Kamis, 09 Januari 2014

Resep Egg Roll Sasha Kerja Sama Suami Istri

Profil Pengusaha Sukses: Muhammad Luthfi



Ketika pengusaha yang satu ini masih berkuliah di IAIN Sunan Kalijaga, tak jarang, ia menghadapi persoalan biaya kuliah. Seperti halnya mahasiswa lain terkadang uang kiriman tak kunjung datang. Muhammad Luthfi Yuniarto (36) harus terus memutar otak bagaimana kantunnya tetap terisi. Yakni melalui dia memulai usaha sendiri. Pertama kali, ia berbisnis dibidang kerajinan mengingat modal cekak dan prospek cukp bagus. Dari bisnisnya tahun 1996 itu, Luthfi cukup sukses melalui bisnis kerajinan bubut kayu.

Luthfi telah berhasil menembus pasar supermarket. Namun, hingga tahun 1998 terjadilah kerusuhan di Solo, beberapa supermarket di Solo dibakar massa ketika terjadi reformasi. "Kerugiannya lumayan besar, karena hampir semua produk saya konsentrasikan di Solo," ungkapnya. Ia tak mau menyerah karena kini hidupnya kala itu tak lagi sendiri. Suami dari Almuna Fasah Asyarifah (Ifah) ini lantas mencoba bangkit kembali. Dia lantas memilih berbisnis barang kerajinan lagi.

Apa yang dibuatnya? Ia membuat kain ATM dipadu batik. Konsumen banyak tertarik dengan produk satu ini. Jadilah bisnisnya kembali menggeliat setelah sempat diterpa badai di rumahnya Bedukan Pleret, Bantul.

Bisnis kuliner


Sayang, lagi- lagi nasib berkata lain, semangat kewirausahaan miliknya kembali diuji ketika gempa Bantul di Mei 2008. Bisnisnya yang sedang tumbuh harus hancur berantakan. Aset dan alat- alat produksinya hancur lebur, tidak bisa digunakan memproduksi lagi. Apapun yang terjadi di hidupnya, ia tetap tau pasti bagaimana cara menjalankan roda perekonomian keluarga. Luthfi kembali berbisnis (lagi), tapi terlebih dahulu dengan cara mengamati pasar untuk mencari bisnis lain.

Selama itu idenya tentang bagaimana berbisnis berubah. Dia sadar tak lagi masuk ke bisnis kerajinan, namun  bisnis kuliner tampak lebih mudah. Tangan dinginya teruji ketika membuka bisnis kue dan brownis bersama istrinya. Luthfi mampu membangun bisnisnya yang dimulai sejak gempa. Terus tumbuh sampai 2009, ia telah menerima ratusan pesanan kue atau brownis.

"Istri saya paling rajin mengumpulkan resep. Mungkin ada ribuan resep makanan yang disimpannya. Nah, untuk memulai usaha kuliner kita buka semua resep itu. Dan kita temukan beberapa yang bisa dicobakan. Jadilah kita bermain di roti basah untuk harian dan roti kering ketika menjelang Idul Fitri," ungkapnya ditemani sang istri.

Ia beruntung memiliki istri setia. Ifah begitu telaten membantu bisnis sang suami dalam bisnisnya. Dia juga ikut membantu membuat kue- kue kering saat lebaran tiba. Dan pada tahun 2010, Idul Fitri kemudian menjadi cerita tersendiri ketika keduanya berpikir keras membuat inovasi bisnis. Inovasi dirasa mereka sangat penting guna meningkatkan pendapatan serta kualitas produk. Mereka tertarik pada moment Idul Fitri, dimana bisnis kue menjadi begitu laris.

Ifah memang dikenal pandai memesak kue ikut menemukan bisnis kuliner ini. Dia lah yang menemukan sang Egg Roll, produk kue yang biasa dibuat olehnya. Namun ia menambahkan hal berbeda yakni bahan ubi ungu. Egg roll jika biasanya hanya berupa tepung terigu atau beras ketan, kemudian dicampu telur tentunya. Kini, ia membuat egg roll berbahan tambahan ubi ungu. Produk tersebut kemudian dikemasnya menjadi ciri khas olahan kuliner.

Tidak mudah, hari pertama, dia berusaha sangat keras mencampurnya agar sesuai diharapkan. Hari pertama hanya berhasil gagal. Gagal percobaan hari pertama, ia membuatnya lagi di hari kedua dan mulai terasa enak. Tapi hasilnya masih belum sesuai keinginannya. Ifah kembali mengolah si egg roll hingga tujuh hari berturut- turut. Dan, dia masih belum menemukan rasa apapun dirasa tepat. Hingga di hari kedelapan, dia menemukan rasanya ketika telah mencoba berbagai adonan.

Komposisinya kemudian menjadi resep utama produknya kini. Pada awalnya, produk egg roll tersebut diberi nama Sasha dijual dibungkus plastik. Kuenya lantas perlu mendapatkan perhatian lebih karena bungkus bisa menjadi aspek marketing bagus. Luthfi dan Ifah langsung memanggil desainer untuk membuat kemasannya. Hasilnya ada dua variasi kemasan yaitu kemasan besar dan kecil. Dua kemasan itu ternyata adalah strategi khusus yang disiapkan oleh si empunya produk.

Mereka menjual kemasan kecil ke toko- toko agar pengunjung bisa mencoba lebih dahulu. Sedangkan yang besar akan dibeli oleh mereka jikalau sudah langganan dan membeli untuk dijadikan oleh- oleh. Soal jalur distribusi juga dipikirkan baik- baik olehnya, namun keduanya belum memakai jasa siapapun. Mereka hanya memberdayakan teman- teman dekat dan kenalannya sebagai distributor ke berbagai toko roti di sekitar Yogya. Egg Roll Sasha kemudian dibuat khusus menjadi kue oleh- oleh.

Ini bisa berarti jika ke Yogya tidak akan lengkap tanpa produk khas Yogya, Egg Roll Sasha. Selain rasanya memang berbeda, nilai gizi produk ini menjadi nilai tambah sekaligus aspek promosi bagi keduanya. Luthfi memang dikenal bertangan dingin mampu menjadikan karya sang istri menjadi olahan nomor satu. Keduanya bekerja sama membangun bisnis Egg Roll Sasha dari nol, dimana dibuat dengan cara sederhana.

Artikel Terbaru Kami