Rabu, 29 Januari 2014

Resep Tempe Resep Miliarder di Negeri Orang

Profil Pengusaha Tempe Rustono



Siapa Rustono, cuma pria kelahiran Grobogan, Jawa Tengah ini, yang telah 16 tahun hidup di negeri orang. Istrinya bernama Tsuruko Matsumoto. Dia memiliki dua orang putri yang cantik- cantik. Keduanya bernama Noemi Kuzumoto yang terbesar dan Remina Kuzumoto adiknya berusia 13 tahun, beda dua tahun dengan kakaknya. Ia yang memilih hijrah ke Jepang akhirnya hidup bahagia. Bermodal membuat tempe, Rustono bisa berhasil mencetak namanya di Jepang.

Hanyalah seorang pendatang akan tetapi bukan pendatang biasa. Dia adalah seorang pengusaha. Ia sendiri tak pernah menyangka pertemuannya dengan sang istri akan menjadi cerita menarik. Dia yang lulusan dari Akademi Perhotelan Sahid pada tahun 1987, bekerja sebagai bell boy di Hotel Sahid Yogyakarta. Atau, lebih mudahnya, dia hanya bekerja mengantar dan melayani kebutuhan tamu. Bertahun bekerja di sana, ia pun jatuh hati kepada salah seorang wanita asa Jepang.

Dia lah Tsuruku Matsumoto kemudian dipersuntingnya di Indonesia. Tahun 1997, keduanya memutuskan berhijrah ke Kyoto, Jepang, tempat asal istrinya. Rustono sempat bekerja di beberapa perusahaan Jepang. Dia bekerja mulai dari perusahaan sayur- mayur hingga perusahaan roti dimana semuanya menuntut ketelitian dan tanggung jawab cukup besar dari para karyawannya. Saat itu, ketika menjadi pegawai, dia mulai belajar bagaimana berbisnis di negeri matahari terbit ini.

Dia melihat bagaimana etos kerja para karyawan cukup tinggi. Berkat pengalaman di berbagai industri inilah jiwa kewirausahaan itu muncul. Hati kecilnya terdorong agar membuka usaha yang belum pernah ada di Jepang. Terinspirasi produk olahan nato yang juga terbuat dari kedelai, ia lantas memilih berbisnis tempe. Meski keduanya sama- sama produk terbuat dari kedelai, keduanya memiliki cita rasa yang khas negara masing- masing.

Ayah dari Noemi Kuzumoto ini mencoba menekuni bisnis makanan dan pembuatan tempe. Sebenarnya dia memiliki sedikit sekali ilmu tentang bisnis tersebut, namun tekatnya telah bulat. Dia harus melewati fase trial and error dimana ia terus mencoba dan mencoba. Rustono menjalani pekerjaan tersebut kurang lebih selama empat bulan. Tak puas akan hasilnya, dia rela pulang ke Indonesia selama tiga bulan untuk belajar membuat tempe yang lezat dari 60 pengrajin tempe di seluruh Pulau Jawa.

Kuatnya tekad dan semangat terus belajar memproduksi tempe berbuah manis. Akhirnya Rustono berhasil membuat tempe yang lezat bermodal bantuan ragi dari Indonesia, dan memanfaatkan sumber mata air di sekitar kediaman mertuanya.

Bisnis kecil- kecilan


Setelah berhasil membuat tempe enak masih ada kendala lain menantinya di Jepang. Rustono berhadapan dengan ijin usaha yang terbilang cukup rumit di Jepang. Produknya perlu melalui serangkaian tahapan- tahapan penelitian dan tes akan kandungan produknya. Tak hanya itu iklim di Jepang ternyata tak bersahabat dimana kelembapan udara bisa mencapai kurang dari 60%. Proses fermentasi tempe secara alami tidak bisa maksimal sehingga dibutuhkan sebuah peralatan khusus.

Semua kendala menjadikan pelajaran berharga baginya di sana. Ia pun sukses menghadapi semua tahapan serta kendala tersebut hingga tempe Rustono mendapatkan ijin. Rustono telah berhasil mengantongi ijin dari pemerintah setempat sehingga produknya kini bisa diperjual belikan. Produk yang bermerek Rusto Tempeh itu dikemas secara sederhana namun steril. Produk yang kemasannya menggambarkan kehidupan kampung di Jawa itu kini laris manis.

