Senin, 20 Januari 2014

Tukang Sapu Jadi Pengusaha Kaya Raya

Biografi Pengusaha Sukses Trisumono



Berbagai pekerjaan kasar pernah digelutinya dari tukang sapu hingga kuli bangunan. Ialah Trisumono berhasil meniti karirinya dari bukan siapa- siapa menjadi pengusaha sukses. Ia mengawali jalannya sebagai pengusaha ketika berjualan aksesoris kaki lima. Keuletan dan ketekunan membuatnya menjadi sukses seperti sekarang. Pria kelahiran 7 Mei 1973 ini hanyalah lulusan SMA tanpa memiliki keahlian. Tri lantas merantau ke Jakarta hanya berbekal kaos oblong dan ijasah SMA yang baru didapatkan.

Di Jakarta, Tri Sumono mulai mencari pekerjaan apa saja tanpa milih- milih jenisnya. Hal ini ia lakukan demi bisa bertahan hidup. Pekerjaan pertama dilakukanya ketika di Jakarta adalah menjadi buruh bangunan di kawasan sekitar Ciledug, Jakarta Selatan. Selang beberapa bulan ia akhirnya mendapatkan tawaran bekerja jadi tukang sapu di sebuah kantor di Palmerah, Jakarta Barat.

Tawaran menjadi tukang sapu langsung diambil tanpa pikir panjang. Dia hanya beranggapan bahwa menjadi tukang sapu lebih mudah dibanding jadi kuli bangunan. Dari jadi tukang sapu kemudian diangkatlah menjadi office boy. Hal ini ia dapat lantaran kinerjanya sangat baik. Dari jadi office boy, ia kembali mendapat tawaran menjadi tenaga pemasar hingga karirnya menajak sampai menjadi penanggung jawab gudang. Tri juga tak tinggal diam ketika kesempatan ada melalui bekerja sambilan.

Pada hari libur Sabtu dan Minggu, ia akan pergi menjajakan berbagai aksesoris seperti jepit rambut, kalung dan lain- lain di Stadion Gelora Bung Karno. Usahanya ini dilakoni sekitar 4 tahun cuma bermodal 100 ribu rupiah. Dari jualan ini kemudian ia pun berpikir bahwa usaha sendiri lebih menjanjikan. Pada tahun 1997 Tri nekat mengundurkan diri dari pekerjaan kantor dan menekuni jualan aksesorinya hingga memiliki kios di Mall Graha Cijantung.

Tahun 1999, ia membeli rumah di Perumahan Pondok Ungu Bekasi Utara hasil penjualan kios di Mall Graha Cijantung karena ditawar orang dengan harga mahal. Di tempat baru inilah, perjalanan bisnis Tri dimulai dari awal. Kala itu, ia langsung membuka bisnis sembako dimana dianggapnya menjanjikan kelak. Ia berpikir bahwa perumahaan Pondok Ungu tempatnya berjualan bakal berkembang. Pada saat itu, Pondok Ungu masih sepi penghuni agaknya Tri salah perhitungan.

Guna meramaikan tempat itu Tri kemudian membeli beberapa rumah. Disinilah ia mulai berubah jadi sosok pebisnis properti dan kontrakan. Tri membangun sekitar 10 rumah kontrakan dipasarkan berharga miring. Rumah kontrakan ini kebanyakan disewa oleh pedagang keliling; seperti penjual bakso, ataupun gorengan. Inilah kelebihan diri Tri Sumono, selain mendapat hasil rumah kontrakan, para pedagang itu juga meramaikan toko sembako miliknya.

Bisnis berkembang


Melihat tokonya mulai ramai, banyak warga di luar tempat tinggalnya mulai berdatangan. Semakin hari insting bisnisnya semakin kuat saja. Pada tahun 2006, ia tertarik bisnis pembuatan sari kelapa. Dari berbagai sumber, Tri tau bahwa sari kelapa hadir dari hasil fermentasi air kelapa murni ditambah bakteri Acetobacter xylium. Untuk bisa memproduksi sari kelapa, dia harus membeli bakteri salah satunya dari LIPI Bogor. Sari kelapa olahannya itu disalurkan ke beberapa perusahaan minuman di JaBoTaBek.

Suatu ketika ia mendapat masalah dengan produksi sari kelapanya. Kualitas sari kelapa olahannya menurun sehingga order dari beberapa perusahaan mulai menurun; ia lalu menghentikan produksinya. Tetapi ia tak patah semangat, terus belajar, agar bisa menghasilkan sari kelapa lebih baik. Dia mencoba menerapkan berkualitas standar setara perusahaan. Seorang dosen di IPB ditemuinya bermaksud belajar fermentasi lebih dalam.

Awalnya sang dosen enggan mengajari mengingat kenyataan bahwa Tri hanyalah lulusan SMA, pasti akan kesulitan menerima penjelasannya nanti. Namun keseriusannya dalam belajar ditambah kecerdikannya dalam merayu, akhirnya Pak dosen mau mengajarinya selama dua bulan. Sejak produk sari kelapanya memuaskan, ia bisa memproduksi hingga 10.000 nampan dan bisa lolos ke perusahaan. Produksi pertamanya ini bernilai omzet Rp 70 juta.

Modal minuman kelapa, Tri mulai merambah bisnis lain, melalui CV. 3 Jaya, mengelola banyak cabang usaha. Perusahaan resmi berdiri pada 2003 memproduksi produksi kopi jahe saset merek Hootri, toko sembako, peternakan burung, serta pertanian padi dan jahe. Bisnis lainnya, penyediaan jasa pengadaan alat tulis kantor (ATK) ke berbagai perusahaan, serta menjadi franchise produk Ice Cream Campina.

"Saya juga aktif jual beli properti," Tri menambahkan.

Perusahaan bernama CV3 Jaya bekerja sama dengan perusahaan lain, utamanya dalam hal pengemasan. Melalui situsnya 3jaya.com, perusahaan yang berpusat di Bekasi, berprinsip memproduksi kemasan terbaik untuk pemilik modal terbatas. Mereka telah memiliki moto "mengutamakan mutu dan kualitas tertinggi".

Artikel Terbaru Kami