Cepu. Ada dua sumber tetap untuk bisnisnya satu ini. Pertama, ia mendapatkan dari petugas perhutani. Kedua, dari petani hutan, "Saya biasanya beli dari petani karena harganya lebih murah," terangnya. Harga jual dari petani Rp 500.000- Rp 700.000 per- bonggol, itu tergantung usia pohon. Semakin tua usia pohon, semakin mahal harganya. Jika ditanya membeli kayu jati dari Perhutani; ia enggan karena harus mengantongi izin.

Dari petani hutan, Sriyanto juga bisa mempelajari seluk-beluk mencari bonggol kayu jati berkualitas bagus. Bonggol kukuh adalah bonggol berusia tua lebih dari 40 tahun. Biasanya bonggol- bonggol tua jika dihitung akan berdiameter 1,5 sampai 2 meter. "Tapi ini sudah jarang karena permintaan bonggol yang tinggi," ujar Sriyanto. Bonggol- bonggol itu lantas dipotong dan dikirim ke UD Kharisma. Bila sudah dipotong baik, kayu bonggol dibawa ke UD Kharisma buat digambari bentuk.

Bila bentuk sudah jadi digambar, bonggol kemudian digosok menggunakan gerinda agar potongan lebih rapi. Sriyanto lalu akan memakai gergaji kecil untuk membentuk sudut. Saat vas ataupun tempat buah jadi bentuk, produk tersebut lantas diplitur dan digosok sampai halus kemudian dipakaikan melamin. Tempat buah dari bonggol kayu jati buatannya biasanya berhiaskan ranting-ranting pohon jati. Adapun bentuk produknya tetap mempertahankan bentuk bonggol.

Dia lalu menjual satu tempat buah Rp 80.000. "Sebulan saya bisa menjual 150 tempat buah," katanya. Adapun harga vas bunga berfariasi Rp 80.000 sampai Rp 100.000 per- unit. Sriyanto lantas memasarkan aneka kerajinan bonggol jati itu ke Jepara, Jakarta, Jogjakarta, dan Malaysia.

Artikel Terbaru Kami