Memanfaatkan kemasan produk 200 gram, sekarang ini kapasitas produksi Rusto Tempeh bisa mencapai 16.000 bungkus setiap lima hari. Ia akan memasarkan produk tempenya ini hampir ke seluruh penjuru kota di Jepang, baik di perusahaan jasa boga, rumah makan vegetarian, toko swalayan, sekolah-sekolah, hingga ke beberapa rumah sakit di Fukuoka. Karena menggunakan standarisasi berbeda dari tempat aslinya yaitu di Indonesia, Rusto Tempeh menjadi panganan sehat menyehatkan bagi warga Jepang.

Dari produksi tempe ditambah kerja kerasnya kini Rustono sekeluarga bisa hidup nyaman di negeri jauh. Ia bahkan sekarang mampu membangun pabrik berkapasitas besar di pinggiran hutan dengan mata air jernih. Pabrik baru tersebut luasnya mencapai 1.000 meter per- segi tersebut merupakan hasil kerja kerasnya kini. Ia semula hanya mengerjakan produk tempenya di rumah kecil bersama sang istri. Ia pun tak akan berhenti disana ketika jiwa kewirausahaan itu tumbuh terus.

Ekspansi bisnis


Dilansir Tribunnews.com, ia yang telah sukses berbisnis tempe, tengah memperlihatkan bagaimana rumah dan pabriknya bekerja. Rustono juga menyebut dirinya telah memiliki segepok rencana bisnis baru. Dia telah memastikan bisnis tempe di Jepang akan terus berjalan. Baginya kini ialah belajar kembali bagaimana agar berekspansi hingga ke berbagai negara lain. Kini ia tak hanya akan menjual tempenya di Jepang, tetapi juga sampai ke Korea, Meksiko, Hongaria, Perancis, dan Polandia.

Masih banyak negara lain lagi yang ingin ditembusnya. Agar bisnisnya itu kuat, ia telah mempersiapkan dua negara utama siap menjadi pasarnya. Mereka adalah negara Prancis dan Meksiko. Kedua negara tersebut juga telah dikenal akan masakan khasnya. Rustono telah mempersiapkan dua wanita yang mewakili negara keduanya. Mereka telah bekerja atau training cukup lama di pusat bisnisnya, Jepang.

"Biarlah urusan dalam negeri Jepang nantinya diatur keluarga saya, dan saya sendiri akan mencari tahu kesempatan bisnis ke negara lain," tekannya berkali- kali.

Ia baru saja membeli tanah seluas 4.000 meter persegi di dekat rumahnya seharga 6 juta yen. Lalu ketika dia bertanya kepada kontraktor berapa biaya membangun pabrik. Ia terkejut dengan angka yang ditawarkan itu mencapai 40 juta yen. Keramahan khas orang Indonesia itu masih ada, namun telah ditambah etos kerja yang tinggi khas Jepang. Baginya keberhasilan tempenya bukanlah tanpa kerja keras. Maka tak salah tidak hanya media Indonesia, media asal Jepang pun melirikanya sebagai sumber berita.

Tak disangka liputan media Jepang itu sampai kepada tetangganya yang berusia 80 tahun. Dia yang memiliki sebuah pabrik yang tak berjalan lagi mau membantu impian Rustono. Orang tua itu menjual kerangka- kerangka pabriknya seharga 50.000 yen. Saat wartawan Tribunnews.com berkunjung, ia sedang mengawai pabrik besar yang sedang dibongkar. Pabrik yang luasnya sekitar 18 meter x 6 meter tersebut akan menjadi pusat bisnis barunya. Dia berencana juga memasok tempe ke Indonesia.

Rustono memastikan dirinya telah siap diri untuk menjadi bos pabrik beru tersebut. Di Eropa sendiri, tempe produksinya dijual sekitar 1,7 euro, sedangkan di Jepang harganya 250 yen sebungkus.

Artikel Terbaru Kami