Senin, 06 Januari 2014

Rocket Chicken Waralaba Enak Murah

Biografi Pengusaha Nurul Atik 



Kehidupan telah memaksanya, takdir Tuhan membawanya menjadi pengusaha sukses, namun sebelumnya dia harus merangka dari tingkat terendah. Setelah itu bermodal kerja super keras sosoknya bisa melompt tinggi. Namanya Nurul Atik telah bekerja bertahun -tahun di California Fried Chicken (CFC). Ia harus hidup pas- pasan karena hanyalah seorang cleaning service. Dia terus- terusan memutar otak bagaimana caranya memenuhi kebutuhan saban bulannya.

Ia tak jarang meminjam uang dari teman sekantornya. Untuk menghemat biaya, dia memilih kos- kosan yang hanya berjarak lima kilometer dari tempatnya bekerja. Tak jarang demi makin irit, ia memilih berjalan kaki menuju tempatnya bekerja.

"Kalau saya lelah, saya baru naik angkot," terangnya.

Kamar kosnya sendiri terlihat lebih memprihatinkan. Coba bayangkan, Nurul harus tinggal di kamar seluas cuma 3x3 meter, dimana kamar tersebut bahkan tidak berprabot atau sekedar kasur. Dia bertahan di tempat itu selama lima bulan. Dan, untungnya perusahaan memberinya tempat tinggal bersama karyawan lain. Karirnya semakin menanjak seiring waktu berlalu. Nurul memutuskan menikahi Emy Setiawati, seorang karyawan di sebuah swalayan di Yogyakarta.

Keduanya memang tengah berpacaran selama dua bulan terkahir. "Saat itu, saya sudah menjadi menejer di CFC Yogyakarta," ujarnya. Namun, tetap saja, ternyata gaji diterminya tidak sanggup menutupi kebutuhan bulanan. Apalagi ditambah mereka langsung dianugrahi momongan. Sang istri akhirnya juga ikut membantu keuangan keluarga dengan membuka usaha roti.

Nurul memiliki satu impian yang tak pernah padam. Ia sangat ingin membukan usaha sendiri, meski posisinya di perusahaan sekarang telah membaik. Puncaknya ketika terjadi krisis moneter 1998; dia memutuskan keluar dari perusahaan. Dia "mentok" merasa 10 tahun bekerja di rumah makan cepat saji telah cukup baginya dijadikan modal. "Saya mantap keluar karena ingin mandiri," ujarnya. Pada saat itu, seorang teman mengajaknya membuka bisnis makanan capat saji, dan langsung diterimanya.

Bisnis meroket


Mereka kemudian sepakat mengusung tema ayam goreng. Kala itu Indonesia sedang menjamur bisnis aneka makanan capat saji. Berbekal pengalaman bekerja di KFC, Nurul mantap menjadi perencana bisnis baru tersebut. Sedangkan sang teman sibuk menjadi pemodal. Usaha keras itu kini berhasil dimana bisnisnya telah memiliki 86 cabang. Jalannya waktu, ia tergelitik membuat bisnisnya sendiri masih berkonsep ayam goreng.

Kali ini berbeda dari bisnisnya kala itu yakni menyasar pasar menengah atas. Pria kelahiran Jepara, 25 Juni 1966 ini, awalnya berbisnis menyasar kelas menengah bawah. Ia memilih pasar dimana kurang diperhatikan oleh pengusaha lokal ataupun asing. Dibidang makanan cepat saji, bisnisnya akan memiliki pasar yang lebih besar apalagi keadaan ekonomi Indonesia. Pada 21 Januari 2010, Nurul baru membuka restoran cepat saji pertama bernama Rocket Chicken di Jalan Wolter Monginsidi, Semarang.

Mulanya Nurul yang meminta sang kakak membuka restoran bernama Rocket Chicken. Namun, Nurul juga akhinya ikut sendiri aktif mengerjakannya sendiri. Dia benar- benar mengkonsep bisnisnya termasuk tentang meracik bumbunya. Jadilah ia membuka cabang Rocket Chicken, restoran cabang dari restaurant kakaknya tepat di Wolter Monginsidi. Ia pun mulai memperkenalkan brand tersebut ke masyarakat luas. Omzet cabang pertamanya mencapai nilai Rp.5- 7 juta.

Ia lantas menggunakan konsep baru  waralaba atau franchise. Nurul mengembangkan konsep waralaba bukanlah tanpa alasan khusus.

"Saya punya tujuan "mau berbagi", karena itulah saya pakai konsep franchise agar bisa mendorong para pengusaha- pengusaha baru dengan modal terjangkau. Dengan modal terjangkau mereka bisa punya suatu usaha di bidang makanan yang dapat dikelola oleh perorangan atau badan hukum" terang ayah tiga anak ini.

Melalui sistem tersebut Rocket Chicken bisa tumbuh sangat cepat. Rocket Chicken telah berhasil membuka sekitar 128 cabang di berbagai wilayah di Indonesia. Jika dilihat total investasi, pewaralaba akan dikenakan biaya Rp.150 juta- Rp.160 juta itu belum biaya gedung.Terwaralaba akan dikenakan biaya Rp.20 juta dalam jangka waktu 5 bulan. Ia menarik fee 5% atau bagi hasil senilai 25% dan 75%. Ia meyakinkan setiap cabang akan menghasilkan omzet Rp.65 juta.

Ia memastikan waralaba miliknya lebih murah dibandingkan waralaba ayam goreng lain, terutama dibanding waralaba dari Amerika. Bisnisnya terbukti tidak cuma menjual konsep semata. Tapi menjual bukti dari kerja keras seorang Nurul Atik seperti yang kamu baca sekarang.

Artikel Terbaru Kami