Sabtu, 01 Februari 2014

Oscar Lawalata Sang Passion Desainer

Biografi Desainer Pengusaha Kultur



Nama lengkapnya Oscar Septianus Lawalata atau lebih dikenal Oscar Lawalata. Pria kelahiran Pekanbaru, Riau, 1 September 1977. Dia adalah anak pertama dari pasangan Ragnild Antoinette (lebih dikenal sebagai Reggy Lawalata) dan Alexander Polii. Saudara laki- lakinya, Mario Lawalata, dikenal sebagai sosok pemain sinetron terkenal. Oscar memang telah menunjukan sisi feminimnya sejak kecil. Pria berdarah campuran Jawa- Ambon- Manado ini lebih sering bermain dengan anak perempuan.

Karena itu, meski ia pandai bermain basket tetaplah menjadi olokan karena sifat feminim itu. Pembawanya memang gemulai, kulitnya halus, alis mata yang bagus dan bibir merah alami, membuatnya lebih diolok- olok oleh teman sebayanya. Meskipun begitu Oscar bukanlah anak cengeng; ia selalu melawan ketika dirinya mendapatkan perlakuan tak baik. Prinsip tersebut ternyata diajarkan oleh sang ibu yang akhirnya merasuk ke dalam dirinya; selama tak salah, ia harus berani membela diri.

Ia tumbuh menjadi anak tahan banting di kehidupan sehari- hari, meski terkadang kenyataan memang sulit.

Jiwa wirausaha


Ibu Oscar, Reggy Lawalata, memilih bercerai serta membawa kedua anaknya dalam pengasuhannya. Dia harus menjadi orang tua tunggal untuk Oscar dan adiknya yang masih dibawah umur. Reggy pontang panting menghidupi dua buah hatinya itu. Menjahit cempal pegangan panci sampai tengah malam untuk dijual seharga lima ratus rupiah sepasang, berjualan gado- gado dan es cendol, menjadi sopir bus sekolah, bahkan sampai menenteng tas besar berisi barang kreditan ke rumah teman- temannya.

Ia tak malu menawarkan barang di tempat arisan. Bahkan sambil Reggy menuntun Oscar dan Mario, semua dilakoninya. Kehidupan sang ibu, membuat Oscar membuat dirinya kuat meski tau dirinya berbeda. Sifat feminimnya itu ternyata membawanya ke dunia fashion desainer. Dia tau betul apa bakatnya. Oscar mampu menyelami perasaan wanita berkat kepekaanya, menghasilkan karya- karya mengagumkan. Berbekal bakat menggambar yang dimilikinya, Oscar mulai meniti mimpinya dengan bersekolah di Esmod, Jakarta.

Program pendidikan seharusnya tiga tahun, hanya dijalani separuhnya saja. Oscar kemudian memilih berhenti sekolah saat terjadi krisis moneter tahun 1998. Uang sedianya untuk biaya sekolah di Esmod, digunakannya untuk membuka usaha sendiri. Meskipun belum menyelesaikan studinya jiwa wirausaha itu begitu kuat dibenaknya. Berawal dari persahabatannya dengan seorang model, Novie yang dikenalnya mengikuti lomba model di majalah remaja dulu ketika SMA.

Bersamanya yang sudah dianggap sebagai kakak, Oscar mulai memasuki dunia fasion dan mode Indonesia. Lantas bersama pacaranya, yang disapa Mas Awi, di EO (event organizer) nya, Oscar sering mendapatkan banyak pekerjaan sebagai show director. Oscar dan Novie baru mencetuskan ide membangun butik di tahun 1997. Berkata pengalaman serta tekatnya keduanya mantap mengerjakan bisnis ini. Oscar bekerja sebagai pengelola, sedangkan Novie bertugas sebagai sang investor.

Mereka lalu berkolaborasi dan membuka butik dengan nama Ne' Tes di Jalan Senopati, Jakarta. Itu cuma butik sederhana dibandingkan apa yang didapatkan Oscar sekarang ini. Meskipun sederhana, ia tetap telaten mengerjakan bisnisnya. Bagian depan dijadikan tempat memajang baju-baju rancangan Oscar, sementara di bagian belakangnya untuk tempat jualan barang interior, seperti kain-kain tenun dari Jawa Barat atau sofa dan lain-lain.

