Selasa, 21 Januari 2014

Tukang Becak Naik Haji Punya Pabrik

Profil Pengusaha Garam Sanim



Sanim (60) bukanlah keturunan pengusaha, tidak ada darah bisnis dalam dirinya, sama sekali! Sanim juga terlambat tau apa itu bisnis atau menjadi wirausahawan. Baginya becak merupakan hal terbaik memberinya sekedar uang buat makan. Ia kini dikenal sebagai pengusaha asal Desa Rawa Urip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Ia telah berubah menjado sosok mandiri mampu keluar dari namanya garis kemiskinan. Ia lantas bercerita kisahnya ketika menjadi tukang becak hingga jadi pengusaha.

Becaknya dulu sering mangkal di persimpangan Jalan Cirebon. Di tempatnya mangkal, berdiri sebuah pabrik garam cukup besar. Sanim pun tertarik untuk sekedar melamar kerja di pabrik tersebut, dengan harapan nasibnya bisa lebih baik. Beruntung dia bisa diterima bekerja di sana.

"Setelah dua bulan bekerja, saya pun berpikir, daerah kita kan punya potensi garam, loh kenapa saya tidak bisa membuat garam sendiri," ia pun bersemangat.

Bisnis sederhana


Sanim memutuskan berhenti dari pabrik garam tersebut dan berpikir ternyata garam seperti emas. Dia seperti menemukan sebuah ladang emas di desanya sendiri. Bagi hidupnya, garam bukan tentang bumbu penyedap makanan, melainkan juga dibutuhkan keperluan industri, pertanian, bahkan perikanan. Ternyata, ia tidak lah sia- sia pernah bekerja di pabrik garam tersebut.

"Jadi bisa dikatakan cuma menimba ilmu di pabrik tersebut," tuturnya lebih lanjut.

Ia segera menggarap empang belakang rumahnya yang merupakan peninggalan orang tua. Dia pun mulai mencari tau segala tentang garam gosok. "Alhamdulillah, lama- lama usaha saya berkembang, sampai yang awalnya usaha di halaman belakang rumah, lalu berkembang dan kita bisa membeli tanah untuk tempat produksi yang lebih luas lagi," ujarnya.

Melalui usaha sendiri, lama kelamaan bisnisnya bekembang maju. Ia pun berhasil menghantarkan ke empat anaknya menjadi sarjana. Petani garam cukup memanfaatkan tanah dekat laut. Cara membuat garam yaitu mengumpulkan air laut ke dalam empang tersebut. Lalu, dibantu oleh sinar matahari, air laut yang terkumpul tersebut akan menguap dan menghasilkan kristal-kristal bersenyawa Natrium clorida (NaCl). Kristal NaCL ini akan dikumpulkan oleh petani, lalu dibersihkan berulang kali dari kotoran yang melekat.

Prosesnya dikerjakan hingga menjadi butiran halus dan kecil. Namun perlu diingat garam tersebut berupa garam non- yodium jadi belum siap dipasarkan. Ia juga membeli garam dari petani garam di sekitar Cirebon. Dengan kisaran harga beli sekitar Rp 400 per kilogram. Harga belinya itu murah disebabkan garam yang diterima olehnya sangat kotor dan berwarna hitam. Kemudian garam itu ia cuci kembali berbekal alat- alat seadanya.

Memperluas usaha, dia memutuskan membeli alat pencuci khusus garam krosok seharga Rp 20 juta-an. Lebih efisien, dan garam krosok bisa dibersihkan dengan cepat. Ia pun menjual garam itu ke berbagai tempat seperti industri, pertanian, dan perikanan. Di beberapa iklan promosi di internet, harga jual garam krosok bersih bisa mencapai Rp 810. Peralatan miliknya ini masih sederhana. Sanim beranggapan ini lebih awet dan tidak menimbulkan suara bising. Berkat mesin baru ia bisa menghasilkan garam beryodium.

Mengajukan KUR


Pada 2010, ia pun memutuskan menggunakan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang telah disediakan oleh perbankan BUMD Jawa Barat, yakni Bank Jabar Banten (BJB). Sebelumnya, Sanim memanfaatkan jasa bilyet giro Bank BJB untuk bertransaksi dengan pembeli luar kota. "Kita pernah mengajukan utang pinjaman ke Bank BCA, tapi waktu itu ditolak. Setelah itu akhirnya kita ke bank BJB. setelah diproses dan melihat prospek perkembangan usaha kita, akhirnya kita dapat dana," katanya bercerita.

Untuk menghasilkan 2.000 ton garam, paling tidak Sanim harus mengeluarkan biaya produksi sebesar Rp 1 miliar. Ia sangatlah membutuhkan suntikan dana bank untuk memperlancar arus produksinya. "Ke depannya nanti saya akan meminjam kembali ke Bank BJB sebesar Rp 500 juta. Kepenginnya saya balikin sekitar 1 tahun," katanya. Dia pun mengaku selama ini usahnya lancar- lancar saja, terutama dalam pengembalian dana pinjaman.

"Tapi Pak Sanim berubah, justru Pak Sanim melihat dirinya ada potensi. Dan sekarang Pak Salim menjadi pengusaha besar di bidang garam. Ketika sebagian besar orang justru ingin impor garam. Pak Sanim berkutat untuk menyelamatkan garam Indonesia. Jadi ini salah satu contoh," ungkap Rhenald Kasali, Guru Besar FEUI sekaligus penggiat Rumah Perubahan

Kini Sanim telah memiliki dua pabrik garam, tiga rumah, 10 mobil, dan dua kali naik haji. Jenis garam yang diproduksi ialah jenis garam grosok (garam non-yodium masih berbentuk butiran besar dan kasar, biasanya dipakai budidaya dan pengawetan ikan), garam dapur (konsumsi), dan garam industri untuk pabrik tekstil. Selain garam, ia juga memiliki bisnis pupuk namun tak seterkenal dirinya sabagai juragan garam.

Pabrik pupuknya memproduksi pupuk organik tipe KCL (kalium clorida), fungsinya yaitu meningkatkan unsur hara kalium di dalam tanah budidaya. Kemampuan produksi kedua pabriknya, Samin mengaku, dalam setahun mampu memproduksi masing-masing 2.000 ton baik garam maupun pupuk organik. Kini pria tua ini telah mendapatkan semuanya berkat kebiasaanya untuk mencoba hal baru. Ia juga mengikuti nalurinya jika pendidikan formal dirasa tak cukup.

"Oh kalau barang jadinya, itu mah (harga jual) rahasia perusahaan, Mas. Yang penting perhitungan saya ini ada lebihnya gitu. Saya tidak tahu kiranya berapa, tapi tahun kemarin bersih minimal mencapai Rp 400 juta per tahun," tuturnya sambil tertawa.

Artikel Terbaru Kami