Kamis, 12 Februari 2015

Quantum Magna Financial Your Financial Planner


Biografi Ligwina Poerwo Hananto


Ligwina Poerwo Hananto, bagi beberapa orang pasti nama ini akan asing didengar. Namun, jika kamu biasa mengikuti acara sebuah setasiun televisi, kamu akan mengenalinya langsung. Menjadi perencana keuangan sebenarnya bukanlah cita- citanya. Ia lebih tertarik menjadi bankir. Pada Januari 1999, selepas kuliah dari jurusan Finance and Marketing di Curtin University of Technology, Perth Australia, dia langsung memilih bekerja di Hongkong Sanghai Bank Corporation (HSBC) Bandung.

Posisinya kala itu adalah costumer service.

"Saya menikmati pekerjaan saya ini karena bisa belajar banyak tentang cara menghandle klien," jelasnya. Ia terpaksa berhenti dari pekerjaan ini, karena harus menikah dengan Doni Hananto. Aturan perusahaan untuk melarang sesama pegawai menikah membuatnya berhenti. Tak betah menganggur, dalam empat bulan ia telah bekerja di sebuah perusahaan periklanan sebagai media planer. Di tempat baru ini, Wina mendapatkan pelajaran bagaimana mengatur uang klien yang ingin beriklan.

Awal Karir


Sang suami, Donny kemudian memintanya berhenti bekerja ketika mengandung anak pertama. Dia mengikuti saran sang suami, mesti berat hati meninggalkan pekerjaan. "Saya merasa kehilangan identitas ketika berhenti bekerja. Tapi karena rasa hormat kepada suami saya berhenti," lanjutnya. Ketika anaknya lahir, ia tak lantas melupakan identitasnya. Dia kembali bekerja setelah dirasa tepat. "Saya suka sekali 24 jam bersama anak- anak, tetapi saya ingin lebih dari itu."

Suaminya memberikan lampu hijau namun dengan satu syarat: dia harus benar- benar menyukai pekerjaan itu dan bisa mengatur waktu. Berbagai usaha telah dilakoni, namun selalu gagal. Hingga ia terpikir untuk menjadi konsultan keuangan. Ini terjadi di akhir 2002, "Pada waktu itu gue dirumah, pekerjaan udah selesai dan anak-anak udah tidur sedangkan suami belum pulang. Yang gue kerjakan adalah menghitung prospek keuangan keluarga di depan komputer," katanya.

Dia menemukan mengelola keuangan itu ternyata sulit. "Wah, gila, anak-anak bisa putus sekolah kalau cara kita mengelola keuangan Cuma kayak begini," ucapnya. Ia menerangkan contohnya di 2001, saldo keuangan rumah tangga tinggal Rp.119.200. Padahal, kala itu sang suami dan dirinya bekerja dan gajinya selalu naik setiap tahunnya. Mereka juga belum punya anak. Kalau saja Wina bisa merancang keuangan matang, uang tabungan tersebut bisa saja lebih ketika sang anak lahir.

Dia tegus memutuskan menjadi perencana keuangan. Alasannya menjadi perencana keuangan ialah menjadi bisnis, juga membantu merancang keuangan sendiri. Suami mendukung hal ini namun harus belajar lagi secara formal. Wina harus menunjukan bekal yang cukup untuk menjadi perencana keuangan. Ia kemudian langsung melanjutkan kuliah di IPMI Business School Jakarta pada Februari 2003, mengambil megister menejemen.

Masuk bisnis


Wina mulai mengambil ponselnya lalu mengirim 100 pesan pendek ke beberapa teman. Dia kini mencoba memulai bisnisnya yaitu konsultan keuangan. "Dari 100 sms yang dibalas empat. Dari empat itu ngetawain dan satu menjadi klien," ingatnya. Klien itu bernama Arief Winarto, seorang bassis band Ten2Five. Sejak itu dirinya resmi terjun ke bisnis ini. Pengalaman pertama ialah kepercayaan menjadi hal terpenting di bisnisnya kini.

"Orang mau mempercayakan keuangannya kepada saya karena mereka percaya kepada kredibilitas saya," terangnya.

Ia pun terus melangkah hingga klien kedua datang. Donny, suaminya sendiri kemudian jadi klien keduanya. "Itu suami saya," katanya sambil tertawa.Setelah berjalan waktu ia menemukan fakta bahwa mendapatkan klien sangatlah sulit. Perempuan kelahiran Bandung, 3 Mei 1976, ini tidak patah semangat, ia terus mencoba meyakinkan orang maski sulit. Total kliennya sejak 2003 sampai 2005 hanyalah enam orang. Barulah di 2006, kliennya bertambah menjadi 13 orang,

"Satu teman suami dan sisanya 11 sepupu semua." katanya diikuti tawa terbahak- bahak.

Tiga tahun bisnisnya berjalan tidak ada tanda- tanda bersinar. Ia pun mulai mengevaluasi diri agar semakin baik. Wina berkesimpulan bisnisnya butuh lebih banyak promosi agar dirinya dikenal orang. Pada Juni 2006, ia mulai mengisi acara di stasiun Hard Rock FM tentang perencanaan keuangan. Dia juga membuka usaha Quantum Magna Financial, saat itu belum berbadan hukum. Dari bulan ke bulan, Wina semakin dikenal akan gayanya yang ceplas- ceplos terhadap produk investasi.

"Kalau produk A jelek maka akan saya bilang jelek begitu pula sebaliknya," tuturnya.

Bisnisnya mulai nampak bersinar terang di sisinya. Klien semakin banyak datang ke kantor. Wina kemudian menjadikan status Quantum Magna Financial berbentuk PT di 2006. Ia kemudian menjadi CEO perusahaan tersebut. Dari kantornya di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, ibu dua anak ini, yaitu Muhammad Azra Hananto dan Nadir Aisha Hananto itu mengendalikan bisnisnya. Quantum Magna Financial telah memiliki sekitar 350 klien, 40 orang ditangani langsung dan sisanya ditangani pegawainya.

Klien perusahaan ini rata- rata merupakan mereka dari kelas menengah. Mereka yang bergaji diatas 10 juta. Ia juga mempekerjakan 27 pegawai dari financial planner, customer relation officer dan staf. Perusahaan ini memiliki fokus pada perencanaan keuangan keluarga, sedangkan kebanyakan perencana hanya melakukan seminar atau pelatihan. Baginya menjadi perencana keuangan tidak melulu tentang uang, namun membantu orang lain.

Selain kuliah, Wina mengambil beberapa pelatihan khusus secara formal agar bekal itu semakin matang. 

Dia memiliki moto "Life is about learning" membuatnya berpikir akan selalu ada orang yang lebih pintar. Jadi ia pun bersiap menjadi yang terbaik. Ia pun kini telah memegang sertifikat Financial Planning Standards Board, Certified Wealth Manager Association, dan International Association of Registered Financial Consultant. Di 2009, ia pernah masuk menjadi finalis Australian Alumni Award bidang kewirausahaan dan Tupperware She Can Award.

Artikel Terbaru Kami