Meski tanpa promosi besar- besaran bermodal marketing mulut ke mulut saja, butik Ne' Tes berkembang cukup pesat. Tahun 1998, ia mengeluarkan produk tas dari bahan bulu. Ternyata sembutannya sengat baik bahkan hingga menjadi tren se- Jakarta. Setelah pecah kongsi dengan rekannya Novie, Oscar mulai lagi membangun kerajaan fashionnya sendiri. Dengan bendera merek Oscar Oscar bisnisnya menjual pakaian siap pakain, yang dijualnya berkisar Rp.200 ribu per- potong.

Ekspansi bisnis


Setelah semakin berkembang, ia mulai membuat gaun malam seharga Rp.1,5 juta bermerek Oscar Lawalata. Sebagai awalan berbisnis ini, dia musti mengumpulkan modal dulu, oleh karena itu ia tak malu mengambil pekerjaan non- fashion. Ia pernah membuat rancangan seragam bagi karyawan di department store seperti Matahari. Lalu merancang seragam maskapai penerbangan Merpati, seragam perusahaan telekomunikasi, Telkomsel. Semua dilakoninya meski terlihat tak berkelas macam butik.

Namun, siapa sangka sejak itu, butik miliknya semakin berkembang, hingga ibunya mulai ikut turun tangan yaitu membantunya dalam hal urusan administrasinya. Pada tahun 1999, Oscar mengikuti lomba desain di Singapura dimana menjadi ciri khasnya sekarang. Dia, kala itu, membuat rancangan yang terinspirasi dari baju Bodo, khas Sulawesi Selatan. Ia mengaku memang menyukai keindahan dan keunikan kultur Indonesia. Dia sukses membawa budaya dari Indonesia ke pentas dunia.

Berkat rancangan yang unik membawanya menjadi pemenang ajang di Singapura. Oscar meraih juara kedua ASEAN Young Designer Contest, Singapura. Namanya kian melejit hingga profil dirinya ditulis di berbagai media cetak seperti halnya Kompas. Menurut Oscar, rancangan miliknya muncul disaat tepat ketika gaya hidup Jakarta sedang berkembang. Saat dunia gemerlap kota metropolitan itu muncul dirinya telah bercokol disana.

Selanjutnya, di tahun 2000 an, dia mulai giat mengadakan fasion show dimulai dari kafe- ke kafe. Hampir seluruh kafe di Jakarta, Bandung, dan Surabaya, acara grand opening-nya selalu diisi dengan pagelaran. Pergaulannya pun semakin luas. Ia banyak berkenalan dengan kalangan selebriti dan orang-orang kreatif lainnya. Di dunia video klip juga mulai muncul nama Dimas Jayadiningrat dan Rizal Mantovani. Lewat sosok- sosok mereka lah, baju- baju rancangannya mulai sering dipakai di video klip.

Rancangannya telah dipakai artis- artis wanita yang tengah menanjak saat itu seperti Titi DJ dan Penyanyi, aktris Krisdayanti. Di usia belum genap 30 tahun, dia sudah berhasil masuk jajaran 'desainer mahal', yang menawarkan tiga label utamanya: OscarOscar Couture, Oscar Lawalata etnik, dan OscarOscar ready to wear. Ia juga jeli melihat peluang pasar di dunia fashion pada khususnya. Antara lain dengan menggarap seragam perusahaan besar dengan label khusus, Oscar L. for Uniform.

Tidak melulu tentang pakaian bermotif- motif. Dua kali setahun ia menunjukkan tren secara luas pada acara model kalender dan kreasi yang ditemukan di sejumlah majalah fashion dan banyak fitur iklan di televisi serta video klip musik. Oscar juga berkonsentrasi di pengembangan nasional tenun tekstil sebagai warisan budaya Indonesia melalui label Oscar Lawalata Couture. Pada Februari 2009, Oscar lantas meraih penghargaan International Young Creative Entrepreneur (IYCY) yang digelar British Council.

Dia berhak atas hadiah uang sebesar 7.500 Pounsterling. Kompetisi internasional yang rajin digelar sejak 2005 itu diikuti 115 perancang dari 47 negara di Asia, Afrika, Eropa Tengah, Timur Tengah dan Amerika Latin. Dalam ajang tersebut, Oscar berhasil menyingkirkan perancang- perancang muda lain dari banyak negara, seperti Brazil, India, Polandia, Arab Saudi, Srilangka, Thailand, Tunia dan Vietnam.

"Saya merasa senang bercampur sedih, haru, dan merupakan suatu kehomatan bagi dunia mode di Indonesia," ujar Oscar, seperti dikutip di situs Surya.co.id.

Artikel Terbaru Kami